By : Yanweka

Dibeladiri manapun istilah “Tenaga Dalam” bukanlah hal baru, “Tenaga Dalam” merupakan kekuatan yang timbul dari dalam diri dengan berbagai cara pembangkitannya, ada yang lewat jalur cepat ada pula yang harus dilatih dengan teknik teknik tersendiri, dan kekuatan “Tenaga Dalam” ini memang tidak diragukan lagi manfaatnya, baik beladiri maupun untuk kegunaan lainnya.

Nah, dalam tulisan kali ini sebenernya tidak membahas mengenai tenaga dalam yang sesungguhnya. Bila kita perhatikan begitu cepatnya informasi baik melalui media televisi hingga media internet seolah tidak ada lagi batasan ruang dan waktu, terutama internet yang memang untuk beberapa kalangan belumlah dipahami secara mendalam, fungsi dan kegunaannya, media ini bisa bermanfaat bisa juga sebaliknya, seperti pisau yang memiliki dua sisi yang tajam namun bisa digunakan untuk apa saja.

Bukanhal baru bila kita menyaksikan ragam perguruan silat dimancanegara begitu gemncar mempromosikan pencak silat melalui media ini, bahkan mereka telah melakukannya jauh sebelum kita melek teknologi, ajang promosi ini memang sangat bermanfaat bagi mereka dalam melebarkan sayap perguruannya hingga terkadang ada saja yang memanfaatkan internet untuk promosi perguruan yang sebenarnya di Indonesia tidak ada, namun dengan dalih yang mereka buat seolah-olah menjadi sebuah perguruan yang original dari negera asalnya.

Menurut salah satu sumber bahwa terlalu mudahnya guru-guru silat mengajarkan silat kepada orang asing menyebabkan beberapa aliran atau pergruan silat yang dibajak namanya, dan ini sekali lagi bukan hal baru, karena Persilat pun sebenarnya mengetahui ke originalnya sebuah pergruan dari silsilahnya.

Bahkan saya sendiri pernah bertemu dengan seseorang pesilat dari mancanegara yang berlatih hanya 3 tahun indonesia dan mendapatkan sertifikat sebagai pelatih ternayata di negeranya mereka membuat perguruan baru dengan namanya pun diberi embel-embel “pendekar” atau malah “maha guru”. Lucu bukan

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti ini, yap karena mereka anggap bahwa orang indonesia tidak memanfaatkan tenaga dalam yang luar biasa ini, tidak lain adalah “Internet:”, internet adalah tenaga dalam didepan kita yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Keseimbangan informasi harus diciptakan melalui media ini, sehingga mereka yang mengaku-mengaku maha guru dari salah satu aliran pencaksilat indonesia, akan sungkan, karena kebohongan yang mereka lakukan dapat terbaca oleh kita disini. Dan salah satu nasehat dari sesepuh di IPSI menyatakan “jangan terlalu mudah menjual pencak silat ke mancanegara” bagaimanapun juga pencak silat adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan dimanfatkan untuk kebenaran, sebagai pendekar sejati.

Nah begitu saktinya internet melalui tenaga yang dikandungnya menyadarkan kita untuk berbuat sesuatu, setidaknya kita harus banyak menumpahkan apresiasi kita melalui media ini, link-link harus tercipta dari kalangan pesilat ditanah air, untuk membangun pencak silat bersama. Dan istilah katak dalam tempurungpun harus cepat-cepat di jawab dengan pemikiran yang terbuka, istilah lainnya adalah” boleh-boleh saja kita fanatis kepada perguruan silat kita, namun jangan sampai sifat fanatisme itu menutup pemikiran kita”, ”boleh kita mengunci rapat-rapat ilmu silat kita, namun jangan pemikiran kita”. Karena dengan pemikiran terbuka kita bisa bersama sama bergandengan tangan melalui media internet untuk membangun pencak silat, dan sekali lagi di dunia ini tidak ada yang sakti, tidak ada yang abadi jadi bila dengan sikap kehati-hatian, kita pasti bisa menciptakan pencak silat menembus ruang dan waktu (bukan lagi dunia).