SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

May 10, 2006

Silat tradisional seperti diujung tanduk

Filed under: Sketsa

Silat tradisional seperti diujung tanduk

Pencak silat yang berkembang pesat saat ini baik didalam maupun diluar negeri sangat membanggakan kita sebagai pewaris budaya dimasa ini maupun yang akan datang, dengan dukungan organisasi yang baik dan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan sayap perguruananya hingga tetap diminati oleh mayarakat dunia.

Pencak silat dikenal tidak hanya sebagai olahraga beladiri karena ada 4 aspek yang terdapat pada olahraga ini, sejak tergabung dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga prestasi. Jadi, keluarannya adalah prestasi, bukan seni ataupun beladiri murni yang banyak diajarkan di silat tradisonal.

Namun harapan bahwa pengembangan pencak silat tidak melulu pada olahraga prestasi sebenarnya juga telah dilakukan oleh IPSI melalui kegiatan pencak silat seni yang pernah diselenggarakan beberapa waktu lalu, namun memang belum semua pencak silat tradisional ini dapat diangkat kepermukaan dan diperkenalkan kepada masyarakat pencak silat lainnya. Salah satu kendala adalah masih sulitnya pendataan silat tradional ini, apalagi kalau pencak silat tersebut belum bergabung dengan IPSI.

Pentingnya pelestarian pencak silat seni merupakan wacana pokok dalam sebuah forum diskusi melalui milis pencak silat Indonesia akhir-akhir ini, walaupun bukan yang pertama sebagai pengagasnya namun niat luhur ini sepatutnya mendapatkan dukungan dari beberapa organisasi pencak silat maupun perguruan pencak silat yang memang memiliki orientasi global.

Pencak silat tradiosional memnag sering terlupakan karena memang perkembangannya dipelosok-pelosok daerah dan juga karena kurangnya informasi tentang pencak silat itu, salah satu pencak silat tradiosnal yang berada diwilayah Jakarta saja banyak yang tidak terangkat kepermukaan apalagi pencak silat yang berada didearah lain yang lebih terpencil.

Pencak silat Tradisional memang memiliki keunikan dalam proses pewarisan keilmuannya, terutaman melalui keluarga terdekat sang pewaris, ini dikarenakan kurang banyak minat pemuda ataupun masyarakat pencak silat untuk mengetahuinya, memang terkadang ada pula beberapa perguruan silat tradional menutup rapat-rapat keilimuan kepada masyarakat luar, namun juga banyak silat tradional yang membuka seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mempelajarinya.

Begitu pentingkah pencak silat tradisional dilestarikan, tentu saja karena tidak sedikit pencak silat yang unik dan memiliki keampuhan beladiri dan bernilai sejarah ternyata tidak ditemukan saat ini, lalu siapakah yang wajib memberikan perhatian kepada pencak silat tradiosnal ini, tentunya bangsa Indonesia melalui lembaga-lembaga yang mengkhususkan pada pelestarian budaya bangsa maupun melalui organisasi pencak silat seperti IPSI dan Perguruan – perguruan besar.

Tidak sedikit tercatat perguruan-perguruan besar di Indonesia yang memiliki organisasi yang bagus dan dapat menjadi contoh bagaimana mengelola sebuah perguruan. Idealnya bagi perguruan-perguruan besar dapat memberikan dukungan untuk pergururuan-perguruan kecil ataupun menunjukkan rasa kepedulian terhadap sesama aliran silat dalam memberikan dukungan ataupun kerjasama yang saling menguntungkan.

Andaikan perguruan – perguruan yang sudah mapan dan memiliki financial yang bagus dapat bekerjasama membentuk satu badan khusus yang berkerja untuk menjaga asset bangsa ini dengan cara system bapak angkat ataupun system yang dapat memberikan dukungan pelestarian pencak silat tradisional yang sifatnya melembaga dan dapat diikuti oleh seluruh masyarakat pencak silat. Tentunya ada harapan bagi silat tradisional kembali hidup.

Kerjasama seperti ini memang belum pernah terjadi, karena setiap perguruan memiliki ego (Aturan yang baku ) yang ternyata cukup tinggi, andaikan mereka dapat membantu sesama pencak silat tentunya hal ini bukanlah masalah, lagi pula tanggung jawab ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tentunya pemerintahpun selama ini memberikan dukungan terhadap perguruan-perguruan besar saja.

Mungkin hanya masalah waktu, bila wacana tersebut digulirkan harapan besar selalu ada, dan pencak silat tradisionalpun dapat dijaga kelestariannya, minimal tidak punah dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Tinggallah kini kita membuka mata hati dan wawasan yang lebih luas, dalam ikut serta melestarikan budaya bangsa.

Yanweka

May 3, 2006

Membangun komunitas pencak silat

Filed under: Sketsa

Membangun komunitas pencak silat

Seperti hakiki mahluk hidup yang pasti saling beda satu dengan yang lainnya, dua bersaudara kembar siam pun atau bahkan hasil kloningpun, tetap saja berbeda. Bisa jadi ada beda berat badan, panjang rambut hingga beda dalam cara perpikir, dan inilah yang disebut dengan hakiki kehidupan, selalu ada perbedaan dan keunikan.

