SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaApril 1, 2006 5:11 pm

Dunia menjadi semakin semarak dengan semakin berkembangnya dunia Teknologi, segala sendi kehidupan seolah dimanjakan dengan aneka produk hasil pengembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang.

Manfaat ini cukup bisa dirasakan oleh semua orang, sebagai contohnya HP atau telpon Seluler, sampai-sampai dari tukang bakso hingga petani memilikinya karena memang jangkaun HP semakin hari samakin luas.

Bagaimana dengan teknologi lainnya, misalnya Internet yangjauh sebelumnya sudah merebak dan pernah booming ditahun millennium yang lalu?

Internet memang masih sangat terbatas pada masyarakat menengah ke atas, karena perkembangan teknologi ini pun sebenarnya juga telalu cepat, hingga banyak orang yang mengeluh bahwa dunia computer sulit sekali di kejar, baru belajar satu tumbuh seribu, jadi semakin pusing dan sedikit membuat malas.

Lalu apa hubungnnya teknologi dengan silat? Yaaa.., tentu saja ada dong, coba kalau anda pernah ingat-ingat sekitar tahun 1995an, Internet sudah bisa saya nikmati, dan coba lihat juga berapa banyak situs Pencak Silat yang ada? Cukup banyak juga loh, mungkin lebih semarak pada masa itu kira-kira tahun 1994-1998an.

Walaupun bukan dibuat oleh Pesilat Indonesia, setidak-tidaknya bisa mewakili pencak silat di Internet bahwa silat juga sudah go International, dengan bukti banyaknya situs yang ada di Internet.

Belanda adalah salah satu pemilik situs-situs silat tersebut, ragam perguruan di publikasikan olehnya sebagai sarana promosi atau hanya sekedar memperkenalkan silat yang mereka pelajari dari Indonesia. Memang umumnya silat berasal dari Indonesia, walaupun Malaysia juga memiliki aliran – aliran yang sedikit sama.

Situs-situs pencak silat dewasa ini tetap masih banyak ditemui sebagian masih aktif sebagian lagi sudah tidak pernah di update sama sekali, hingga beritanya sedikit “basi”.

Bagaimana denga Indonesia, tentunya teknologi ini sudah tidak asing lagi saat ini, banyak perguruan silat di Indonesia yang memiliki situs bagi organisasinya, contohnya merpati putih, setia hati, Perisai diri, dan masih banyak lainnya.

Situs-situs tersebut memang lebih memfokuskan pada semangat perguruannya masing-masing, walaupun demikian secara umum situs-situs tidak mengkhususkan pada pangunjung dari perguruannya semata namun juga bagi masyarakat umumnya.

Ditengah semaraknya situs yang mengatasnamakan perguruan juga terdapat situs yang kelihatannya lebih umum, coba kunjungi situs yang berorientasi nasional ini melalui alamatnya di www.silatindonesia.com.

Situs ini memiliki misi dan visi sebagai sebagai situs pencak silat, beragam informasi terus di upayakan terkumpul dari bermacam-macam sumber dan koresponden yang mau bekerjasama dengan situs tersebut.

Tujuan situs silatindonesia.com sesungguhnya cukup baik, dan seharusnya mendapatkan dukungan dari kalangan silat dari latarbelekang perguruan yang saat ini berkembang. Dan satu tantangan situs ini adalah bagaimana mengupayakan agar situs ini menjadi situs yang dapat mewakili seluruh perguruan yang ada. Tentunya jawabannya adalah kita bersama mendukungnya dengan apa yang bisa kita lakukan, jadi tidak ada istilah masa bodoh, atau cuek saja.

Sumber : :)

Sketsa 4:40 pm

Baru-baru ini kejuaraan Pencak Silat antar Perguruan sedikit berbeda dengan sebelumnya, dimana sebelumnya setiap atlit diwajibkan menggunakan pakaian hitam-hitan tanpa logo perguruan yang ada hanya satu logo yaitu logi IPSI.

Namun kali ini sedikit berbeda, IPSI sepertinya ingin mencari suasana baru dalam hal kejuaraan antar perguruan yang akhir-akhir ini hanya diikuti oleh perguruan yang itu-itu saja.

Memang banyak pertanyaan kemanakah perguruan pencak silat lainnya?, jangan-jangan ada kejuaraan antar perguruan yang diselenggarakan selain IPSI, karena bosan dengan aturan-aturan yang dibuat oleh IPSI yang katanya terlalu mengkembiri pencak silat itu sendiri.

