Membangun komunitas pencak silat
Membangun komunitas pencak silat
Seperti hakiki mahluk hidup yang pasti saling beda satu dengan yang lainnya, dua bersaudara kembar siam pun atau bahkan hasil kloningpun, tetap saja berbeda. Bisa jadi ada beda berat badan, panjang rambut hingga beda dalam cara perpikir, dan inilah yang disebut dengan hakiki kehidupan, selalu ada perbedaan dan keunikan.
Salah satu cara menjebatani perbedaan adalah melalui belajar dan bersosialisasi dengan mahluk hidup lainnya, dalam membentuk sebuah komunitas yang unik, jujur dan terbuka. Lalu apakah saat ini pencak silat membutuhkan semua itu?, pertanyaan yang tentunya tidak mudah dijawab namun gampang dicerna oleh batin kita, karena sifat dasar manusia adalah kebutuhan ikatan manusia yang satu dengan manusia lainnya sebagai mahluk social.
Perguruan pencak silat adalah salah satu komunitas yang sifatnya lebih formal dan memiliki aturan atau birokrasi yang sudah ditetapkan, melalui perguruan inilah pesilat diasah menjadi pesilat yang memiliki loyalitas terhadap perguruannya, tentunya loyalitas tersebut tumbuh dari kesadaran dan kecintaan yang mendalam, bahkan terkadang membuahkan sifat fanatisme.
Sifat fanatisme lahir karena adanya factor persaingan dengan perguruan ataupun dengan organisasi pencak silat lainnya, hal ini adalah wajar manusia akan membela sebuah jati diri yang telah membangun dan menciptakan dirinya. Begitu pentingnya kah rasa atau sifat fanatisme?, tergantung dari sisi mana kita melihat dan merasakan fanatisme tersebut.
Untuk menghindari fanatisme yang merugikan tentunya perguruan pencak silat mulai membangun rasa keterbukaan dan keseimbangan dalam informasi, sehingga terciptanya rasa kebersamaan dengan pesilat dari perguruan lainnya. Kesadaran bahwa setiap manusia hingga organisasi dalam hal ini adalah perguruan, pasti memiliki perbedaan dan keunikan, factor inilah yang seharusnya menjadi alasan bahwa persaingan antara perguruan satu dengan perguruan lainnya, adalah persaingan dalam kualitas dalam berbagai hal.
Dalam membangun kompetisi dalam berorganisasi perguruan pencak silat memiliki organisasi induk yang mewadahi mereka, melalui IPSI inilah ragam perguruan ditampung dalam satu visi dan misi yang terarah tanpa menghilangkan keunikan yang dikandung setiap perguruan. Iklim kompetisi yang dilakukan IPSI adalah membangun pembinaan atlit yang berprestasi, tentunya IPSI harus mulai mempertimbangkan kompetisi yang saat ini dijalankan, masih banyak puluhan perguruan yang belum dijangkau oleh IPSI, sehingga ditakutkan akan timbul kecemburuan yang sifatnya merugikan.
Kompetsisi bukan ditujukan untuk ‘menusia menajamkan manusia’, mencapai hasil terbaik dan itu dinikmati oleh satu organisasi semata, cara yang terbaik adalah bagaimana agar seluruh potensi pencak silat dapat dinikmati hasilnya bersama, tentunya orientasi bersama dalam hal kemajuan dan bukan hirarki semata, dengan melihat prestasi, akan timbul kebutuhan evaluasi dan adaptasi terhadap pencapaian – pencapaian yang diharapkan dan tidak melupakan proses awal, walaupun budaya adaptasi terhadap keragaman perguruan yang ada secara tidak langsung berorientasi pada komunitas.
Komunitas yang diharapkan menjebatani kebutuhan-kebutuhan setiap organisasi tidak harus lahir dari birokrasi namun melalui kesadaran untuk berfikir terbuka dan bekerja sama dengan berbagai pihak dengan menerapkan pendekatan holistic yang fleksibel yakni kemampuan untuk melibatkan, mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan semua pihak dalam komunitas tersebut.
Idelanya memang sebuah komunitas terbentuk dari orang-orang yang berniat tanpa pamrih dalam tujuan yang jelas, tujuan tersebut dapat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan perlu, salah satu contohnya adalah membantu IPSI dalam memasyarakatkan pencak silat dengan cara yang tentunya lebih umum, dapat pula komunitas tersebut melakukan apa yang belum dilakukan oleh perguruan ataupun organisasi lain, sehingga tidak ada tumpang tindih kepentingan yang seharus dapat diselaraskan.
Sekali lagi memang tidak mudah membangun sebuah komunitas ditengah-tengah kepentingan yang berbeda, namun melalui pendekatan diharapkan semakin banyak dukungan terhadap komunitas tersebut, dalam bekerja sama dan meluangkan sedikit waktu dalam suasana berbagi dengan tujuan satu dan niat yang esa, sehingga komunitas tersebut lahir sebagai jembatan yang mewadahi segala kepentingan yang positif.
Dalam era teknologi yang terus akan berkembang, jarak dan waktu seakan tidak dibatasi, mungkin cara yang paling tepat saat ini adalah membangun komunitas tersebut melalui fasilitas internet dalam mailing-list (milis) yang sejak lama banyak dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif dan kini tinggallah kita merealisasikan sebuah komunitas pencak silat melalui milis yang kita impian kita bersama.
Yanweka

ikut gabung dalam komunitas un tuk saling berdiskusi bagi perkembangan warisan budaya bangsa
Comment by Kornelis J. Irawan S. Indarto — December 29, 2006 @ 11:10 am