SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

August 23, 2006

Apakah Pencak silat menuju titik jenuh

Filed under: Sketsa

Apakah Pencak silat menuju titik jenuh

Krisis ekonomi memang tidak secara langsung membuat kegiatan olahraga ditanah air sedikit menyurut, namun dampaknya sangat terasa disegala sector kehidupan termasuk olahraga pencak silat. Sesungguhnya tidak hanya pencak silat saja yang mengalami penurunan kuantitas kegiatan maupun peminatnya, olahraga beladiri lainpun mengalami hal yang sama.

Krisis ekonomi sebenarnya tidak ada hubungan relevansi yang khusus terhadap minat masyarakat dalam berolahraga, karena olahraga adalah salah satu kebutuhan manusia dalam memenuhi tingkat derajat kesehatannya, dan kecendrungan inilah masyarakat pada umumnya mencari alternative olahraga yang ekonomis dan tidak membutuhkan ikatan waktu yang khusus.

Olahraga beladiri saat ini dinilai bukan sebagai olahraga yang ekonomis malah terkesan serius dan membuang-buang waktu. Berbeda dengan olahraga rekreasi yang tetap diminati oleh semua lapisan masyarakat, karena sifatnya yang fleksibel tadi menyebabkan olahraga ini sangat cocok begi mereka untuk memenuhi kebutuhan dalam sarana berolahraga, bahkan olahraga rekreasi dapat dikombinasikan dengan olahraga wisata yang tentunya akan semakin menarik, contohnya bersepeda atau jongging yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, olahraga ini bisa dilakukan di jalanraya atau sambil rekreasi di daerah pegunungan yang sejuk.

Perlu diakui bahwa olahraga beladiri memang belum bisa memberikan kenikmatan sebagai olahraga rekreasi karena sifatnya lebih khusus dan baku, sebagai contohnya membutuhkan tempat dan waktu yang khusus untuk menghindari cidera dibutuhkan lokasi latihan yang luas dan terikat pada waktu latihan yang khusus karena biasanya olahraga beladiri dibutuhkan kelompok maupun seorang pelatih yang memberikan materi khusus kepada murid-muridnya, walaupun demikian tidak ada larangan bagi yang melakukannya sendiri baik di rumah bersama keluarga walaupun hal ini jarang terjadi.

Faktor yang dijelaskan diatas hanya sebagian kecil kendala yang dihadapai oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dalam hal berolahraga beladiri karena factor ekternal lainnya masih cukup banyak. Terlepas dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia hingga saat ini.

Membangun Citra
Sering sudah dalam setiap diskusi ataupun dalam tulisan sebuah buku yang menyatakan bahwa “Pencak silat adalah Budaya bangsa yang harus dilestarikan keberdaannya sebagai jati diri bangsa”. Yang kenyataanya masyarakat seolah tidak peduli dengan selogan-selogan tersebut, pertanyaan selanjutnya adalah apakah penyebab masyarakat kurang menghargai budaya bangsa sendiri. Tentunya hal seperti ini harus mendapatkan jawaban yang realistis bila perlu diadakan penelitian terutama dimasyarakat umum.

Sebelum terjawab oleh data penelitian yang rumit sebenarnya kita semua sudah mengetahui jawaban yang umum dan bahkan tidak asing lagi ditelinga kita yaitu citra atau image “kampungan”,citra inilah yang selalu setia melekat di masyarakat pada umumnya. Dan usaha merubah citra ini memang sangat sulit bahkan rumusan dan strategi apa lagi yang harus dicari untuk meluruskan makna “kampungan” menjadi makna kampungan yang bergengsi.

Image Pencak silat yang tak kalah populernya adalah ketertutupan, keterasingan dan sejenisnya tampaknya sudah menjadi sangat klise di Indonesia, setiap kali orang membicarakan pencak silat dibumi persada ini. Kita patut prihatin dan menuding beberapa variable yang menyebabkan masyarakat lesu darah, jenuh atau malah alergi terhadap pencak silat.

