Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2006, PB. IPSI mengadakan Kejuaraan Nasional Pencak Silat Putri 2006 yang berlangsung 2 hari di Kawasan Padepoakan Nasional Pencak Silat Indonesia.

Acara ini sekaligus merupakan refleksi untuk penghargaan kepada salah satu pahlawan sekaligus tokoh “perempuan” yaitu Raden Ajeng Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879, yang perjuangannya dalam memperjuangkan hak dan derajat kaumnya.

Sosok Ibu Kartini adalah wanita yang anggun tetapi memiliki semangat juang tinggi, Tidak salah kalau sebagai tanda penghormatan atas jasa-jasanya, tanggal kelahiran Ibu Kartini selalu kita peringati. Tetapi akan lebih berarti lagi jika kita bukan sekadar mengetahui atau merayakannya. Yang penting adalah justru meneruskan apa yang dicita-citakan ibu kita itu.

Perjuangan kartini-kartini dimasa era globalisasi saat ini perlu diresapi dengan pengetahuan terutama wawasan ilmu dan persamaan hak sesuai dengan kemampuan seorang wanita, dan tidak salah lagi salah satu kegiatan kejuraaan yang berorientasi prestasi digelar khusus pesilat putri yang dibuka oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono belum lama ini.

Prestasi pesilat Putri dalam ajang kejurnas saat ini kelihatannya cukup merata walaupun prestasi atlit dari Jawa Barat masih mendominasi. Namun semangat pesilat pada umumnya cukup diberikan aplus yang baik, sebagai contoh Atlit dari Kalimantan yang datang dengan teamnya, ada sedikit keunikan dari pesilat –pesilat Kalimantan ini, terutama disaat acara pembukaan waktu lalu yg mereka menampilkan kesenian daerahnya yg cukup unik.

Pencak Silat Indonesia memang sedang mengalami masa krisis prestasi, dimana pesilat putrid beberapa kali gagal meraih prestasi di Tingkat Asia maupun dunia, kegagalan ini menjadi soroton PB. IPSI terhadap prestasi pencak silat di Indonesia. Tentunya kejuaraan ini akan membangkitkan gairah bagi pencak silat Putri pada khususnya.

Lalu ada pertanyaan “apakah Indonesia masih tetap sebagai Negara sumber Ilmu Pencak silat “, jawabannya paling mudah adalah “MASIH” karena secara esensi Indonesia masih merupakan Negara yang memiliki aliran silat yang cukup banyak, dan tentunya kalah atau menang dalam sebuah kejuaraan bukanlah sebagai tolak ukur keilmuan.

Selain itu masih banyak aliran yang belum tergali karena sifatnya yang masih tradisional dan tidak diajarkan secara umum, namun kita yakin kerjakeras IPSI dalam mengungkap pencak silat Indonesia sebagai asset bangsa akan tetap dilakukan, sedangkan apresiasi bahwa pencak silat dapat dilombakan sebagai olahraga yaitu melalui lomba dan kejuaraan.

Peran pesilat Putri dalam kancah kejuaraan maupun dalam pengembangan pencak silat sebenarnya sangat dibutuhkan, oleh sebab itu acara acara kegiatan seperti kejuaraan khusus putri diharapkan akan menumbuhkan kesadaran bagi pesilat putri untuk tetap berkonsentrasi dalam olahraga ini maupun melalui seni yang dikandungnya.

Dengan harapan bahwa Indonesia tidak hanya kaya akan budaya namun kaya akan pesilat perempuan yang memiliki wawasan dan tentunya semangat juang seperti apa yang dicita-citakan oleh Ibu Kartini dahulu.

Yanweka – Catatan Kejurnas Putri 2006