SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

April 30, 2007

Mari menulis

Filed under: Sketsa

Andaikan pesilat rajin menulis kami rasa tidak perlu lagi sulitnya mencari data tentang pencak silat di Indonesia, di Jakarta saja masih sangat sedikit anggota silat yang menuliskan tentang pencak silat yang di ikutinya.

Salah satu kendalanya adalah beberapa perguruan memang enggan silsilahnya diketahui oleh umum karena privasi perguruannya sangat ketat, ada juga yang memang takut rahasianya diketahui oleh umum dan berbagai alasan lainnya.

Tapi bagi anggota koresponden silatindonesia.com hal ini sudah menjadi biasa, ada yang menerima dengan baik bahkan mendukungnya, dan ada pula yang sebaliknya, yaitu menolak mentah-mentah. Tapi pada umumnya perguruan dengan sukarela membantu mendokumentasikan walaupun baru batas tulisan yang sifatnya masih sangat umum, proses dokumentasi yang dilakukan memang tidak detail, karena keterbatasan waktu, yang terpenting ada data yang dapat dipertanggungjawabkan yang nantinya akan sangat berguna bagi komunitas pencak silat Indonesia.

Situs silatindonesia.com memang belum memiliki koresponden tetap, apalagi yang khusus menulis tentang kegiatan maupun informasi tentang silat di Jakarta maupun dikota-kota lainnya, padahal bila ada koresponden tetap yang mewakili suatu daerah kami rasa berita tentang pencak silat ataupun liputan silat yang berkembang di suatu daerah akan menyemarakkan kegiatan silat di tanah air, karena kita lebih benyak menjadi pembaca setia dibandingkan menjadi penulis setia.

Memaksa orang untuk menulispun tidak mungkin dilakukan, akan tetapi sebaiknya ada sedikit yang bisa kita sumbangkan untuk komunitas kita ini, karena sejak awal kami ingin sekali mengajak rekan-rekan lainnya untuk aktif, sayangnya semakin banyak anggota komunitas ini akan tetapi tidak menambah jumlah tulisan yang masuk yang dibuat oleh anggota komunitas, mungkin sebaiknya jangan hanya sekedar menjadi pengamat akan tetapi mari berbuat lebih nyata, walaupun tulisan anda tidak dibayar dengan uang.

April 22, 2007

Perguruan pencak silat bisa hidup bersama

Filed under: Sketsa

Kalau melihat peta penyebaran pencak silat khususnya di Indonesia, pada dasarnya masih cukup kuat dan eksistensinyapun masih ada, walupun dalam kenyataan yang kita lihat begitu redupnya kegiatan pencak silat yang sampai-sampai nampak begitu jenuh. Hal ini ada beberapa factor utama yang mendasari keredupan dunia pencak silat antara lain :


Melupakan fungsi utama pencak silat
Siapapun mengenal silat sebagai ilmu beladiri tradisional, yang selama ini oleh IPSI dikemas menjadi bagain dari olahraga prestasi, sehingga dominasi silat lebih berorientasi pada sportnya saja, sehingga terlupakan fungsi beladiri yang sesungguhnya. IPSI sendiri menyadari hal ini namun untuk tujuan kompetisi olahraga prestasi dalam pencak silat akan menumbuhkan semangat pelajar dan mahasiswa untuk mengenal pencak silat.

Melupakan akar beladiri tradisional
Banyak orang menilai silat tradisional seperti melihat tari-tarian yang seolah bukanlah olahraga beladiri murni, salah kaprah ini memang mendasar, karena hampir sebagian besar silat tradisional beladiri praktisnya tidak dapat dipertandingkan khususnya dalam aturan main di IPSI, jadi Seninya saja yang diangkat menjadi bagian dari silat tradisional. Padahal kebanyakan beladiri tradisional secara fakta dan data memiliki beladiri yang dapat disejajarkan dengan beladiri impor sekalipun, sayangnya tidak semuanya dapat digali dan diperlihatkan.

