SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaJune 26, 2006 4:39 am

Apakah perjuangan akan sia sia

Membaca sebuah majalah mistik Indonesia yang isinya tentu saja mistik yang berbau-bau dunia alam lain, yang pastinya bukankah bacaan kegemaranku, bolak-balik isinya ternyata ada satu tulisan yang menarik, yaitu silat yang penuh dengan hal-hal mistik pula, coba teliti iklan-iklannya juga ada beberapa yang membawa nama silat tenaga dalam yang tentunya lagi-lagi mistik.

Ada rasa sedih bercampur rasa menyesal, mengapa silat terlalu dipandang miring selama ini oleh masyarakat pada umumnya, seolah terjawab dengan ragamnya iklan atau tulisan yang mengait-ngaitkan olahraga beladiri silat dengan hal-hal mistik yang klenik. Wajar bila selama ini kehebatan silat hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat maupun praktisi beladiri import lainnya.

Hal inilah salah satu yang menyulutkan kesadaranku terhadap olahraga bangsa kita, yang selama ini mengalami kemunduran entah hal prestasi maupun kuantitas penghobinya. Saya nyakin penghobi silat tidak sedikit ditanah air, apalagi silat pernah boming sebelumnya, jadi tidak ada istilah masyarakat pencak silat benar-benar menghilang atau meninggalkan pencak silat, karena masih banyak pecinta olahraga ini yang tetap mempertahankan olahraga ini tetap eksis walaupun kadang-kadang tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau silat menjadi olahraga mistik bukan salah pengemar mistik, namun karena kesempatan dan keadaanlah yang menyebabkan masyarakat ikut-ikut latah dalam dunia mistik yang penuh misteri dan menjadi daya tarik yang kuat, ditambah embel-embel beladiri belajar satu malam langsung sakti.

Memang masyarakat sepertinya tidak mau repot untuk menjadi sakti, karena dengan belajar 1 atau 2 kali langsung bisa, menjadikan janji-janji surga bagi pengikutnya, namun yang perlu digaris bawahi bukan salah atau benar, namun yang menjadi catatan adalah kasihan beladiri silat yang benar-benar olahraga fisik dan mental ikut-ikutan dicap sebagai olahraga klenik.

Tidak semua silat itu klenik itu pandangan saya, karena mayoritas pada umumnya silat adalah silat,( harus bergerak, menangkis, menendang, memuku)l dengan apa yang kita miliki dari dalam diri, selain balajar beladiri badan juga jadi sehat, jadi kalau ada orang yang mengaku belajar beladiri dengan bertapa langsung bisa jurus wah jadi inget sandiwara radio “suar sepuh” sakti mandraguna”, kesaktian adalah ujung dari cita-citanya.

Lalu kapankah silat bisa dibedakan antara yang mistik sama yang fisik, tentu harus dipisahkan karena kasihan anak-anak sekolah karena ikut silat harus menerima beban moral menjadi orang sakti, bukan menjadi orang berbudi.

Yanweka

SketsaJune 21, 2006 3:54 am

Suasana siang padepokan nasional Pencak silat pada tanggal 10 Juni 2006, sedikit berbeda dengan biasanya, terdapat beberapa tokoh persilatan yang selama ini malang melintang di dunia persilatan dapat kita temui dalam acara Pembentukan forum Pelestari dan Pecinta Silat Tradisional.

Kehadiran mereka memberikan esensi yang cukup besar dalam perhatiannya terhadap olahraga beladiri pencak silat khususnya silat tradisional yang selama ini mulai sulit ditemukan keberadaanya, entah memang sudah tidak ada mungkin juga pindah alamat atau tidak ada penerusnya.

Kemungkinan-kemungkinan tersebut sangat kuat, apalagi pernyataan dari seorang pengamat pencak silat “Pak Oong Maryono” yang selama ini telah melakukan penelitian terhadap pencak silat tradisional ini, menurut beliau “ silat tradisional harus menjadi asset bangsa dan mendapat perhatian oleh kita, karena jangan sampai silat tersebut menghilang tanpa jejak”. Tentunya untuk itu perlu penggalian dan penelusuran yang sesungguhnya tidak mudah.

Acara pembenetukan berjalan dengan lancar dan menghasilkan koordinatar yang masing-masing akan mengemban tugas dan dibantu oleh anggota lainnya, walaupun tidak terlalu formal namun acara ini cukup terbilang sukses, karena selain pembetukan forum, ditengah-tengah acara diselingi diskusi dan Tanya jawan yang ternyata sangat kritis baik isi pertanyaan maupun jawaban yang kami terima. Seolah menyadarkan kita untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan hobi yang satu ini.

Menggali potensi pencak silat tradisional memang berat, namun inilah tantangan yang sesungguhnya, bagaimana disaat kondisi negera yang masih belum lepas dari krisis ditambah pula minat terhadap pencak silat sangat menurun dimasyarakat Indonesia.

