
Melihat prestasi persilat Indonesia di beberapa kejuaraan ditingkat asean maupun dunia semakin hari semakin menurun, banyak pertanyaan yang timbul melihat kondisi seperti ini, tentunya pertanyaan-pertayaan tersebut terfokus pada masalah pembinaan atlit yang selama ini menjadi tanggungjawab IPSI khususnya dalam prestasi pesilat Indonesia.
Membandingkan prestasi pencak silat Negara lain yang semakin hari semakin berkualitas, contohnya Vietnam sebuah Negara yang baru saja lepas dari keterpurukan di dalam negeri dapat menunjukkan kemampuan dalam prestasinya akhir-akhir ini. Pembinaan seperti apa yang dilakukanmya, tentunya masalah tersebut menjadi perbincangan yang hangat.
Pembinaan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit, oleh sebab itu IPSI telah bekerja keras dalam hal pembinaan atlit-atlitnya dari tingkat daerah hingga Nasional, penyaringan yang ketat untuk menghasilkan atlit yang berkualitas di kancang nasional dan dunia terus menresu dilakukan oleh IPSI, namun ada hal lain yang menjadi catatan, bahwa pembinaan tidaklah cukup melalui teknik-teknik bertanding namun perlu dipikirkan bagaimana pembinaan lebih menghasilkan atlit-atlit yang berkualitas dan bermental.
Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang-bincang santai dengan salah satu Pelatih dari KPS Nusantara di Jakarta, perbincangan tersebut mengenai prestasi pesilat Vietnam, bahwa kesimpulan yang bisa saya ambil adalah secara teknik atlit Indonesia maih lebih unggul dibandingkan dengan atlit Vietnam namun semangat juang atlit Vietnam memang perlu diacungkan jempol.
Berbicara mengenai semangat juang penulis jadi teringat dengan salah satu bacaan mengenai olahraga tradional yaitu panjat pinang, secara olahraga panjat pinang adalah olahraga yang beresiko dan melelahkan. Dibutuhkan kerjasama tim untuk mencapai satu tujuan yaitu memanjat setinggi-tingginya untuk mendapatkan hadiah yang digantung di atasnya. Namun ada hal yang cukup menarik dari panjat pinang ini, tentunya kita harus melihat dari sisi filosofinya.
Panjat Pinang dibuat dari sebatang pohon pinang yang diberi oli atau pelican semacam pelumas agar hadiah yang berada dipuncaknya tidak mudah diraih, jadi tidak ada pemenang yang pernah berhasil pasti pernah gagal. Berulang-ulang jatuh ditambah dengan pakaian yang kotor karena Lumpur dan oli, bagi yang berhasil mencapai puncak dialah pemenang sejati.
Secara pendidikan mental olahraga ini memberikan pelajaran yang berharga yaitu bagaimana seseorang harus berjuang untuk menjadi pemenang. Semangat juang menjadi modal yang tenyata cukup penting dalam menumbuhkan daya tahan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Ini tentunya sangat relevan dengan kondisi saat ini dimana kehidupan nyata semakin dinamis penuh tantangan dan juga ketidakpastian.
Era globalisasi berpengaruh kepada seluruh sector kehidupan, kemampuan berfikir kritis dan kreatif ditambah semangat juang yang tinggi tentunya memberikan hal positif dalam berkompetisi yang semakin hari semakin tajam dan perubahan disana sini menjadi konsumsi sehari-hari, maka jika tidak mudah melenturkan diri tentu akan sulit menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ini.
Masa depan inilah kuncinya untuk memacu diri agar tidak menjadi manusia lemah, kalah, dan malas. Daya juang tak cepat menyerah tak rapuh dan persistence, agaknya harus ditanamkan kepada diri kita dan pesilat-pesilat yang siap membawa nama harum bangsa ini dikancah dunia.
Indonesia sebagai Negara perpenduduk terbesar di asia tenggara pasti memiliki sumber daya manusia dengan daya juang yang tinggi, dalam rangka membangun manusia Indonesia menjadi subject bermutu yang mengaktualisasikan potensi kemampuan secara utuh dan optimal , yang terbukti dari kekukuhan imannya, kecanggihan kempentensi iptek, keindahan ekspresi estetisnya, keluhuran budipekertinya, kebugaran fisiknya dan keunggulan mental kepribadiannya, tinggallah kini untuk mengolah sumberdaya ini menjadi kekuatan yang handal berdaya juang tinggi, hanya untuk Indonesia.
Penulis : yanweka