Egoisme dan Fanatisme perguruan.
Fanatisme sesungguhnya menjadi hal wajib bagi pesilat untuk mengenal asal-usulnya (jatidirinya) hampir semua pesilat lahir dari perguruan besar maupun kecil. Dan melalui fanatisme ini diharapkan pesilat mempu mengoptimalkan apa yang didapat diperguruannya dan menjadi dasar baginya mengenal pencak silat secara umum.

Sayangnya fanatisme yang tumbuh malah menjadi boomerang bagi pencak silat secara keseluruhan, misalnya saja, sifat Ego dalam diri pesilat yang susah menerima atau di ajak kerjasama dengan perguruan lain, seolah ada tembok yang membatasi geraknya,

Yang sering ditemui adalah ketertutupan terhadap dunia luar, tidak bisa atau tidak mau bekerjasama dengan perguruan lain karena merasa perguruan lain adalah saingannya atau musuhnya.

Dan masih banyak lagi lainnya, seperti seorang wasit yang akan berat sebalah bila yang bertanding adalah satu perguruannya, Manusiawi memang, tapi apakah itu tujuan fanatic yang diajarkan? Kami rasa bukan. Karena ini akan menurunkan rasa kepercayaan kepada pencak silat.

Lalu bagaimana seharusnya berbuat untuk kemajuan pencak silat bersama, tentunya masing-masing perguruan mengajarkan bagaimana agar pesilatnya mampu memiliki rasa rendah hati, dan berwawasan luas, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan tidak hanya mencintai perguruannya kerana fanatic semata, tapi bagaimana mencintai silat sebagai bagian dari kecintaannya, sehingga tidak ada lagi rasa menutup diri atau susah bila diajak bersama-sama membagun pencak silat tanpa melihat identitas perguruan pesilat lain.

Andaikan seluruh pesilat mampu diajak bekerjasama maka tidak ada lagi kata “kepentigan perguruan” karena perguruan sesungguhnya adalah jalan dimana pesilat mengenal dunia yang sesungguhnya. Dan bila Sumber daya ini dapat menetralisir dalam sebuah organisasi maupun komunitas, maka kekuatan pencak silat lebih maju dibandingkan hanya satu perguruan besar yang hidup sedangkan yang lainnya musnah tanpa bekas. Mengapa? Karena kita masih memikirkan bagaimana agar perguruan kita hidup, bukan lagi berfikir bagaimana pencak silat bisa hidup bersama.

April 21, 2007

Pencak Silat seni beladiri atau sport

Filed under: Sketsa

Oleh : O’ong Maryono
www.kpsnusantara.com

Menyangkal sebuah pendapat jika kesuluruhan penduduk di tanah air tidak mengenal ilmu beladiri peninggalan nenek moyangnya yang tersebar di kawasan Nusantara.

Pencak Silat bukanlah ceritera baru , semenjak zaman perjuangan kelompok–kelompok maupun secara perseorangan pemuda dan pemudi dalam menentang penjajahan kolonial Belanda , hingga saat ini terus mempelajari dan mengembangkan ilmu beladiri ini.

Memang kawasan orang banyak secara terinci tidak banyak mengenal kandungan dan perkembangan pencak silat secara menyeluruh. Pencak silat pada awal mulanya kita kenali sebagai perwujudan ilmu beladiri praktis dan seni pertunjukan.

Di daerah Jawa Barat kesenian ini , dipertunjukkan sebagai hiburan mana kala keluarga hendak megadakan upacara hitanan anak lelakinya, Masyarakat Betawi pula mempertunjukan seni beladiri khas Betawi dalam acara “buka palang pintu” saat upacara pernikahan adat Betawi berlangsung.

Masyarakat Madura mempertontonkan kebolehan pencak silat dalam area pada malam arisan kifayah yang biasanya diadakan setiap malam minggu.