Hal lainnya adalah bagaimana membentuk Link yang terbuka, maksudnya tidak mungkin forum ini berjalan sendiri dan menentukan arah tanpa komando tanpa dukungan dari link yang mendukungnya, link yang terpenting disini adalah IPSI dan pengemar pencak silat.
Selain kuantitas diharapkan kwalitas sumber daya yang saat ini kita miliki disatukan dalam satu wadah komunitas.

Inilah saatnya mulai belajar dan memberikan sedikit kemampuan yang kita miliki agar forum yang selama ini sebagai wacana, dikemudian hari akan menjadi kenyataan dan telah dibuktikan dalam pembetukannya yang didukung oleh kalangan pesilat maupun praktisi beladiri lain yang memberikan perhatian terhadap perkembangan pencak silat tradisional.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Pak Ali Bin Sabeni, Pak Oong Maryono, Pak Edward, Pak Hartono, Pak H. Aziz Sya’rie, Mas Ki Sawung, Mas Eko dan Sahabat pesilat lainnya. Semoga pertemuan kemarin dapat kita tindak lanjuti dengan hasil karya yang nyata.

Penulis : Yanweka

SketsaJune 11, 2006 4:53 am

By : Yanweka

Dibeladiri manapun istilah “Tenaga Dalam” bukanlah hal baru, “Tenaga Dalam” merupakan kekuatan yang timbul dari dalam diri dengan berbagai cara pembangkitannya, ada yang lewat jalur cepat ada pula yang harus dilatih dengan teknik teknik tersendiri, dan kekuatan “Tenaga Dalam” ini memang tidak diragukan lagi manfaatnya, baik beladiri maupun untuk kegunaan lainnya.

Nah, dalam tulisan kali ini sebenernya tidak membahas mengenai tenaga dalam yang sesungguhnya. Bila kita perhatikan begitu cepatnya informasi baik melalui media televisi hingga media internet seolah tidak ada lagi batasan ruang dan waktu, terutama internet yang memang untuk beberapa kalangan belumlah dipahami secara mendalam, fungsi dan kegunaannya, media ini bisa bermanfaat bisa juga sebaliknya, seperti pisau yang memiliki dua sisi yang tajam namun bisa digunakan untuk apa saja.

Bukanhal baru bila kita menyaksikan ragam perguruan silat dimancanegara begitu gemncar mempromosikan pencak silat melalui media ini, bahkan mereka telah melakukannya jauh sebelum kita melek teknologi, ajang promosi ini memang sangat bermanfaat bagi mereka dalam melebarkan sayap perguruannya hingga terkadang ada saja yang memanfaatkan internet untuk promosi perguruan yang sebenarnya di Indonesia tidak ada, namun dengan dalih yang mereka buat seolah-olah menjadi sebuah perguruan yang original dari negera asalnya.

Menurut salah satu sumber bahwa terlalu mudahnya guru-guru silat mengajarkan silat kepada orang asing menyebabkan beberapa aliran atau pergruan silat yang dibajak namanya, dan ini sekali lagi bukan hal baru, karena Persilat pun sebenarnya mengetahui ke originalnya sebuah pergruan dari silsilahnya.

Bahkan saya sendiri pernah bertemu dengan seseorang pesilat dari mancanegara yang berlatih hanya 3 tahun indonesia dan mendapatkan sertifikat sebagai pelatih ternayata di negeranya mereka membuat perguruan baru dengan namanya pun diberi embel-embel “pendekar” atau malah “maha guru”. Lucu bukan

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti ini, yap karena mereka anggap bahwa orang indonesia tidak memanfaatkan tenaga dalam yang luar biasa ini, tidak lain adalah “Internet:”, internet adalah tenaga dalam didepan kita yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Keseimbangan informasi harus diciptakan melalui media ini, sehingga mereka yang mengaku-mengaku maha guru dari salah satu aliran pencaksilat indonesia, akan sungkan, karena kebohongan yang mereka lakukan dapat terbaca oleh kita disini. Dan salah satu nasehat dari sesepuh di IPSI menyatakan “jangan terlalu mudah menjual pencak silat ke mancanegara” bagaimanapun juga pencak silat adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan dimanfatkan untuk kebenaran, sebagai pendekar sejati.

Nah begitu saktinya internet melalui tenaga yang dikandungnya menyadarkan kita untuk berbuat sesuatu, setidaknya kita harus banyak menumpahkan apresiasi kita melalui media ini, link-link harus tercipta dari kalangan pesilat ditanah air, untuk membangun pencak silat bersama. Dan istilah katak dalam tempurungpun harus cepat-cepat di jawab dengan pemikiran yang terbuka, istilah lainnya adalah” boleh-boleh saja kita fanatis kepada perguruan silat kita, namun jangan sampai sifat fanatisme itu menutup pemikiran kita”, ”boleh kita mengunci rapat-rapat ilmu silat kita, namun jangan pemikiran kita”. Karena dengan pemikiran terbuka kita bisa bersama sama bergandengan tangan melalui media internet untuk membangun pencak silat, dan sekali lagi di dunia ini tidak ada yang sakti, tidak ada yang abadi jadi bila dengan sikap kehati-hatian, kita pasti bisa menciptakan pencak silat menembus ruang dan waktu (bukan lagi dunia).