Salah satu cara menjebatani perbedaan adalah melalui belajar dan bersosialisasi dengan mahluk hidup lainnya, dalam membentuk sebuah komunitas yang unik, jujur dan terbuka. Lalu apakah saat ini pencak silat membutuhkan semua itu?, pertanyaan yang tentunya tidak mudah dijawab namun gampang dicerna oleh batin kita, karena sifat dasar manusia adalah kebutuhan ikatan manusia yang satu dengan manusia lainnya sebagai mahluk social.

Perguruan pencak silat adalah salah satu komunitas yang sifatnya lebih formal dan memiliki aturan atau birokrasi yang sudah ditetapkan, melalui perguruan inilah pesilat diasah menjadi pesilat yang memiliki loyalitas terhadap perguruannya, tentunya loyalitas tersebut tumbuh dari kesadaran dan kecintaan yang mendalam, bahkan terkadang membuahkan sifat fanatisme.

Sifat fanatisme lahir karena adanya factor persaingan dengan perguruan ataupun dengan organisasi pencak silat lainnya, hal ini adalah wajar manusia akan membela sebuah jati diri yang telah membangun dan menciptakan dirinya. Begitu pentingnya kah rasa atau sifat fanatisme?, tergantung dari sisi mana kita melihat dan merasakan fanatisme tersebut.

Untuk menghindari fanatisme yang merugikan tentunya perguruan pencak silat mulai membangun rasa keterbukaan dan keseimbangan dalam informasi, sehingga terciptanya rasa kebersamaan dengan pesilat dari perguruan lainnya. Kesadaran bahwa setiap manusia hingga organisasi dalam hal ini adalah perguruan, pasti memiliki perbedaan dan keunikan, factor inilah yang seharusnya menjadi alasan bahwa persaingan antara perguruan satu dengan perguruan lainnya, adalah persaingan dalam kualitas dalam berbagai hal.

Dalam membangun kompetisi dalam berorganisasi perguruan pencak silat memiliki organisasi induk yang mewadahi mereka, melalui IPSI inilah ragam perguruan ditampung dalam satu visi dan misi yang terarah tanpa menghilangkan keunikan yang dikandung setiap perguruan. Iklim kompetisi yang dilakukan IPSI adalah membangun pembinaan atlit yang berprestasi, tentunya IPSI harus mulai mempertimbangkan kompetisi yang saat ini dijalankan, masih banyak puluhan perguruan yang belum dijangkau oleh IPSI, sehingga ditakutkan akan timbul kecemburuan yang sifatnya merugikan.

Kompetsisi bukan ditujukan untuk ‘menusia menajamkan manusia’, mencapai hasil terbaik dan itu dinikmati oleh satu organisasi semata, cara yang terbaik adalah bagaimana agar seluruh potensi pencak silat dapat dinikmati hasilnya bersama, tentunya orientasi bersama dalam hal kemajuan dan bukan hirarki semata, dengan melihat prestasi, akan timbul kebutuhan evaluasi dan adaptasi terhadap pencapaian – pencapaian yang diharapkan dan tidak melupakan proses awal, walaupun budaya adaptasi terhadap keragaman perguruan yang ada secara tidak langsung berorientasi pada komunitas.

Komunitas yang diharapkan menjebatani kebutuhan-kebutuhan setiap organisasi tidak harus lahir dari birokrasi namun melalui kesadaran untuk berfikir terbuka dan bekerja sama dengan berbagai pihak dengan menerapkan pendekatan holistic yang fleksibel yakni kemampuan untuk melibatkan, mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan semua pihak dalam komunitas tersebut.

Idelanya memang sebuah komunitas terbentuk dari orang-orang yang berniat tanpa pamrih dalam tujuan yang jelas, tujuan tersebut dapat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan perlu, salah satu contohnya adalah membantu IPSI dalam memasyarakatkan pencak silat dengan cara yang tentunya lebih umum, dapat pula komunitas tersebut melakukan apa yang belum dilakukan oleh perguruan ataupun organisasi lain, sehingga tidak ada tumpang tindih kepentingan yang seharus dapat diselaraskan.

Sekali lagi memang tidak mudah membangun sebuah komunitas ditengah-tengah kepentingan yang berbeda, namun melalui pendekatan diharapkan semakin banyak dukungan terhadap komunitas tersebut, dalam bekerja sama dan meluangkan sedikit waktu dalam suasana berbagi dengan tujuan satu dan niat yang esa, sehingga komunitas tersebut lahir sebagai jembatan yang mewadahi segala kepentingan yang positif.

Dalam era teknologi yang terus akan berkembang, jarak dan waktu seakan tidak dibatasi, mungkin cara yang paling tepat saat ini adalah membangun komunitas tersebut melalui fasilitas internet dalam mailing-list (milis) yang sejak lama banyak dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif dan kini tinggallah kita merealisasikan sebuah komunitas pencak silat melalui milis yang kita impian kita bersama.

Yanweka






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft