Jakarta, Kompas – Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia atau Pesaka menjadikan pencak silat sebagai olahraga negara mereka yang sudah tertuang dalam Garis Besar Haluan Negara Malaysia.

Sebagai langkah selanjutnya, tegas Presiden Pesaka Datuk Sri Utama Mohamad bin Haji Hasan yang ditemui di ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (14/1) petang, Pesaka dan Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) akan mempersiapkan kurikulum pencak silat yang kelak akan diajarkan mulai dari siswa di tingkat sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi.

Selain Presiden Pesaka, tampak Presiden Persilat Eddie Marzuki Nalapraya yang ikut mengantar rombongan Pesaka yang akan kembali ke Malaysia.

“Kami berharap dalam dua tiga bulan ke depan Pesaka dan Persilat mampu membahas dan menentukan kurikulum pencak silat yang baku dan bisa dipergunakan di mana pun. Kemudian pada bulan Juni mendatang, pada awal tahun ajaran baru, saya berharap semua sekolah dan perguruan tinggi di Malaysia sudah memiliki pelajaran seni pencak silat,” tutur Datuk Sri Utama Mohamad bin Haji Hasan yang juga Menteri Besar Negeri Sembilan.

Masuknya seni bela diri pencak silat dalam Garis Besar Haluan Negara Malaysia, serta dijadikannya seni bela diri pencak silat sebagai salah satu pelajaran wajib mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi, karena satu hal penting. Menurut Mohamad, semua petinggi di Malaysia sadar bahwa hanya seni bela diri pencak silatlah satu-satunya warisan budaya Melayu.

Melestarikan

“Siapa lagi yang harus melestarikannya, selain kita. Orang Asia sendiri, baik itu mereka yang berada di Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Vietnam, maupun di negara Asia lainnya,” kata Mohamad dari Perguruan Gayung.

Lebih-lebih, kata Mohamad, dalam arus globalisasi, di mana banyak ragam olahraga, termasuk bela dari, dari negara lain banyak yang masuk. “Tentu sebagai rumpun yang besar, kita tidak boleh hanya menerima, tetapi kita juga harus mampu mengekspor kekayaan seni budaya bela diri kita sendiri,” katanya. (NIC)