SketsaJune 1, 2006 5:16 pm

Jogja berduka

Saat tulisan ini aku ketik, saudara-saudara kita di Jogjakarta baru saja mengalami bencana alam gempa bumi, melalui televisi dapat disaksikan betapa kuat gempa tersebut menguncang Yogja dan Jawa Tengah tidak pelak lagi korban banyak yang berjatuhan, dan rumah-rumah rubuh dan rusak. Tentunya kami dari silat Indonesia turut ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas bencana yang terjadi dan memakan korban jiwa, semoga ketabahan menyertai saudara-saudara kita yang tertimpa bencana.

Sketsa 5:15 pm

“Untuk mengerjakan suatu pekerjaan besar, Tidak diperlukan orang-orang besar, yang diperlukan adalah orang yang berdedikasi. Orang-orang biasa, kalau cukup berdedikasi dapat mewujudkan hal-hal yang luar biasa.”

Kata-kata bijak ini memberikan sedikit gambaran bahwa setiap manusia dibekali kemampuan yang luar biasa, dengan dedikasi dan tanggung jawab yang dimilikinya tidak mustahil suatu hal yang terlihat sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa.

Begitupun ketertarikan kawan-kawan dalam milis silatbogor, cukup menarik melihat simpati kawan-kawan dimilis pencak silat ini dalam diskusinya akhir-akhir ini, melihat dari semangat dan juga opini yang berkambang terlihat sekali bahwa anggapan pencak silat yang selama ini merupakan beladiri yang kaku dan tertutup nampaknya tidak terlihat dari perbincangan dalam milis tersebut.

Walupun belum banyak pesilat yang bergabung dalam milis tersebut tidak akan menyurutkan semangat dalam kolaborasi dalam membangun opini positif. Seperti contoh wacana pelestarian pencak silat tradisional yang diangkat dalam forum tersebut mengisyaratkan bahwa ada tujuan yang menjadi cita-cita yang mudah-mudahan saja mendapatkan dukungan dari pesilat hingga organisasi pencak silat di Indonesia.

Orientasi global memang saatnya diangkat dalam berkomunitas, tidak membeda-bedakan perguruan dan aliran yang mereka ikuti, perbedaan adalah sebuah tanda kekayaan pencak silat yang memang beragam. Kekayaan inilah yang menjadi tujuan utama untuk memberikan kesadaran pada kita khususnya pesilat ataupun praktisi pencak silat bahwa jangan sampai terjebak pada pandangannya yang sempit.

Memang berpandangan global bukanlah solusi pencak silat dimasa yang akan datang akan lebih maju, namun setidaknya ada rasa kebersamaan dan kepedulian sesama pecinta pencak silat agar pencak silat tersebut tetap lestari. Dan bukan tidak mungkin sebuah diskusi yang selama ini berkembang akan memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan pencak silat tersebut.

Forum pecinta pencak silat tradisional itulah rencana yang akan mengawali pembentukan forum ini, dan kelihatannya memang sulit dan membutuhkan pemikiran-pemikiran yang terbuka dan cerdas dalam merealisasikannya, karena bila melihat sumber daya manusia yang ada terutama member-members dalam forum tersebut memang belumlah terlalu banyak, oleh sebab itu perlunya sosialisasi kepada pecinta pencak silat lainnya di Tanah Air agar konsep yang ditawarkan menjadi sebuah konsep yang dapat mendorong kemajuan pemahaman terhadap pandangan-pandangan sempit yang selama ini menjadi tradisi perguruan silat yang takut kehilangan murid-muridnya dan hengkang keperguruan lain.

Kita telah lama menganggap pencak silat sebagai olahraga yang menjadi milik seseorang atau organisasi tertentu, sehingga tidak sedikit keseimbangan informasi malah membuat pencak silat berpaku pada salah satu perguruan besar, namun sepatutnya sebuah perguruan besar dengan jumlah pesilat-pesilatnya dapat memberikan arahan-arahan atau pemikiran bahwa kekayaan dan keragaman ini bukanlah menjadi persaingan yang negative namun menjadi rasa persaudaraan yang kokoh seperti apa yang diemban oleh pencak silat sebagai salah satu alat silaturahmi yang akan membuat ikatan-ikatan batin yang kuat tidak hanya dalam perguruannya semata namun lebih dari itu yaitu pencak silat pada umumnya.

Catatan : pernahkah anda melihat sebuah kejuaraan pencak silat antar perguruan, dimana persaingan dalam sportifitas dijunjung tinggi sebagai salah satu ciri khas pencak silat, dimana keseluruhan agenda kejuaraan tersebut merupakan niat yang luhur.., tidak hanya mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun dari itu semua seharusnya terbesit dalam benak kita bahwa kejuaraan antar perguruan silat ini adalah acara besar, acara dimana komunitas atau masyarakat pencak silat dapat bersilaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.