Pentingnya Agenda Pencak Silat
Pentingnya Agenda Pencak Silat
By : Korano Nicolash LMS
Mereka yang sudah puluhan tahun berada dalam berbagai organisasi olahraga, termasuk seni bela diri pencak silat, sudah tentu akan merasa mampu membuat kalender kegiatan organisasi mereka untuk satu tahun penuh. Pasalnya, dari tahun ke tahun, hal yang sama dapat dipastikan selalu mereka lakukan.
“Mengapa penontonnya kok sepi ya? Apa memang pencak silat sudah tidak lagi disukai anak-anak muda? Atau karena memang tempatnya terlalu jauh, di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia yang terletak dekat Kompleks Taman Mini Indonesia Indah ini?” tutur Djoko Laksono, salah satu anggota Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) periode 2004-2007.
Tentu saja, jawaban atas pertanyaan itu perlu diskusi yang memakan waktu. Djoko jelas tak mengharapkan jawaban instan. Namun, kalau dilihat saksama, salah satu persoalan yang tidak kalah penting dari apa yang tengah dilaksanakan itu adalah berkurangnya intensitas agenda kegiatan dalam tubuh PB IPSI. Dari tahun ke tahun kegiatan kian minim.
Jangan bicara soal kegiatan di daerah. Untuk tingkat Pengurus Daerah (Pengda) IPSI DKI Jakarta saja, yang seharusnya menjadi patron dari semua pengda IPSI lainnya, mereka belum bisa menjadi contoh yang baik. Bahkan, Pengda IPSI DKI Jakarta belum lama ini melakukan kekeliruan besar dalam melaksanakan kegiatan pencak silat, yakni mengadakan kejuaraan secara beruntun selama September 2006.
Tidak bermaksud menuding
Tidak bermaksud menuding bahwa kejuaraan yang berlangsung beruntun dalam bulan September ini karena terpicu akan berakhirnya tahun anggara, ataupun bukan karena akan berlangsungnya pergantian pejabat di tingkat Pemerintah DKI Jakarta, yang kemudian menjadikan ajang kejuaraan ini untuk berkampanye. Kejuaraan ini semoga didasarkan pada niat untuk memajukan dan menjadikan pencak silat sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
Kekeliruan itu diawali dari Kejuaraan Pencak Silat Antarpelajar SLTP dan SLTA Se-DKI Jakarta 2006, 5-8 September. Kejuaraan tersebut diikuti lebih dari 200 pesilat dari 33 perguruan silat yang ada di DKI Jakarta.
Karena banyaknya pesilat yang ikut, sementara waktu pelaksanaan hanya dilakukan dalam waktu empat hari, format pertandingan dikorbankan. Kalau biasanya suatu pertandingan dilaksanakan dalam tiga ronde, kini dikurangi menjadi dua ronde saja.
Dengan demikian, apabila ada pesilat yang menang dalam ronde pertama dan ronde kedua, pertandingan akan dihentikan. Pesilat tersebut langsung dinyatakan sebagai pemenang.
Menurut Mansur Sholeh, Sekretaris Pengda IPSI DKI Jakarta, ketentuan baku berlangsung tiga ronde diterapkan setelah pertandingan mencapai babak semifinal.
Begitu Kejuaraan Antarpelajar SLTP dan SLTA Se-DKI Jakarta yang diprakarsai Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Pengda IPSI DKI Jakarta itu berakhir, Pengda IPSI langsung menggulirkan Kejuaraan Antarwilayah 2006.
Lalu, hanya berselang tiga hari dari Kejuaraan Antarwilayah 2006, Pengda IPSI DKI Jakarta langsung menggelar Kejuaraan Daerah 2006. Sekalipun dalam Kejuaraan Daerah 2006 hanya diambil pesilat-pesilat yang menjadi juara di wilayah mereka masing-masing, tetapi karena peserta dari ketiga kejuaraan yang diadakan hanya dalam waktu satu bulan ini, tidak mungkin bisa menyaksikan penampilan maksimal atau penampilan terbaik dari setiap pesilat yang muncul di Kejuaraan Daerah 2006. Sebab, dapat dipastikan pesilat yang hadir pada Kejuaraan Daerah 2006 itu akan berada dalam kondisi tidak siap optimal, baik secara fisik maupun mental.
Bagaimana mental pesilat akan siap kalau saat bertarung ia masih mengalami cedera dan gangguan fisik lainnya, yang didapat dari pertandingan sebelumnya. Itu sebabnya, mantan wasit dan pelatih pencak silat nasional M Rifai Sahib jauh-jauh hari mewanti-wanti agar setiap kejuaraan pencak silat yang diselenggarakan hendaknya mempunyai tenggat yang bisa memberikan waktu istirahat yang cukup bagi para pesilat.
“Harus diusahakan agar jangan sampai waktu pelaksanaan kejuaraan membuat seorang pesilat harus bertarung dua kali dalam satu hari. Sebab, kami sebagai pengurus tidak akan mendapatkan apa-apa dengan kejuaraan yang diadakan dalam waktu singkat. Apalagi jika selisih waktu berdekatan antara satu kejuaraan dan kejuaraan lainnya,” kata “Mat Cobra”, julukan M Rifai Sahib.
Sinyalemen Sahib terbukti dengan adanya beberapa pesilat yang menjelang pertarungan di Kejuaraan Daerah 2006 masih harus diurut karena cedera yang mereka alami dari kejuaraan sebelumnya. “Tetapi kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Tetap saja saya harus turun,” tutur Rahmat Santoso, pesilat dari Jakarta Timur.
Para insan olahraga silat berharap apa yang dilakukan dalam kepengurusan IPSI saat ini tidak lain untuk meningkatkan mutu dan kualitas ilmu seni bela diri pencak silat itu sendiri. Di sinilah salah satu contoh dari apa yang dimaksud dengan “pentingnya menyusun agenda kegiatan”.
Banyak yang diperhatikan
Dalam menyusun agenda kegiatan ada cukup banyak hal yang harus diperhatikan. Tidak saja agenda dalam negeri, tetapi juga di ajang internasional. Seperti Kejuaraan Dunia yang akan diselenggarakan Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Pesilat), dan berbagai kejuaraan lainnya yang pasti menarik minat pesilat, seperti Kejuaraan Belgia Terbuka, Perancis Terbuka, hingga UK Internasional Pencak Silat Championships yang dilaksanakan dua tahun sekali.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah kejuaraan atau turnamen dari cabang lain yang akan membuat kejuaraan pencak silat dan mendapat perhatian, seperti Piala Dunia atau Piala Eropa yang populer.
Dengan agenda kegiatan yang baik, selain pesilat akan mencapai prestasi yang maksimal, industri “pencak silat” pun akan tercipta.