Masyarakat Bugis memainkan manakala saat terang bulan di tepi pantai dan masyarakat Minangkabau saat pesta menuai padi dan pesta pengangkatan datuk dalam susunan pongawa nagari.

Sebagai selingan disajikan pula pertunjukan ilmu ilmu kanuragan Tentunya masih banyak lagi dalam rangkaian pertunjukan pencak silat di daerah daerah
lainnya yang serupa seperti diatas.

Menelurusi penyebaran seni beladiri pencak silat dari daerah daerah yang memiliki aliran pencak silat yang terkait dengan tradisi sehari-hari , merembah keseluruh kawasan kepulauan Nusantara dan pencak silat tumbuh menjadi persilangan teknik dan budaya yang membentuk teknik tradisi baru.

Keawaman pemirsa pencak silat, tidak boleh nampak lagi asal muasal dari daerah dan aliran berasal.

Beranjak tahun 1973, karena tuntutan tumbuh suburnya perkembangan beladiri asing yang datang dari Jepang, setara waktu tenggelamnya minat pemuda akan seni beladiri peninggalan nenek moyang, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) mencoba bangkit tuk menjawab tantangan zaman, dengan mempertandingkan pencak silat sebagai olahraga diperingkat nasional hingga regional dan bangkan keseluruh dunia.

Tumbuh subur pencak silat sebagai cabang olahraga primadona hingga ahir tahun 90 an hingga pejalanan berikutnya menapak jalan sampai jatuhnya impian di tahun 2000 , dominasi sangjuara sebagai negara pendiri pencak silat dikalahkan oleh team pencak silat Vietnam (ISAVIE).

Disela-sela waktu tuk mewujudkan impian kejayaan pencak silat hingga dapat dipertandingkan diperingkat Asian Games bahkan Olympiade , para tokoh dunia persilatan terlena dengan aspek lain dari pada pencak silat.

Pencak silat beladiri dan seni yang tersisih tidak mengenyam kejayaan seperti pencak silat olahraga , karena kurang mendapat sentuhan perhatian, aliran atau perguruan pencak silat traditional terhempas dari percaturan perkembangan di tanah air Banyak jumlah aliran atau perguruan yang tidak dapat mengikuti derap lajunya perkembangan pencak silat olah raga, terkesok dan mati.

Memantau perguruan/aliran pencak silat betawi sebagai tolak ukur banyaknya jumlah aliran/pergruruan secara nasional. Perguruan yang tersisa tinggal 25% yang masih aktif. Keberadaan pencak silat yang sangat mengawatirkan ini membuat risau pendekar pendekar muda ataupun pemerhati beladiri lainnya.

Secara sporadis tumbuh dikalangan pemuda-pemuda yang memiliki latar belakang disiplin ilmu beladiri yang berbeda-beda, untuk duduk berkumpul memikirkan keadaan yang tak elok dirasakan.

Bagai mengumpulkan tulang belulang yang berserakan untuk besama manata kembali dengan mengadakan forum diskusi pelestarian, promosi, publikasi, dukumentasi serta mengadakan pelatihan dengan kuntribusi bersama.
IPSI selaku organisasi yang memayungi pencak silat , juga berupaya untuk menumbuh hidupkan kembali pencak silat tradisional yang sudah ditinggalkan kaum generasi muda, dengan mengadakan festival pencak silat traditional 2005 di Cibubur, tentu harapan ini tidak semudah seperti yang kita harapkan.

Banyak perguruan pencak silat tradisional, seusai festival kehilangan kembali murid-muridnya , para pelatihnya juga kembali berpacu dengan kehidupan yang keras dan harus digeluti.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul tentang, penyebaran pencak silat perlu sebuah pendekatan agar dapat menutupi kesenjangan diantara perguruan-perguruan pencak silat dan sekaligus meningkatkan kwalitas sesuai dengan kondisi setempat.
Oleh karena itu yang diperlukan adalah “dual approach” atau pendekatan ganda:

Untuk perguruan-perguruan besar dimana, perguruannya sudah dapat menyebar dengan sendirinya, yang perlu diutamakan oleh pihak IPSI adalah bimbingan untuk dapat meningkatkan kwalitas pesilat dan organisasinya.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, perlunya perguruan tradisional dan pencak silat aliran, mengirimkan pelatih-pelatih yang berkwalitas, untuk dapat mengadakan pelatihan peringkat nasional secara teratur bekerja sama dengan organisasi nasional setempat.