Pencak silat yang berkembang di Indonesia saat ini, sebetulnya sangat beragam sebagai contohnya saja, silat olahraga, silat beladiri, silat tenaga dalam hingga silat yang bercampur aduk dengan ilmu-ilmu lainnya, pilihan ini seharusnya membuat masyarakat memiliki satu pilihan tepat, terkadang masyarakat terlalu naïf menilai seluruh silat adalah sama tidak ada bedanya, presepsi dan cara menilai mereka adalah wajar, karena masyarakat mendapatkan informasi mengenai keunikan silat dari satu sisi yang sering dipublikasikan oleh media, yang terkadang agak berlebihan dan mengeneralisasikan seluruh pencak silat yang ada di bumi Persada ini.

Pencak silat sebagus apapun, bila tidak dipublikasikan secara benar dan baik akan menghasilkan image yang menjenuhkan, orang awam pun dapat menilai dengan mudah setiap ada atraksi pencak silat pasti disana ada unsur-unsur magis mewarnainya, sesungguhnya unsur magis hanya tambahan bahkan hanya sebagian kecil untuk diandalkan untuk beladiri maupun dalam berolahraga prestasi, dan itulah pentingnya peranan media dalam menentukan presepsi public.

Agaknya masalah pencak silat di Indonesia yang berhubungan masalah sosialisasi tidaklah sesederhana itu, dibutuhkan peranan para intelektual, mahasiswa, pakar, pengusaha, penguasa, simpatisan, pemerhati, hingga kritikus dalam memberikan wacana, dan realisasi yang matang. Sumber daya Manusia adalah jawaban yang mutlak agar masyarakat memiliki refensi dan pola dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Karenanya sosialisasi mengenai olahraga beladiri pencak silat merupakan proses yang menyeluruh dalam proses internalisasi kedalam pemikiran masyarakat, yang harus digeledah adalah kebutuhan olahraga beladiri seperti apa yang menjadi daya tarik mereka, apakah “murni olahraga, beladiri atau olahraga sebagai hiburan untuk menyalurkan hobi.

Menjadikan Pencak Silat sebagai hobi adalah pemikiran yang realistis saat ini, karena akan terbentuk kandungan kesenangan yang tidak dapat dinilai, dan tidak mengubah keaslian dan kehilangan coraknya, sosialisasi pencak silat menjadi olahraga hobi seperti halnya tinju atau sepak bola membutuhkan media yang tepat dan terbuka, dan factor social, kondisi ekonomi dimasyarakat menjadi tolak ukur dalam mensukseskan gerakan massal dalam memperkenalkan pencak silat yang sesungguhnya.

Namun bila kejenuhan masyarakat belum bisa terobati, tampaknya jalan apapun kalau sifatnya hanya elementer atau gradual tidaklah berarti bahkan sia-sia, bila sudah sedemikian resistennya “kejenuhan “itu apakah dipelukan pengobatan yang membutuhkan operasi besar-besaran atau lebik ekstrem lagi dengan cara-cara radikal yang mendasar yaitu biarkan pencak silat terasing, barangkali justru dari keterasingannya itulah pencak silat mampu membentuk dimensi yang baru dan unik dengan image yang mampu menemukan audiensnya secara selektif. Sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa ide-ide besar terlahir dari keterasingan, bahkan ada istilah “kecil itu indah”.

Yanweka
Anggota Forum Pelestari dan Pecinta Pencak Silat Indonesia

August 15, 2006

Mengangkat pencak silat dalam Media Publikasi

Filed under: Sketsa

Mempublikasikan pencak silat tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya, banyak benturan dan kendala yang harus dilalui malah terkadang buntu. saat ini banyak media yang berskala nasional antara lain Televisi, Koran maupun majalah, yang selalu memuat aktifitas kehidupan manusia, olahraga, seni budaya dan lain-lain yang bersifat hiburan.

Lantas apakah media – media tersebut dapat membantu mempublikasikan pencak silat, jawabannya bisa “Ya” bisa juga “Tidak”, pasalnya persaingan antar media televisi misalnya saja sudah demikian ketatnya, mereka berlomba-lomba menanyangkan acara-acara yang dapat menarik pemirsa sebanyak-banyaknya, malah terkadang kandungan pendidikannya tidak sebanding dengan unsur Hiburan, sehingga televisipun menjadi media yang sarat dengan Hiburan semata, walaupun juga menampilkan acara informasi dan berita.

