Suasana stasiun tebet malam inimasih saja ramai, sudah dua rangkaian kereta api melintas di stasiun ini, namun sesaknya penumpang didalamnya tak sanggup lagi menampung penumpang yang berebut masuk kedalam gerbong.
Saya bersama kawan-kawan lainnya hanya berusaha bersabar menunggu kereta lainnya yang akan lewat, karena bila dipaksakanpun malah menyulitkan diri sendiri.
Malam ini memang malam special bagi kami, dimana kami akan mengikuti acara budaya masyarakat Jabar yang sudah dilaksanakan turun temurun oleh salah satu perguruan pencak silat yang bertepatan dengan malam syuro dan Malam Tahun Baru Islam.
Acara tersebut adalah Ngabumbang yang artinya adalah berendam di sungai, yang konon tujuannya adalah untuk mensucikan diri. Tentu ini adalah salah satu ritual budaya sehingga kami menyakini niat kami hadir disana hanya minta Ridhonya Allah semata.
Sudah hampir satu jam kami menunggu kereta api lainnya yang datang namun masih saja berjubelnya penumpang, sehingga sedikit menyurutkan niat kami menggunakan kareta api, namun tiba-tiba suara dari dalam garbong ada yang memanggil-manggil kami untuk segera naik, tanpa pikir panjang lagi kami dengan sedikit memaksakan diri untuk masuk.
Ternyata teman-teman dari ranting lain sdh berada di dalam gerbong yang naik dari stasiun manggarai. Ada perasaan bangga juga karena hanya mengenakan jaket ciri khas perguruan silat kami bisa dikenali dengan temen-teman satu perguruan lainnya, walaupun sebenarnya kami pun tak mengenalnya.
Satu setengah jam berada dikereta api, sampailah kami di bogor, kota hujan yang berudara sejuk, dan memang begitu keluar dari kerata api rasanya saya tak henti-herntinya menarik nafas panjang seolah berusaha menghikangkan rasa penat selama didalam kerata api.
Bila diperhatikan jumlah kamipun menjadi membengkak perkanalan pun mengiringi perjalanan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju pusat perguruan di kota bogor ini. Dimana alamatnya saya sendiri tak pernah tahu, tapi letaknya mungkin tak akan saya lupakan mungkin hingga detik ini.
Memasuki perkampungan, penduduk sekitar sudah mengetahui tujuan kami, anehnya sapaan ramah penduduk disini memberikan kami
Kamipun harus melewati jembatan kali ciliwung, sungai yang menyebakan Jakarta sering menerima kiriman banjir, kurang lebih 100 meter dibawah sana masih ada satu sunggai lagi, yaitu sungai cisadane. Yang airnya lebih berkelombang dengan batu-batu besar didalamnya.
Dan inilah tanda bahwa kami telah sampai di lokasi yang kami tuju. bunyi pengeras suara yang tak begitu keras terdengar, sepertinya menandakan acara telah dimulai sejak tadi, saya mengendap-endap untuk maju kebarisan depan, karena bilsa dibelakang tentunya saya tidak bisa mengikuti acara dengan leluasa.
Pakaian pencak silat wajib dikenakan untuk masuk dan mengikuti acara ini, sehingga baju hitam-hitam ini menjadi cukup dominan, hanya beberapa orang saja yang tak menggenakan seragam dan nampaknya mereka adalah penduduk sekitar yang juga ingin mengetahui acara tersebut.
Acara di isi oleh ceramah agama, atraksi jurus silat, seni dan tanaga dalam, termasuk nanti malan tepatnya tengah malam kita bersama sama akan berendam selama kurang lebih 10 menit. Itulah acara paling terakhir alias acara penutupan.
Ada pesilat belanda yang sudah hamper satu tahun ini berguru dengan Guru besar perguruan silat ini, tentunya rasa ingin tahu membuat saya dan temen-teman berusaha mendekatnya.
Suasana semakin meriah di isi oleh acara ramah tamah oleh sesupuh perguruan dan Guru besar yang bercerita penuh keakraban kepada kami, apalagi mayoritas pesilat yang hadir masih berusia muda, cerita-cerita yang mengalir memang cukup membuat kami terbawa oleh alur cerita yang disampaikan oleh Guru besar.
Sepertinya guru besar cukup memahami usia kami sehingga cerita ringan dan sedikit kocak membuat kami semakin menikmati cerita yang diselingi oleh nasehat-nasehat yang disampaikan.
Begitu pula dengan Pesilat belanda pun tak ketinggalan menceritakan pengalamannya yang unik dengan bahasa Indonesia yang cukup jelas kami tangkap.