Kembali kemasalah sebelumnya, bahwa IPSI ternyata memiliki kreatifitas yang bagus juga, sehingga memikat perguruan untuk sedikit berbangga dengan pakaian khasnya masing-masing, ada yang hitam-hitam, ada yang merah-merah, ada yang kuning-kuning, dan lain-lainnya.

Tentu kalau dibayangkan menjadi cukup semarak bukan??, Nanti dulu ada yang kelewat kreatif juga nampaknya IPSI hingga ada perguruan yang menggunakan seragam IPSI maksudnya adalah atlit-atlit IPSI ikut juga dalam kejuaraan ini, lalu mewakili perguruan manakah mereka, atau jangan-jangan IPSI memposisiskan dirinya sebagai perguruan? Apakah bukan langkah mundur atau langkah maju.

Menjadi tandatanya yang cukup besar juga bagi penonton dan juga sebagian besar peguruan yang ikut dalam ajang ini, sebab kalau kejuaraan ini bertujuan mencari bibit pesilat dari perguruan yang ikut dalan kejuaraan tersebut mengapa IPSI bersusah payah menurunkan atlit gemblengannya.

Mungkin saatnya tetap berfikir positif saja dahulu, karena toh kejuaraan ini juga diprakarsai oleh IPSI, jadi terserah IPSI sajalah, anggap saja kejuaraan antar peguruan ini merupakan ajang TRYOUT menguji kemampuan Pesilat Perguruan dengan Pesilat dari IPSI.

Yang terakhir lalu siapa yang menang? Yah tonton sajalah, anggap saja hiburan 

Yanweka

Sketsa 4:45 am

Suasana stasiun tebet malam inimasih saja ramai, sudah dua rangkaian kereta api melintas di stasiun ini, namun sesaknya penumpang didalamnya tak sanggup lagi menampung penumpang yang berebut masuk kedalam gerbong.

Saya bersama kawan-kawan lainnya hanya berusaha bersabar menunggu kereta lainnya yang akan lewat, karena bila dipaksakanpun malah menyulitkan diri sendiri.

Malam ini memang malam special bagi kami, dimana kami akan mengikuti acara budaya masyarakat Jabar yang sudah dilaksanakan turun temurun oleh salah satu perguruan pencak silat yang bertepatan dengan malam syuro dan Malam Tahun Baru Islam.

Acara tersebut adalah Ngabumbang yang artinya adalah berendam di sungai, yang konon tujuannya adalah untuk mensucikan diri. Tentu ini adalah salah satu ritual budaya sehingga kami menyakini niat kami hadir disana hanya minta Ridhonya Allah semata.

Sudah hampir satu jam kami menunggu kereta api lainnya yang datang namun masih saja berjubelnya penumpang, sehingga sedikit menyurutkan niat kami menggunakan kareta api, namun tiba-tiba suara dari dalam garbong ada yang memanggil-manggil kami untuk segera naik, tanpa pikir panjang lagi kami dengan sedikit memaksakan diri untuk masuk.

Ternyata teman-teman dari ranting lain sdh berada di dalam gerbong yang naik dari stasiun manggarai. Ada perasaan bangga juga karena hanya mengenakan jaket ciri khas perguruan silat kami bisa dikenali dengan temen-teman satu perguruan lainnya, walaupun sebenarnya kami pun tak mengenalnya.

Satu setengah jam berada dikereta api, sampailah kami di bogor, kota hujan yang berudara sejuk, dan memang begitu keluar dari kerata api rasanya saya tak henti-herntinya menarik nafas panjang seolah berusaha menghikangkan rasa penat selama didalam kerata api.

Bila diperhatikan jumlah kamipun menjadi membengkak perkanalan pun mengiringi perjalanan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju pusat perguruan di kota bogor ini. Dimana alamatnya saya sendiri tak pernah tahu, tapi letaknya mungkin tak akan saya lupakan mungkin hingga detik ini.

Memasuki perkampungan, penduduk sekitar sudah mengetahui tujuan kami, anehnya sapaan ramah penduduk disini memberikan kami

Kamipun harus melewati jembatan kali ciliwung, sungai yang menyebakan Jakarta sering menerima kiriman banjir, kurang lebih 100 meter dibawah sana masih ada satu sunggai lagi, yaitu sungai cisadane. Yang airnya lebih berkelombang dengan batu-batu besar didalamnya.

Dan inilah tanda bahwa kami telah sampai di lokasi yang kami tuju. bunyi pengeras suara yang tak begitu keras terdengar, sepertinya menandakan acara telah dimulai sejak tadi, saya mengendap-endap untuk maju kebarisan depan, karena bilsa dibelakang tentunya saya tidak bisa mengikuti acara dengan leluasa.

Pakaian pencak silat wajib dikenakan untuk masuk dan mengikuti acara ini, sehingga baju hitam-hitam ini menjadi cukup dominan, hanya beberapa orang saja yang tak menggenakan seragam dan nampaknya mereka adalah penduduk sekitar yang juga ingin mengetahui acara tersebut.

Acara di isi oleh ceramah agama, atraksi jurus silat, seni dan tanaga dalam, termasuk nanti malan tepatnya tengah malam kita bersama sama akan berendam selama kurang lebih 10 menit. Itulah acara paling terakhir alias acara penutupan.

Ada pesilat belanda yang sudah hamper satu tahun ini berguru dengan Guru besar perguruan silat ini, tentunya rasa ingin tahu membuat saya dan temen-teman berusaha mendekatnya.

Suasana semakin meriah di isi oleh acara ramah tamah oleh sesupuh perguruan dan Guru besar yang bercerita penuh keakraban kepada kami, apalagi mayoritas pesilat yang hadir masih berusia muda, cerita-cerita yang mengalir memang cukup membuat kami terbawa oleh alur cerita yang disampaikan oleh Guru besar.

Sepertinya guru besar cukup memahami usia kami sehingga cerita ringan dan sedikit kocak membuat kami semakin menikmati cerita yang diselingi oleh nasehat-nasehat yang disampaikan.

Begitu pula dengan Pesilat belanda pun tak ketinggalan menceritakan pengalamannya yang unik dengan bahasa Indonesia yang cukup jelas kami tangkap.

Banyakpertanyaan yang kami lontarkan agakkonyol danpolos kepadanya, tentu saja disambiut tawa pesilat-peilat lainnya, kami melihat sesuatu yang baru di depan kami, dimana kami bisa bercakap-cakap dengan orang belanda tersebut.

Waktu menunjukkan hamper jam 12 malan masih kurang 15 mnit lagi acara pun ditutup dengan doa dan kami bersiap-siap menuju pinggir sunggai yang airnya cukup deras, sungai cisadane malam ini begitu dingin, saya mencoba memasukkan kaki kedalam air, rasanya langsung merinding.

Sebelum terjun kedalam air kami diberikan aturan-aturan agar acara berjalan lancer, karena jumlah pesilat yang akan berendam cukup banyak, dan saya melihat beberapa pesilat senior nampak sibuk mengatur kami yang memang agaksulit di atur.

“Semua masuk kedalam air” perintah salah satu pelatih memberi aba-aba, dengan rasa sedikit takut yang menyelimuti perasaan ini,aku tetap melangkahkan kaki ke tengah sungai yang airnya benar-bebar dingin, tubuhku merinding dibuatnya.

Aba-aba guru besar untuk membaca doa basmalah kami ikuti sambil berendam didalam air hanya sebatas kepala, sambil menahan dingin saya niatkan membaca basmalah dengan rasa khusuk, entahlah suasana seketika hening, hanya suara gemercik air yang tersisa dalam pendengaran kami, doa-doa dipanjatkan oleh guru besar yang cukup jelas kami denger dari sini.

10 menitpun berlalu dengan rasa khusuk yang masih menyelimuti hati saya, acara ngabumbangpun usai, guru besarpun memrintahkankami untuk segera meninggalkan air, dan sebagain besar pesilat meninggallkan sunggai untuk kembali,

namun saya dan juga beberapa masih senang didalam air, aku coba diam-diam berenang kesana kemari dengan riang gembira dan rasanya enak betul yach berenang di tengah gelap gulita. Pelatih lain memberikan tanda kepada kami unyuk meninggal kan air, namiun tetap saja sifat nakal saya dan sebagian pesilat yang mayoritas seumuran ini membuat repot para pelatih yang berteriak-teriak untuk menghimbau kami segera meninggalkan air.

Namun himbauan itu tak mengubris kami sedikipun, kami dengan suka cita bermain air sambil bercanda denga pesilat lainnya membuat pelatih semakin memperingati kami dengan nada yang keras.

tiba – tiba terdengar suara yang membuat kaget kemi “awas ada buaya” yang kami dengar membuat kami yang masih ada di air menjadi panic bukanmain,dan saya pun sempat keget bukan kepalang, dan berlari menuju pinggir sungai dengan sedikit wajah memucat.

“Hahahaha…”, suara tawa pelatih dari seberang sungai terpingkal-pingkal melihat kami lari tunggang langgang, ‘Ah ternyata hanya tipuan belaka’ bisikku, namun cara ini bener-bener sakti hamper smeua pesilat tak terlihat lagi di dalam air.

Wajarlah kami percaya dengan kondisi sungai yang bening berbatu dan dikanan kiri sungai masih ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan semak belukar, tentu saja keadaan sungai seperti itu memang cukup beralasan, bila masih di temui seekor biaya ataupun binatang lainnya.

Kami kembali ke pusat perguruan dengna wajah tetap ceria, senda gurau pun tetap mewarnai kami,diiringi pelatih yang masih tersenyum meolihat kami.

Makan malam pun tersedia setelah kami bersalin baju yang basah kuyup, tak terasa saya berkenalan dengan teman-teman dari daerah lain, antara lain dari Jakarta, bogor, cibinong, bekasi dan beberapa kota di daerah banten lainnya.

Makan malam dengan lauk pauk yang sederhana namun rasanya cukup enak kami lahap bersama, tak terasa waktu sudah jam 1 malam, saya pun mencari lokasi untuk tidur, dan saya pilih rumah pak Guru Besar, sedangkan lainnya lebih memilih bergadang sambil ngobrol dengan pesilat belada yang setia meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkam.

Saya tertidur dengan rasa bahagia, hari ini benar-benar special buat saya, dimana saya banyak mendapatkan pelajaran yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Ternyata dengan ikut pencak silat saya dapat memetik pelajaran bahwa bangsa ini memilki ragam budaya yang unik, tapi mengapa anak-anak muda seusia kami tidak tertarik pada budaya bangsa ini.

Tak terasa saya sudah terlelap dalam tidur, dengan mengucapkan banyak terima kasih kepada Allah, yang memberikan hari-hari indah. Dan saya nyakin esok hari matahari akan bersinar dengan indah.

By : Yanweka
Catatan kecil ngabumbang 1992 Bogor Jawa Barat.

Sketsa 4:44 am

Memang tidak mudah menjadi seorang guru silat, dimana dibutuhkan kesabaran, pengetahuan yang luas dan harus bijak dalam mengajar dan memberikan bimbingan kepada murid-muridnya.

Tidak ubahnya seorang guru disekolah, menjadi seorang guru silatpun harus memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang yang relative sama, mungkin hanya materi pengajarannya saja yang membedakan.

Tanggung jawab adalah salah satu factor yang wajib dimiliki guru silat dan dituntut pula memilki pengetahuan yang luas. Dan tentunya semua ini membutuhkan suatu proses yang panjang sehingga tidak ada guru silat yang karbitan.

Standarisasi adalah kunci dalam melahirkan guru silat yang berkwalitas dan tentunya setiap perguruan memiliki standarisasi yang berbeda-beda di mulai dari tingkatan atau sabuk yang dikenakannya.

Sehingga dengan penerapan standarisasi tersebut akan menghasilkan pesilat yang mampu bersaing dengan pesilat lainnya. Walaupun tidak semua pesilat diarahkan menjadi seorang atlit, diperlukan juga untuk pesilat lainnya yang memiliki tujuan dan kemampuan yang berbeda-beda.

Memang diakui banyak perguruan silat yang mengarahkan pesilatnya menjadi seorang atlit, dimana pengemblengan terhadapnya menjadi lebih terfokus. Namun sungguh disayangkan kita sering melupakan aspek – aspek yang dimiliki pencak silat selain olahraga prestasi masih terdapat aspek-aspek lainnya yang tak kalah pentingnya.

Sebagai contoh saja, ada seorang murid yang cukup kritis menanyakan tentang siapa itu karuhun, dan mengapa kita harus berdoa dan meminta bantuan kepada karuhun, tentu saja bagi seorang murid yang memahami agama Islam yang kuat, pernyataan tersebut menimbulkan tanda Tanya yang sangat besar, apalagi guru silat tersebut tidak dapat memberikan penjelasan yang kuat dan mendasar.