Pencak silat bukan tidak pernah ditanyangkan dalam media televisi, bila dicermati sesekali sebuah perguruan ataupun sosok pesilat juga ditampilkan dalam acara televisi, namun masih disayangkan liputannya masih terlalu formal atau malah kampungan, contohnya saja yang sering dipublikasikan adalah unsur mistis seperti “tenaga dalam”, padahal silat tidak hanya sekedar tenaga dalam namun keunikan beladiri praktisnyapun tidak kalah dengan olahraga beladiri Import, memang sangat disayangkan sekali lagi-lagi unsur mistis dan klenik menjadi hal-hal yang menarik, padahal tidak semua silat adalah mistik dan klenik dan karena tayangan itulah wajah silatpun menjadi benar-benar kampungan dan image tersebut melekat erat dipemirsa televisi yang sebagian sebesar adalah orang tua dan anak-anak.

Image klenik dan mistik dalam pencak silat tidak selamanya menguntungkan, bahkan merugikan apalagi dijaman teknologi yang semakin canggih, realitas sebenernya menjadi tolak ukur orang tua untuk mengijinkan anak-anaknya mengikuti olahraga ini, namun sayang sekali lagi-lagi media mengangkat silat sebagai olahraga yang sarat dengan mistik.

Oleh sebab itu kalangan penulis, wartawan hingga pengamat pencak silat diharapkan dapat mampu mengangkat pencak silat yang sesungguhnya dengan kritis dan kreatif, saya nyakin silat masih mampu dan manarik untuk diminati oleh masyarakat bila masyarakat mendapatkan informasi yang jelas. Dan tentunya masyarakat pencak silat membutuhkan media yang benar-benar jeli melihat keunikan pencak silat ini dan mempublikasinnya menjadi olahraga yang layak diajarkan kepada masyarakat umum khususnya pelajar dan pemuda yang akan menjadi generasi penerus yang memiliki jati diri yang kuat dan handal. Kami tunggu peran aktifnya media – media di Indonesia dan buktikan engkau mampu menjadi media yang unggul dan tidak biasa.

Majulah Indonesia, Hut RI 61
yanweka

August 5, 2006

Apa kabar pesilat sabenian

Filed under: Sketsa

Silat sabeni akhir-akhir ini terasa tak asing lagi didengar oleh sebagian komunitas pencak silat khususnya di media-media online seperti milis dan forum diskusi di Internet. Aliran sabeni memang merupakan salah satu dari sekian banyak silat asli betawi yang pelestariannya kian mengkwatirkan.

Oleh sebab itu dalam usaha pelestariannya dibentuklah sebuah wadah nirlaba yang mengakomodasikan tujuan tersebut sebagai “pilot project” dari forum pelestari dan pecinta pencak silat tradisional yang telah dibentuk pada tanggal 10 Juni 2006 di Jakarta.

Salah satu agenda yang menarik adalah dokumentasi dan aplikasi latihan bersama. dokumentasi dilakukan secara bertahap baik sejarah, keilmuan hingga filosofi gerakan silat sabeni. Aplikasi latihan bersama dilakukan bagi peminat yang ingin mendalami lebih jauh silat tersebut, dan dilatih secara langsung oleh bang Jul yang merupakan salah satu penerus dan pewaris aliran silat sabeni saat ini.

Pengamatan langsung penulis dilokasi latihan dibilangan pondok kelapa jakarta timur, penulis melihat antusiasnya peserta yang berupaya memahami setiap gerakan silat ini, memang terbilang unik dari silat pada umumnya, dan mungkin inilah salah satu ciri khas dari silat sebani dan umumnya silat yang berasal dari daerah betawi.

Disela-sela latihan silat sabenian, tidak ketinggalan hadir seorang pengamat pencak silat yang namanya memang sudah tidak asing “pak Oong Maryono dan kawan-kawannya dari belanda”, kehadiran Pak Oong banyak memberikan pencerahan dalam upaya merealisasikan proses dokumentasi dan latihan silat ini. Pertukaran Informasi sebagai salah satu shera pengalaman dan keilmuan diberikan secara gamblang oleh Pak Oong dengan peserta yang umumnya adalah anggota milis silatbogor.