Banyakpertanyaan yang kami lontarkan agakkonyol danpolos kepadanya, tentu saja disambiut tawa pesilat-peilat lainnya, kami melihat sesuatu yang baru di depan kami, dimana kami bisa bercakap-cakap dengan orang belanda tersebut.
Waktu menunjukkan hamper jam 12 malan masih kurang 15 mnit lagi acara pun ditutup dengan doa dan kami bersiap-siap menuju pinggir sunggai yang airnya cukup deras, sungai cisadane malam ini begitu dingin, saya mencoba memasukkan kaki kedalam air, rasanya langsung merinding.
Sebelum terjun kedalam air kami diberikan aturan-aturan agar acara berjalan lancer, karena jumlah pesilat yang akan berendam cukup banyak, dan saya melihat beberapa pesilat senior nampak sibuk mengatur kami yang memang agaksulit di atur.
“Semua masuk kedalam air” perintah salah satu pelatih memberi aba-aba, dengan rasa sedikit takut yang menyelimuti perasaan ini,aku tetap melangkahkan kaki ke tengah sungai yang airnya benar-bebar dingin, tubuhku merinding dibuatnya.
Aba-aba guru besar untuk membaca doa basmalah kami ikuti sambil berendam didalam air hanya sebatas kepala, sambil menahan dingin saya niatkan membaca basmalah dengan rasa khusuk, entahlah suasana seketika hening, hanya suara gemercik air yang tersisa dalam pendengaran kami, doa-doa dipanjatkan oleh guru besar yang cukup jelas kami denger dari sini.
10 menitpun berlalu dengan rasa khusuk yang masih menyelimuti hati saya, acara ngabumbangpun usai, guru besarpun memrintahkankami untuk segera meninggalkan air, dan sebagain besar pesilat meninggallkan sunggai untuk kembali,
namun saya dan juga beberapa masih senang didalam air, aku coba diam-diam berenang kesana kemari dengan riang gembira dan rasanya enak betul yach berenang di tengah gelap gulita. Pelatih lain memberikan tanda kepada kami unyuk meninggal kan air, namiun tetap saja sifat nakal saya dan sebagian pesilat yang mayoritas seumuran ini membuat repot para pelatih yang berteriak-teriak untuk menghimbau kami segera meninggalkan air.
Namun himbauan itu tak mengubris kami sedikipun, kami dengan suka cita bermain air sambil bercanda denga pesilat lainnya membuat pelatih semakin memperingati kami dengan nada yang keras.
tiba – tiba terdengar suara yang membuat kaget kemi “awas ada buaya” yang kami dengar membuat kami yang masih ada di air menjadi panic bukanmain,dan saya pun sempat keget bukan kepalang, dan berlari menuju pinggir sungai dengan sedikit wajah memucat.
“Hahahaha…”, suara tawa pelatih dari seberang sungai terpingkal-pingkal melihat kami lari tunggang langgang, ‘Ah ternyata hanya tipuan belaka’ bisikku, namun cara ini bener-bener sakti hamper smeua pesilat tak terlihat lagi di dalam air.
Wajarlah kami percaya dengan kondisi sungai yang bening berbatu dan dikanan kiri sungai masih ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan semak belukar, tentu saja keadaan sungai seperti itu memang cukup beralasan, bila masih di temui seekor biaya ataupun binatang lainnya.
Kami kembali ke pusat perguruan dengna wajah tetap ceria, senda gurau pun tetap mewarnai kami,diiringi pelatih yang masih tersenyum meolihat kami.
Makan malam pun tersedia setelah kami bersalin baju yang basah kuyup, tak terasa saya berkenalan dengan teman-teman dari daerah lain, antara lain dari Jakarta, bogor, cibinong, bekasi dan beberapa kota di daerah banten lainnya.
Makan malam dengan lauk pauk yang sederhana namun rasanya cukup enak kami lahap bersama, tak terasa waktu sudah jam 1 malam, saya pun mencari lokasi untuk tidur, dan saya pilih rumah pak Guru Besar, sedangkan lainnya lebih memilih bergadang sambil ngobrol dengan pesilat belada yang setia meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkam.
Saya tertidur dengan rasa bahagia, hari ini benar-benar special buat saya, dimana saya banyak mendapatkan pelajaran yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Ternyata dengan ikut pencak silat saya dapat memetik pelajaran bahwa bangsa ini memilki ragam budaya yang unik, tapi mengapa anak-anak muda seusia kami tidak tertarik pada budaya bangsa ini.
Tak terasa saya sudah terlelap dalam tidur, dengan mengucapkan banyak terima kasih kepada Allah, yang memberikan hari-hari indah. Dan saya nyakin esok hari matahari akan bersinar dengan indah.
By : Yanweka
Catatan kecil ngabumbang 1992 Bogor Jawa Barat.