SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaNovember 20, 2006 5:50 pm

Bila kita perhatikan Pesilat di Indonesia masih sangat kuran memanfaatkan teknologi ini dengan maksimal dan berdaya guna, seolah menutup mata dengan perkembangan pencak silat yang ada di dunia lain yang lebih maju perkembangannya, malah prestasi pesilat dari negera lain telah mendominasi dalam hal prestasi.

Kadang pertanyaan pun timbul disaat melihat kejuaraan yang diselenggarakan oleh IPSI baik tingkat regional dan nasianal, berapa jumlah pesilat berprestasi tiap tahun di cetak dan berapa banyak mereka dapat mengembangkan silat di sela-sela rutinasnya, kalaupun beruntung di angkat menjadi pelatih hingga karir dalam bersilat tidak terhenti.

Melihat SDM (sumber daya manusia) khususnya pesilat Indonesia seharusnya tidak akan pernah berkurang, prestasinyapun cukup baik dan haruskan mereka menghilang tanpa jejak karena kurang mendapatkan perhatian, seharusnya tidak. Karena sebagai atlit yang di godok bermental baja seharusnya tidak akan menyerah, satu hal bila anda pernah membaca Koran kompas tahun 2004 ada seorang atlit yang tidak mau bertanding membela nama bangsa karena kurang honornya, sebenarnya menjadi tanda tanya? Mengapa hal ini bisa terjadi.

Yang perlu dicatat adalah bila anda ingin menjadi Atlit silat di Indonesia bersiaplah mendapatkan fasiltas yang minim dan uang saku yang pas-pasan, karena pemerintah tak lagi memberikan subsidi lebih kepada pesilat dan silat itu sendiri, masih beruntung ada perusahaan swasta yang masih menyokong dana bagi event kejuaraan di Indonesia, bila tidak maka Silat akan semakin terpuruk, seperti terpuruknya guru-guru silat yang memberikan ilmunya agar anda berprestasi.

Lalu apakah yang bisa anda lakukan terutama bagi pesilat yang terlanjur prestasinya sudah redup karena dimakan umur yang menua, sekali lagi kegiatan ini dibutuhkan pengorbanan tapi ingat pengorbanan yang sifatnya yang bisa anda lakukan, karena bila pengorbanan seluruhnya anda curahkan pada silat maka siap-siaplah anda ikut terpuruk didalamnya.

Jadi selagi ada waktu lenggang, anda masih bisa berbuat sedikit saja untuk silat karena ilmu yang anda dapat tidak harus dimakan sendiri ataupun dibawa mati dan bila anda suksespun jangan lupakan guru-gurumu sebab sekian banyak pesilat yang berhasil sukses menjadi juara mereka melupakan jasa-jasa besar guru yang selama ini memperkenalkan silat kepadanya, dan lagi pula tidak ada manta pesilat yang ada adalah mantan atlit.

Penulis : Not Found
Mantan Atlit

LiputanNovember 13, 2006 4:29 am

Beladiri pencak silat pada akhir-akhir ini kurang mendapatkan perhatian dari media seperti koran, majalah dan televise, jadi wajar bila kerinduan akan olahraga beladiri asli dari Tanah Air ini menjadi sorotan media yang peka terhadap kelangsungan pelestarian olahraga tradisional yang kian tenggelam oleh ragam beladiri import yang lebih diminati karena mendapatkan publikasi dan peminat dari kalangan muda pada umumnya, lalu apakah media yang peduli dan peka ini akan diam saja? Nyatanya tidak mesih terdapat media yang berusaha mengangkat pencak silat dari sisi lain yang berbeda dari biasanya.

Adalah Harian “Koran Tempo” yang sejak awal bulan Oktober 2006 secara rutin setiap hari sabtu menampilkan aliran silat tradisional baik dari betawi dan Jawa Barat, seperti silat Sabeni, Cingkrik Goning, Cikolang, dan rencanannya masih ada puluhan perguruan yang akan diangkat oleh Koran tempo setiap hari sabtu di kolom olahraga.

Hal ini sepatutnya mendapatkan pujian karena sejak lama media seperti halnya koran banyak yang melupakan olahraga tradisional kita ini, padahal bila mereka mau hal ini menjadi mudah, apalagi sumber informasi tersebut dapat ditemukan oleh lembaga resmi seperti IPSI ataupun melalui komunitas pencak silat di Indonesia yang tersebar diseluruh pelosok Nusantara. Setidak tidaknya image pencak silat harus baik dan mendapatkan tempat dihati masyarakat luas untuk mengenai pencak silat dari masing-masing keunikan dan keistimewaan yang dikandungnya.