Kejadian tersebut menjadi catatan tersendiri, dimana seorang guru harus dapat ditiru dan digugu, termasuk pernyataan yang disampaikan kepada murid-muridnya.

Kemampuan memahami ilmu pengetahuan yang didalamnya termasuk memahami ilmu agama merupakan standarisasi yang harus diterapkan,jangan sampai kejadian yang seharusnya tidak menimbulkan tanda Tanya murid-muridnya sendiri.

Contoh di atas bila ditelusuri karena sang guru ternyata tidak memahami syariat agama Islam dimana doa dan pertolongan hanya ditujukan kepada Allah, bila kita meminta kepada karuhun maka hukumnya manjadi syirik tentunya, karena menyekutukan Allah.

Padalah yang dimaksud sang guru adalah sang murid hanya diminta berdoa kepada Allah, dan mendoakan para karuhun yang telah tiada. Tidak lebih dan tidak boleh dilebih-lebihkan.

Nah, itu baru satu contoh kasus yang pernah penulis lihat , masih banyak lagi kasus-kasus lainnya, yang ternyata terjadi karena kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang guru, dan tentunya kita menyadari bahwa guru adalah manusia biasa yang tentunya memiliki kekurangan-kekurangan layaknya manusia lainnya. Namun sungguh naïf bila seorang guru silat tidak mau menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya.dan jangan heran bila guru tersebut akan tersingkir dan tidak lagi menjadi guru yang dapat ditiru dan digugu.

By : Yanweka

Sketsa 4:43 am

Siang itu suasana padepokan nasional pencak silat begitu lenggang tidak ada sedikitpun tanda ada sebuah kegiatan akbar yang sedang berlangsung di dalam sana, hanya umbul-umbul dari sebuah sponsor yang berkibar-kibar tertiup angin dipelataran parkir yang cukup luas dengan gedung yang megah.

Aku berjalan sedikit mempercepat langkah, takut-takut acaranya telah selesai, apalagi hari ini adalah acara penutupan yang rencananya akan ditutup oleh bapak Menteri Olahraga. Tentunya bisa dibayangkan bahwa acara tersebut bukanlah acara yang sembarangan.

Terdengar sayup-sayup suara gemuruh suara penonton dari tempat aku saat ini berdiri, walaupun jarak antara gedung dengan stadiun utama masih berjarak kira-kira 200 meter, namun suara tersebut seakan melambungkan hayalanan diotakku, membayangkan bagaimana berjubelnya penonton yang hadir disana.

Apalagi sebelumnya seorang kawan menghubungi melalui telepon seluler yang sudah berada disana untuk meliput kegiatan tersebut, bertambah semangatlah untuk segera berada ditengah-tengah acara pertandingan pencak silat mahasiswa tingkat nasional ini.

Didepan pintu gerbang aku melangkah berlahan sambil menatap suasana sekelilingnya dengan pandangan yang sedikit bertanya-tanya dalam hati. Mengapa tidak seramai yang kubayangkan sebelumnya, mana penontonnya? Bisikku dalam hati. Padahal inikan kejuaraan pencak silat antar perguruan tinggi se-Indonesia, pastilah sporter maupun pesertanya tidak sedikit, namun kenyataan ini tidaklah membuatku terlalu kecewa, mungkin masih banyak hal yang lebih menarik dibandingkan banyaknya sporter dan penonton yang belum tentu sebagai mengukur antusiasme dalam kegiatan ini.

Namun hatiku berkata untuk “tetap semangat!!”, walaupun tidak banyak ditontong oleh sporter dari kampusnya masing-masing, namun saya melihat semangat pesilat dari kalangan mahasiswa ini tetap membara. Karena ini adalah gebrakan para mahasiswa untuk kembali mengadakan kejuaraan pencak silat antar mahasiswa se Indonesia Ujur Mas Ali salah satu panitia dari Usakti yang kebetulan pada saat kejuaraan ini Universitas Trisakti menjadi salah satu juara umum.

Kejuaraan pencaksilat di kalangan kampus selama 2 tahun ini seperti tak ada greget ujur Ali, dan inilah waktunya bagi Usakti dengan dukungan dari masyarakat silat dan PB. IPSI dapat menyelenggarakan kegiatan akbar ini. Tentunya kami juga tak lupa peran sponsor yang turut mendukung acara tersebut.

