Bila diperhatikan tayangan Sinetron ditelevisi pada akhir-akhir ini cukup diramaikan oleh sinetron muatan local, ragam cerita dan latarbelakang yang diangkat mulai dari laga, percintaan hingga yang bernuansa agamis. Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan bila kandungan ceritanya bermanfaat dan memberikan pengetahuan dan ilmu bagi pemirsa.

Setidak-tidaknya keseimbangan muatan local dapat terangkat kepermukaan dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, selain menghibur ada pesan yang ingin disampaikan sebagai sharing pengetahuan yang bermanfaat. Tinggallah kini bagaimana kreatifitas sutradra dan penulis mampu membuat sebuah tayangan yang menarik, enak untuk disaksikan dan juga mendidik.

Lalu bagaimana dengan sinetron yang laga khususnya pencak silat?, sepertinya sinetron seperti ini masih diminati oleh masyarakat luas, buktinya beberapa stasiun televisi masih menayangkan sinetron jenis ini, tapi bila diperhatikan ceritanya maupun teknik silat atau beladiri yang ditampilkan bisa dikatan sedikit norak, itu bila dibandingkan denga film mandarin yang mengutamakan teknik – teknik beladiri yang khas.

Kecanggihan visual effek pada sinetron laga malah membuahkan sesuatu yang tak mungkin, sesuatu yang menarik hanya untuk hiburan tapi tidak mendidik penonton untuk melihat gaya atau jurus yang ditampilkan, toh bagi pembuat sinetron yang penting kelihatan canggih dan hebat, sayangnya kehebatan tersebut hanya didalam televise. Tapi syukurlah masih ada sinetron seperti ini, tapi hati-hati penonton bisa bosan melihatnya bila ciat-ciatnya dilayar televise hanya menampilkan kehebatan yang tidak masuk akal, mungkin jawabannya adalah “toh namanya juga film”.

Memanfaatkan sinetron untuk menampilkan beladiri sebenarnya sudah cukup lama ada, bahkan hingga kini sinetron remaja hingga yang bernuansa relegius pun memasukkan unsur beladiri, contohnya bila anda pernah menyaksikan Sinetron remaja yang ditayangkan oleh Indosia pada tanggal 3 November 2006, judulnya “perjanjian cinta”.

Sinetron ini sebenarnya sih biasa-biasa saja, tidak terlalu menarik, hanya saja, didalam sinteron ini ada sesuatu yang mungkin akan istimewa, dimana setiap perkelahian terlihat jelas Ilmu beladiri yang digunakannya, “Capoera” ilmu beladiri import yang diam-diam digemari oleh kalanga muda, kekhasan beladiri ini nampak dari kaki sebagai senjata untuk mengecoh lawan dan tentunya sebagai alat untuk mematahkan dan menyerang lawan.

Itulah yang nampak pada sinetron tersebut dimana sang aktor selalu menampilkan capoeranya disaat harus bertarung dengan lawan-lawannya, dan sepertinya perlu di contoh juga bahwa yang ditampilkan adalah teknik bukan visual effek yang penuh tipuan.

Mungkin bagi pesilat ataupun pembuat sinetron silat harus belajar lagi gimana membuat trik yang bagus dan enak dilihat, tidak harus dengan adegan tipuan yang jauh dari realitas. Mana mungkin manusia bisa terbang kesana kemari dan mengelurkan api yang dapat meledakan batu besar, sedangkan jurus silatnya saja kaku dan aneh, maka lebih baik belajarlah sama guru-guru silat yang ada di Pelosok-pelosok kampong dari pada sinetron yang anda bertujuan menghibur sekaligus membunuh dan mematikan pencak silat.(yanweka)