SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaNovember 3, 2007 4:44 pm

Target Juara Umum Dianggap Realistis

JAKARTA—Meski gagal total dalam kejuaraan dunia di Malaysia pekan lalu, cabang pencak silat tetap diprediksi bakal menjadi juara umum di SEA Games mendatang. Alasannya, atlet yang bertanding di dua kejuaraan tersebut berbeda.

Menurut pelatih Indro Catur Haryono, meskipun secara teknis kemampuan mereka tidak berbeda jauh, tim yang dipersiapkan berangkat ke SEA Games lebih senior dan menjalani pemusatan latihan lebih lama.

"Mereka menjalani pelatnas selama lebih dari tiga bulan dan sebagian besar atlet yang turun adalah atlet senior yang sudah sering turun di kejuaraan-kejuaraan dunia," kata Indro di Padepokan Pencak Silat Jakarta, Rabu malam lalu.

Dikatakan Indro, pihaknya sudah mengetahui kekuatan pesaing terberat, yakni Vietnam. Selain itu, ia sudah menyiapkan strategi khusus untuk mengalahkan juara umum dalam kejuaraan dunia tersebut.

Dengan formasi tim yang ada sekarang, Indro optimistis Indonesia bakal melakukan sapu bersih di SEA Games nanti.

Taslim Azis, pelatih tim lainnya, mengatakan tim pelatih sudah mempelajari penyebab kegagalan Indonesia dalam kejuaraan dunia dan memperbaiki kesalahan itu agar tidak terulang di Nakhon Ratchasima.

Menurut Taslim, salah satu kelemahan pesilat Indonesia ada pada daya tahan fisik. Untuk itu, timnya mendapatkan bantuan dari anggota Komando Pasukan Khusus, Misirin, yang pernah mendaki Gunung Everest di Nepal beberapa tahun lalu.

"Dengan masuknya Pak Misirin dalam tim, mereka tidak hanya mendapatkan penggemblengan fisik, tapi juga peningkatan disiplin," kata Taslim.

Dalam SEA Games nanti, Indro yakin para pesilat Indonesia akan mampu bermain baik karena sepanjang tahun ini mereka berhasil memenangi beberapa kejuaraan, antara lain sebagai juara umum Singapura Terbuka dan Belgia Terbuka.

Sebanyak 14 atlet bertolak ke Beijing, Cina, untuk menjalani latihan dan uji coba. Mereka akan berlatih di University of Shanghai hingga 27 November mendatang. Setelah itu, mereka akan langsung bertolak ke Nakhon Ratchasima, Thailand.

 

Oleh : MUSLIMA HAPSARI

 Koran Tempo

Sketsa 4:43 pm

Beban Berat di SEA Games

Peta kekuatan tiap-tiap negara sudah terlihat.

Seandainya saja Engkong Goning, R.H. Ibrahim, ataupun Syekh Kumango masih hidup, mungkin mereka akan sedih melihat hasil yang diraih para pesilat Indonesia dalam kejuaraan dunia pencak silat yang berlangsung di Pahang Darul Makmur, Malaysia, yang berakhir Kamis lalu.

Mereka—Goning, Ibrahim, dan Kumango—adalah tiga di antara sekian banyak guru sekaligus pencipta jurus-jurus seni bela diri pencak silat yang terlahir di Tanah Air. Namun, kini pencak silat sebagai salah satu warisan luhur budaya bangsa ternyata sudah tidak seutuhnya milik bangsa ini.

Dulu para pesilat dari Malaysia, Vietnam, Thailand, ataupun negara-negara Eropa berguru di Indonesia untuk memperdalam ilmu seni bela diri ini. Indonesia dianggap sebagai kiblat pencak silat. Indonesia adalah tempat asal lahirnya pencak silat. Karena itu, mereka berbondong-bondong berilmu di sini.

Tujuh tahun lalu, para pesilat Indonesia masih mampu menunjukkan siapa guru dan siapa murid. Kala itu, dalam kejuaraan dunia di Jakarta, para pesilat Indonesia berhasil melakukan sapu bersih dengan merebut 14 medali emas dan dua perak tanpa perunggu. Para pesilat Indonesia tak terkalahkan.

Sayangnya, itulah terakhir kali mereka berjaya. Setelah itu, prestasi para pesilat Indonesia terus merosot. Dalam kejuaraan dunia 2002, giliran "sang murid" Vietnam yang mulai unjuk gigi. Mereka tampil sebagai juara umum dengan mengoleksi 10 medali emas. Indonesia di peringkat kedua.

Setelah itu, para pesilat Vietnam seolah tak tertandingi, bahkan oleh "sang guru". Begitu pula dalam kejuaraan dunia ke-13 di Malaysia lalu, Vietnam mampu mempertahankan dominasi mereka dengan tampil sebagai juara umum. Indonesia hanya berada di urutan keempat dengan peraihan dua medali emas. Jauh dari target 10 emas.

Banyak yang meleset dari prediksi. Baik nomor seni, tunggal, ganda, maupun kelompok putra dan putri biasanya merupakan langganan penyumbang medali emas. Tapi, kini, tak satu pun medali emas mampu mereka rebut. Hanya satu perak dan tiga perunggu yang mereka bawa pulang.

Persiapan yang kurang kerap dituding sebagai biang kegagalan yang dialami para pesilat Indonesia. Bandingkan dengan Vietnam, yang menghabiskan waktu selama dua tahun penuh untuk mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan ini. Itu yang selalu mereka lakukan.

Para pesilat Vietnam hanya diberi waktu dua bulan untuk beristirahat pascakejuaraan. Setelah itu, mereka kembali masuk pemusatan latihan. Bandingkan dengan para pesilat Indonesia, yang hanya menghabiskan waktu satu bulan untuk pelatnas. Itu pun dilakukan di bulan Ramadan ketika kondisi fisik para atlet sedang tidak maksimal.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kejuaraan dunia lalu. Pencak silat kini sudah tidak bisa dianggap sebagai olahraga eksklusif milik bangsa ini. Pencak silat telah mendunia dan kekuatan dari negara lain, termasuk Eropa, kian rata.

Sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada Desember mendatang, peta kekuatan tiap-tiap negara sudah terlihat. Kegagalan di Malaysia harus menjadi cambuk bagi para pesilat Indonesia untuk bangkit.

SEA Games adalah momen yang tepat untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah "sang guru" pencak silat. Dan para pesilat Indonesia masih memiliki waktu satu bulan untuk mematangkan diri, terutama dari sisi mental. MUSLIMA HAPSARI

 

oleh : MUSLIMA HAPSARI Koran Tempo