Harapan kita bahwa pencak silat tradisional seperti silat sabeni tidak punah digerus oleh jaman karena bagaimanapun juga ini adalah aset budaya yang semestinya mendapatkan perhatian kita bersama. Harapan lainnya adalah melalui wadah yang telah dibentuk melalui “Forum Pelestari dan Pecinta Pencak Silat Tradional” dapat mengangkat lebih banyak silat tradional lainnya yang saat ini kian sulit ditemukan keberadaanya. Oleh sebab itu penulis mengajak kawan-kawan pesilat lainnya agar dapat sedikit memberikan luang waktunya untuk bersama-sama ikut melestarikan budaya bangsa ini, semoga apa yang kita lakukan menghasilkan sebuah karya yang positif untuk kemajuan pencak silat secara umum.

Dan tidak lupa penulis mengucapkan sukses dan tetap SEMANGAT kepada kawan-kawan yang telah berupaya sekuat kemampuannya untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan yang positif ini semoga kawan-kawan lain bisa bergabung bersama.

Tetap Semangat
Yanweka

Kembali Meraih prestasi pencak silat Indonesia

Filed under: Sketsa

“Kembali Meraih prestasi pencak silat Indonesia” itulah tema yang diangkat dalam acara saresehan yang berlangsung di Ruang 100 Padepakan Nasional Pencak Silat Indonesia yang bertepatan dengan perayaan HUT ke – 38 KPS Nusantara.

Acara yang singkat namun padat materi tentang persoalan yang selama ini terkesan tidak mendapatkan respon dari pihak-pihak terkait seolah terjawab, namun kerja nyata tetap dinantikan oleh masyarakat pesilat di Indonesia.

Acara saresehan seperti ini selayaknya dapat diselenggarakan setiap periode antara pesilat, pengurus perguruan, IPSI dan pemerintah. Diharapkan kesenjangan selama ini dapat mengikat kembali hari –hari yang hilang, hari yang penuh prestasi.

Liputan secara umum dapat dibaca melalui tulisan salah satu koresponden situs silatindonesia.com mas Ezra, silahkan mas…..,

Jakarta, Peringatan hari Ulang Tahun KPS Nusantara hari ini di
tandai dengan dengan sambutan Ketua Umum KPS Nusantara Bpk. Haryono
Isman, selaku Key Note Speaker yang disambut dengan antusias oleh
para hadirin dan para udangan serta tamu kehormatan.

Pada hari jadi yang ke-38 ini turut di hadiri oleh beberapa tokoh
pencak silat baik dari Keluarga KPS Nusantara sendiri maupun dari
para pembesar IPSI dan juga tokoh pencak silat senior seperti Bapak
Oong Sumaryono, Bapak Hatono (mantan pelatih silat di Vietnam),
Bapak Harsoyo (Wakil dari salah satu peguruan histories), Dr. Ir.
Indra Jati Sidi, dan para petinggi dari jajaran IPSI serta KPS
Nusantara sejabotabek.

Syukuran yang diadakan hampir seharian, kali ini ditambahkan acara
penyematan Sabuk Kehormatan selaku Pembina Kehormatan KPS Nusantara
oleh pendiri (Bp. Hadi Mulyo, Dr. Djoko Waspodo & Dr. Rachmadi) di
dampingi Ketua Umum, kepada Bp. H. Edy M. Nalapraya (Pesiden IPSI),
Bp. H. Rustady Efendy, Bp. H. Harsoyo.
Pada acara ceremonial ini Bp. H. Edy M. Nalapraya mendapatkan
sekaligus 2 (dua) penghargaan dari KPS Nusantara yang selanjutnya
penghargaan di berikan kepada Bp. Arjo Damoko, Alm. MR.
Wongsonegoro, Alm. Bp. Tjokro Panolo, Alm. Bp. Rahmat Suronagoro,
Alm. Bp. Marijun Sudirohadipojo, dan yang terakhir adalah Bp. Hadi
Kusumo, oleh Ketua Umum KPS Nusantara Pusat, DKI Jakarta.

Kemeriahan acara berlanjut dengan Atraksi pencak silat oleh anggota
KPS Nusantara Junior dari padepokan KPS Nusantara se-Jabotabek,
meski terlihat masih muda para pesilat yang notabenenya pelajar itu
sangat atraktf dan mahir dalam memperagakan berbagai jurus khas dari
perguruan baik tangan kosong maupun yang bersenjata. Dengan di
iringi musik orkestra melayu acara ini sangat menghibur sekaligus
memukau para tamu undangan yang hadir.