Materi pelatihan juga harus sistematis dan bervariasi. Pengetahuan pesilat dan pelatih perlu ditambah terus-menurus dengan memberikan jurus-jurus baru tidak terbatas pada jurus tunggal, ganda dan beregu semata.

Dalam meningkatkan paket pelatihan kita bisa belajar juga dari Vietnam. Metode kepelatihannya sebetulnya sederhana, seperti layaknya yang dilakukan oleh tim Indonesia, meningkatkan kekuatan, kecepatan dan ketepatan.

Yang berbeda, acapkali mengundang pakar beladiri lain untuk berdiskusi memecahkan persoalan tim pencak silatnya dan mengkaji peta kekuatan lawan yang akan dihadapi dan memprediksikan perubahan dan perkembagan teknik lawan melalui media video.

Hasil dari diskusi diimplimentasikan dalam bentuk cara melatih dengan alat-alat bantu.Pendekatan individual diterapkan dengan rincian tabel dan data base agar perkembangan program latihan dapat dimonitor dengan baik dan tepat.

Prioritas akhir dari program ini meningkatkan “timing in fight” dengan memperbanyak latihan sabung dan studi kasus. Menarik diamati adalah dukungan dari semua pakar disiplin ilmu untuk kemajuan pencak silat Vietnam.

Model yang komprensif ini mungkin menarik untuk diadopsikan dan dikeembangkan dan disebarkan ke keseluruh perguruan-perguruan lain, agar pencak silat dapat tumbuh dengan baik.

Selain pelatihan teknis juga perlu diberikan seminar untuk menjelaskan pencak silat dari perspektif budaya dan sejarah agar orang dapat mengerti pencak silat secara keseluruhan.

Penyebaran informasi harus dihidupkan lewat berbagai macam media termasuk buku, majalah pencak silat, video, membuat web site dan menghidupkan forum diskusi, agar orang lama kelamaan tahu yang mana informasi yang benar dan yang mana yang salah.

Untuk perguruan yang pesilatnya belum maju kita harus fokus mencoba memperkenalkan kembali pencak silat dan membantu mendirikan atau menghidupkan kembali organisasi pencak silat keperingkat daerah hingga nasional. Ikatan Pencak Silat Indonesia perlu mendekati pemerintah daerah, supaya perkembangan pencak silat juga mendapat dukungannya.

Jika pemerintah daerahnya sangat miskin perlu juga diberikan insentif tertentu agar tidak terlalu berat mengeluarkan biaya pada awal mulanya. Sebetulnya KONI dan DIKBUT seharusnya juga dapat membantu mempromosikan kegiatan pencak silat sebagai bagian dari tanggung jawabnya, namun sayang jarang terjadi, atau jika terjadi hanya untuk keperluan sesaat.

Di sini PB.IPSI perlu pula mengadakan pendekatan kepada departemen-departemen terkait. Agar pencak silat terintegrasi dalam kegiatan mereka. Untuk mempromosikan pencak silat, kiranya kita juga harus dapat mengirimkan tim demo dari pusat.

Sebaiknya pula dikembangkan satu kit dengan semua informasi dasar tentang pencak silat termasuk teknik dasar pelatihan dan olah-raga agar bisa dipakai sebagai referensi oleh pelatih dan atlit yang baru mengenal pencak silat, jika perlu dalam bahasa lokal agar mudah dimengerti.

Video tuntunan berlatih sangat penting untuk memudahkan pemahaman dan nyebaran pencak silat di daerah yang masih kurang mengenal pencak silat.