Walaupun tak banyak diliput oleh media massa elektronik namun kegiatan ini menjadikan semangat baru bagi pesilat di kalangan mahasiswa, karena kita mengetahui tidak sedikit pesilat nasional saat ini adalah mahasiswa dari berbagai universitas. Dan tentunya dari kalangan mahasiswa, pencak silat diharapkan menjadi salah satu olahraga yang dapat di pelajari dan dikembangkan sebagai olahraga yang mampu bersaing dengan olahraga beladiri lainnya yang tumbuh subur di kampus-kampus lainnya.

Dari pesilat mahasiswa diharapkan dapat melahirkan opini yang positif dalam hal perkembangan dalam keilmuan yang dapat digali secara universal dalam pemikiran yang global, tentunya akan sangat bermanfaat untuk wacana yang dapat dicerna oleh masyarakat indonesia yang selama ini mengenal pencak silat dalam sisi yang berbeda sehingga gambaran dan image pencak silat sebagai olahraga yang memiliki nilai seni dan budaya ini dapat dipahami sebagai olahraga beladiri yang lebih luas sehingga akan menambah daya tarik tersendiri.

Keikutsertaan masyarakat umum dalam mempromosikan pencak silat sebagai budaya merupakan nilai tambah yang positif agar olahraga ini menjadi olahraga yang seutuhnya tidak bersifat klenik seperti apa yang digambarkan oleh pemikiran dan pandangan yang selama ini masih menghantui sebagian orang.

Saat ini masyarakat pada umumnya sulit menikmati sajian pencak silat sebagai olahraga beladiri yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung, sebagai contoh olahraga tinju, yang dapat disajikan sebagai olahraga yang sangat menghibur, apalagi dengan pencak silat yang memiliki aspek seni dan beladiri yang menarik, ditambah dengan tabuhan gamelan yang unik dan khas. Tentunya banyak yang dapat di angkat dari pencak silat sebagai olahraga yang universal, tentunya kita harus kreatif dalam mengemasnya.

Namun masyarakat sudah terlanjur mengeneralisasi baik secara sadar maupun tidak terhadap olahraga ini, tidak jarang pandangan maupun image kampungan, klenik dan masih banyak lagi cap kurang nyaman didengar terhadap olahraga silat ini.

Dan sepertinya image seperti ini bukanlah murni dari pendangan masyarakat itu sendiri, karena kita ketahui banyak media yang menggambarkan pencak silat sebagai ilmu kanuragan yang bersifat metafisik yang sulit dijabarkan dengan dunia ilmu pengetahuan yang lebih kongkrit dan real. Walaupun ada beberapa perguruan yang berhasil mengangkat pencak silat yang dapat dipahami secara umum, baik keilmuan yang dikandungnya maupun manfaat yang dapat dirasakan oleh para anggotanya, sebut saja pencak silat merpati putih dan lembaga seni pernafasan satria nusantara.

Banyak yang perlu dipelajari dalam mengembangkan olahraga ini, mungkin dua contoh perguruan diatas menjadi guru yang baik bagaimana mengelola sebuah perguruan yang dapat diterima oleh masyarakat secara umum, baik secara keilmuan maupun pengelolaan organisasi yang baik.

Dan inilah tugas generasi muda untuk kembali meluruskan mana yang pencak silat sebagai seni dan budaya dengan silat yang diartikan dalam tanda kutip sebagai ilmu kanuragan yang mengandalkan matra-matra tanpa melakukan gerakan silat sedikitpun. Dengan pencak silat yang sesungguhnya dengan 4 aspek yang terkandang didalamnya.

Namun itulah keunikan dari olahraga ini, sebagai negeri sumber tumbuh dan berkembangnya olahraga pencak silat, tentu ini menjadikan kita lebih kaya akan ilmu-ilmu beladiri yang tumbuh dan berkembang dari nenek moyang kita hingga sekarang.

Peran mahasiswa tentunya sangat diharapkan agar pencak silat terus berkembang dengan dukungan PB.IPSI dan masyarakat silat di tanah air, harapan kita bersama pencak silat aka terus berkembang dengan dukungan masyarakat luas. Dan tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

By : Yanweka
Catatan kejuaraan pencak silat Antar mahasiswa Agustus 2005

Sketsa 4:42 am

Pencak silat memang cukup diminati oleh bangsa lain ini bisa kami lihat dari antusiasnya beberapa pesilat yang hadir dalam setiap kegiatan nasional baik kejuaraan maupun dalamkegiatan pencak silat seni.