Tantangan Baru Perkembangan Pencak Silat

Selain syukuran, pada acara tersebut diadakan sarasehan dan diskusi
sekaligus dari kurang lebih 4 (empat) pembicara diantaranya wakil
dari PB.IPSI, Dr. Ir. Indra Jati Sidi, Bp H. Harsoyo selaku wakil
salah satu perguruan Histories di Indonesia, serta Oong Maryono
yang mengangkat topik “Perbandingan, Pengembangan, dan Pembinaan
Pencak Silat Dunia”, juga ikut manambah hangat suasana ruang meeting
di hotel ball room Padepokan Pencak Silat Indonesia, TMII.

Dalam pesentase yang cukup singkat Bp.Oong Maryono memberikan maping
kedepan bagaimana pencak silat dapat dikembangkan dan dikenal di
negara tetangga seperti; Singapore, Malaysia, Filippina, Thailand,
Vietnam, Jepang, Korea serta beberapa di Eropa dan Amerika. Pencak
silat yang dikenal sebagai budaya local dan ada pula yang memiliki
ikatan sejarah pada setiap prestasi pesilatnya pada setiap event
regional selalu menjulang, juga dikenal oleh masyarakat pecinta
beladiri. Disisi lain pencak silat di kenal sebagai cabang ilmu
beladiri yang baru di promosikan di percaturan beladiri masayarakat
dunia sangat menyambut dengan sangat antusias.

Bukan tidak mungkin dalam upaya penyebaran dan memperkenalkan pencak
silat menembus dunia dari peringkat local, regional dan
Internasional harus dilakukan secara terus menerus dan konsisten.
Misalnya, pada peingkat local di negara eropa bersatu pencak silat
di promosikan oleh masing-masing perguruan, club, sekolah dan gym,
festifal youth summer sport progam di luar negeri, juga beberapa
pertunjukan serupa baik sport dan seni budaya yang biasa dijadikan
ajang untuk mempromosikan pencak silat.

Menjadi hal yang patut kita cermati bahwasanya dalam Visi,misi kita
membawa pencak silat ke seluruh dunia atau go international,
tepatnya di era globalisasi pasti menjadi tantangan baru untuk kita
semua terutama hak cipta yang menjadi nilai ekonomis sangat perlu
dipikirkan untuk bisa melindungi budaya kita dari pihak lain yang
sebenarnya kurang berhak, serta masalah yang mungkin juga akan
timbul dari merebaknya media promosi cyber net yang sulit termonitor.

Pada diskusi tersebut, pembicara yang juga sebagai mantan juara
Olympiade Pencak Silat pada 5 (lima) periode berturut-turut dan juga
selaku paktisi yang mengembangkan pencak silat di asia, eropa dan
amerika. Mengajak kita untuk mempersiapkan diri dalam mengantisipasi
tantangan-tantangan baru dalam hal, perlunya mengadakan pendekatan
agar dapat menutupi kesenjangan social diantara negara-negara
tetangga sekaligus meningkatkan kwalitas sesuai dengan kondisi
setempat.

Maka diperlukan adanya “dual approach” atau pendekatan ganda seperti;
1. Untuk negara-negara di mana pencak silat sudah maju dan
pencak silat dapat menyebar dengan sendirinya, yang pelu di utamakan
oleh pihak Indonesia adalah meningkatkan kwalitas pesilat dan
organisasinya dengan pelunya mengirimkan pelatih-pelatih yang
berkwalitas, untuk dapat mengadakan pelatihan nasional bekeja sama
dengan organisasi nasional setempat.
2. Untuk negara-negara yang pesilatnya belum maju kita harus
focus untuk memperkenalkan kembali memperkenalkan pencak silat dan
membantu menghidupkan organisasi pecak silat nasional di negara
tersebut.

Selain itu disamping banyaknya kendala yang pelu dibicarakan dan di
pecahkan bersama yang paling penting menurut pembicara adalah
bagaimana kita bias mempersiapkan diri dalam melakukan tugas yang
begitu komplek.
Oleh karenanya, beliau menambahkan; “…yang paling mendesak untuk
menjawab tantangan dunia adalah meningkatkan SDM insan pencak silat
Indonesia itu sendiri”.

Selamat Hari Ulang Tahun Ke-38 KPS Nusantara, Semoga makin eksis dan
terus konsisten dalam upaya melestarikan serta mengembangkan pencak
silat mendunia…!.

ÓBy ezrapurnama danu lelana
081572770409

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main