Mengangkat pencak silat ke media seperti televise juga telah dilakukan oleh Mas Aryanav dan team TransTV yang berusaha keras agar silat menjadi salah satu tontonan menarik bagi keluarga, apalagi pencak silat telah lama dikenal sebagai olahraga yang cukup memasyarakat sejak dahulu dan sayangnya image “kampungan” yang penuh mistis masih menempel setia, wajarlah bila silat kian hari kian terlupakan oleh generasi muda yang memang membutuhkan olahraga yang menantang dan modern.

Padahal menurut aryanav bahwa silat juga bisa diikuti oleh anak sekolah dasar hingga orang tua. Oleh sebab itu melalui TransTV di acara “Sisi Lain” yang rencananya akan ditanyangkan pada tanggal 15 November jam 14.00 WIB, akan mengangkat sekelumit kegiatan pesilat cilik hingga pesilat tua, kita berdoa dan berharap agar lebih banyak lagi pencak silat di angkat oleh media.

Team Liputan
Milis Silatbogor & FPPST
www.silatindonesia.com

SketsaNovember 3, 2006 3:21 pm

Bila diperhatikan tayangan Sinetron ditelevisi pada akhir-akhir ini cukup diramaikan oleh sinetron muatan local, ragam cerita dan latarbelakang yang diangkat mulai dari laga, percintaan hingga yang bernuansa agamis. Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan bila kandungan ceritanya bermanfaat dan memberikan pengetahuan dan ilmu bagi pemirsa.

Setidak-tidaknya keseimbangan muatan local dapat terangkat kepermukaan dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, selain menghibur ada pesan yang ingin disampaikan sebagai sharing pengetahuan yang bermanfaat. Tinggallah kini bagaimana kreatifitas sutradra dan penulis mampu membuat sebuah tayangan yang menarik, enak untuk disaksikan dan juga mendidik.

Lalu bagaimana dengan sinetron yang laga khususnya pencak silat?, sepertinya sinetron seperti ini masih diminati oleh masyarakat luas, buktinya beberapa stasiun televisi masih menayangkan sinetron jenis ini, tapi bila diperhatikan ceritanya maupun teknik silat atau beladiri yang ditampilkan bisa dikatan sedikit norak, itu bila dibandingkan denga film mandarin yang mengutamakan teknik – teknik beladiri yang khas.

Kecanggihan visual effek pada sinetron laga malah membuahkan sesuatu yang tak mungkin, sesuatu yang menarik hanya untuk hiburan tapi tidak mendidik penonton untuk melihat gaya atau jurus yang ditampilkan, toh bagi pembuat sinetron yang penting kelihatan canggih dan hebat, sayangnya kehebatan tersebut hanya didalam televise. Tapi syukurlah masih ada sinetron seperti ini, tapi hati-hati penonton bisa bosan melihatnya bila ciat-ciatnya dilayar televise hanya menampilkan kehebatan yang tidak masuk akal, mungkin jawabannya adalah “toh namanya juga film”.

Memanfaatkan sinetron untuk menampilkan beladiri sebenarnya sudah cukup lama ada, bahkan hingga kini sinetron remaja hingga yang bernuansa relegius pun memasukkan unsur beladiri, contohnya bila anda pernah menyaksikan Sinetron remaja yang ditayangkan oleh Indosia pada tanggal 3 November 2006, judulnya “perjanjian cinta”.

Sinetron ini sebenarnya sih biasa-biasa saja, tidak terlalu menarik, hanya saja, didalam sinteron ini ada sesuatu yang mungkin akan istimewa, dimana setiap perkelahian terlihat jelas Ilmu beladiri yang digunakannya, “Capoera” ilmu beladiri import yang diam-diam digemari oleh kalanga muda, kekhasan beladiri ini nampak dari kaki sebagai senjata untuk mengecoh lawan dan tentunya sebagai alat untuk mematahkan dan menyerang lawan.

Itulah yang nampak pada sinetron tersebut dimana sang aktor selalu menampilkan capoeranya disaat harus bertarung dengan lawan-lawannya, dan sepertinya perlu di contoh juga bahwa yang ditampilkan adalah teknik bukan visual effek yang penuh tipuan.

Mungkin bagi pesilat ataupun pembuat sinetron silat harus belajar lagi gimana membuat trik yang bagus dan enak dilihat, tidak harus dengan adegan tipuan yang jauh dari realitas. Mana mungkin manusia bisa terbang kesana kemari dan mengelurkan api yang dapat meledakan batu besar, sedangkan jurus silatnya saja kaku dan aneh, maka lebih baik belajarlah sama guru-guru silat yang ada di Pelosok-pelosok kampong dari pada sinetron yang anda bertujuan menghibur sekaligus membunuh dan mematikan pencak silat.(yanweka)