Seperti pada kegiatan pencak silat seni yang berlangsung pada waktu lalu, dimana beberapa perguruan pencak silat dari seluruh nusantara hadir untuk unjuk kebolehan dengan menampilkan seni khas perguruan maupun alirannya masing-masing.

Kegiatan ini tidak hanya menarik perhatian pesilat dari tanah air namun juga pesilat dari negeri lain yang sering terlihat di arena kejuaraan nasional pencak silat seni dicibubur belum lama ini.

Penulis tanpa sengaja berbincang-bincang dengan pesilat dari negeri kincir angin yang bernama jefry, beliau hadir dalam kegiatan ini memang mengkhususkan diri untuk melihat secara langsung silat seni yang baru pertama kali diselenggaran dalam bentuk jambore.

Memang unik kegiatan ini dimana pesilat dapat berinteraksi dengan pesilat lainnya dari seluruh nusantara dan inilah yang menjadi daya tarik Pak Jefry untuk melihat secara langsung kegiatan ini.

Walaupun nampak sibuk, dengan kamera videonya untuk mengambil gambar dari setiap peserta Pak jefry juga kelihatan sudah cukup akrab dengan pesilat-pesilat nasional maupun pengurus PB. IPSI dan Persilat.

Tak nampak berpenampilan belanda namun pak Jefry menerangkan bahwa dirinya adalah aseli belanda berdarah manado. Dan dibesarkan di negeri belanda namun tetap cinta dengan seni budaya Indonesia, mungkin walaupun dibesarkan di belanda darah Indonesianya mengalir cukup kental.

Menurut Pak Jefry pencak silat cukup dikenal dan digenari oleh warga negaranya, bahkan pak Jefry sendiri mengenal pencak silat dari belanda, sehingga rasa keinginan tahuannya tentang negeri lahirnya olahraga ini membuatnya ingin berkunjung ke Indonesia khususnya untuk mengenal pencak silat lebih dekat lagi.

Perkembangan pencak silat dibelanda memang tidak seragam, karena setiap pesilat membawa masing-masing bendera perguruan maupun alirannya, sehingga tidak ada standarisasi, walaupun disana telah berdiri organisasi pencak silat belanda NPSB.

Salah satu contoh yang sangat menarik di kemukakan disini adalah bahwa tidak sedikit pembawa aliran tertentu yang tekah berguru di Indoensia di negeranya langsung dapat mengajar dan bahkan di anggap Guru atau pendekar walaupun ternyata baru belajar pencak silat kurang lebih satu atau dua tahun, padahal untuk mempelajari pencak silat itu dibutuhkan waktu yang cukup lama, kalau hanya sekedar kulitnya mungkin saja,ujurnya sambil tersenyum.

Walaupun tak mau menyebutkan dari perguruan mana atau aliran apa yang dipelajarinya, Pak Jefry lebih senang sebagai pesilat pada umumnya, karena dengan alasan bahwa ingin mempelajari silat lebih banyak dan kebih luas lagi, bila hanya mempelajari dari satu perguruan saja maka ilmu yang saya dapat hanya sebatas dari perguruan tersebut.

Rencananya setelah dari Indonesia pak Jefry akan berkunjung ke Asutarlia melihat perkambangan pencak silat disana.

Namun secara umum pencak silat sesungguhnya sudah bias dikatakan cukup mendunia karena dilihat dari organisasi pencak silat dunia sudah melebihi 20 negara di berbagai benua, sehingga pencak silat tidak hanya milik Indonesia maupun negera melayu, tapi sudah milik dunia, tinggal bagaimana Indonesia sebagai sumber dari pencak silat ini tetap menjaga aliran-aliran asli yang dapat tetap dipertahankan, contohnya dengan acara jamboree pencak silat ini.

Karena malammakin larut penulis menyudahi perbincangan hangat malam itu, dan tentu harapan kita bersama pencak silat di Indonesia tetap lestari, dan dukungan generasi muda adalah salah satu tongkat estafet yang terus harus bergulir.

By : Yanweka
Catatan Jurnas pencak silat Seni 2005 – Cibubur Jakarta