Banyak lagi usulan-usualan yang bisa ditambah di sini, namun yang kita perlu bicarakan bersama adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri dalam melakukan tugas yang begitu compleks ini.

Semua rencana ini tidak akan dapat jalan jika kita tidak mampu melakukannya. Oleh karena itu yang paling mendesak untuk menjawab tantangan adalah meningkatkan SDM insan pencak silat Indonesia sendiri. Marilah kita memikirkan bersama di mana kita akan mulai….

SELAMAT BERJUANG

April 16, 2007

Kerja Sama Upaya Lestarikan Silat Tradisional

Filed under: Liputan

Gelak tawa terdengar dari aula latihan terbuka di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia, Sabtu pekan lalu. Sekitar 50 orang berdiskusi sambil duduk bersila menyantap hidangan sup dan ayam goreng.

Para sepuh aliran silat tradisional yang hadir antara lain O’ong Maryono (KPS Nusantara), Babe Ali Sabeni (aliran Sabeni), Haji Aceng (Cikalong), Tb. Bambang (Cingkrik Goning), dan Bambang S. (Marguluyu Pusat).

Namun, bintang pertemuan kali ini adalah Presiden Persekutuan Pencak Silat Antar-Bangsa (Persilat) Eddie M. Nalapraya, mantan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Hari itu, Eddie bertemu dengan anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Silat. Komunitas inilah adalah nama baru dari Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia.

“Kami sengaja meluncurkan nama itu sebagai sarana kampanye program,” kata Sekretaris Forum Ian Samsudin.

Dalam pertemuan tersebut, Komunitas Sahabat Silat memaparkan beberapa pencapaian forum dan diakhiri dengan penampilan dokumentasi kegiatan forum selama setahun terakhir.

“Dengan dana dari kocek kami sendiri dan kerelaan untuk menyisakan waktu luang, kami nyatanya bisa mencapai hasil yang lumayan,” kata Alda Amtha, aktivis Sahabat Silat.

Pencapaian penting adalah dimuatnya tulisan tetap tentang silat tradisional di Koran Tempo pada edisi akhir pekan dan penayangan silat tradisional di program Sisi Lain di Trans TV.

Selain itu, masih ada pencapaian melalui aktivitas di mailing list silatindonesia@yahoogroups.com dan situs www.silatindonesia.com.

Yang menarik, data statistik menggambarkan aktivitas situs silat indonesia, hingga Maret, mencatat 75 artikel aktif dengan rata rata page view 790 dan hit sebesar 5.290 per hari. “Artinya ada 5.000 lebih orang yang menengok situs ini setiap hari,” kata Kiki Noviandi, salah satu aktivis Sahabat Silat.

Ini adalah data statistik yang sangat baik untuk sebuah situs, khususnya silat. Tak mengherankan jika google.com memberi satu bintang kepada situs ini dengan status cool site alias situs yang oke.

“Dalam jangka waktu dekat kami akan mengusahakan situs bilingual sehingga bisa diakses dalam bahasa Inggris,” katanya.

Eddie sendiri mengaku terkejut akan aktivitas Komunitas Sahabat Silat dan mengungkapkan rasa bangganya pada semua kiprah yang telah dilakukan.

Secara spontan Eddie menyatakan seolah-olah mendapatkan suntikan darah segar. “Saya merasa tidak lagi sendiri dalam usaha mengembangkan pencak silat di Tanah Air.”

Tidak mengherankan bila Eddie langsung bersedia untuk diangkat menjadi penasihat forum. Selain itu, ia juga meminta Sahabat Silat memfasilitasi beberapa kegiatan Persilat dalam mengangkat aspek seni pencak silat, seperti rencana penyelenggaraan acara Kontes Pendekar Indonesia di TVRI.

Oleh : AMAL IHSAN ( Koran Tempo)
Edisi : Minggu, 15 April 2007

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main