Sebuah situs terkemuka di DKI Jakarta pernah menulisakan tentang “75 persen sekolah di DKI jakarta mengadakan kegiatan ektrakulikuler pencak silat” Tulisan ini sebenarnya cukup menarik sekali ditelaah, dan menjadi diskusi yang cukup penting bagi parapesilat, guru atau lembaga pendidikan untuk membantu memperkenalkan seni budaya bangsa ini kepada siswa didiknya.

Alangkah bahagianya bila memang angka 75 persen itu adalah valid, namun kalo hanya sekedar perkiraan yang datanya tak jelas maka laporan tersebut hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Oke dijakarta saja terdapat 200 lebih SMUN, 100 Lebih SMK, 300 Lebih SLTP, dan ratusan SD, belum lagi sekolah swasta, maka jumlahnya akan bertambah besar.

Sekarang bandingkan dengan kejuraan pencak silat Antar Sekolah yang belum lama ini berlangsung. Berapa sekolah yang ikut kejuraan anggap saja 50% yang ikut, 50% lainnya sedang sibuk belajar di sekolahnya masing-masing.

Nah dari perkiraan kasar tersebut sudah bisa dilihat berapa sesungguhnya silat benar-benar menjadi kegiatan ektrakulikuler di sekolah di DKI Jakarta.

Kejuraan Silat Antar SLTA se-jabotabek saja tidak terlalu banyak di ikuti oleh Sekolah-sekolah yang ada, anggap saja 30% pesertanya, namun kok hanya terdiri dari 20-25 Sekolah saja ya??? Aneh bukan. Setiap sekolah tersebut mengirimkan pesilatnya dari kelas A-E ( 5 orang atau lebih) dan 5 di kali 25. 125 atlit di pertandingkan untuk 3 hari kejuaraan dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam.

Jadi berapa dong persentase yang betul, karena kalau harus Tanya ke Pengda IPSI pasti mereka tidak punya datanya. Atau harus keliling sekolah-sekolah di DKI, wah bisa pegel linu dan buang-buang biaya. Jadi paling gampang begini aja, usul nih.

Sebentar lagi kan liburan sekolah, bagaimana kalo Liburan sekolah di ISI dengan acara Seni dan Budaya. IPSI bisa mengundang Siswa – siswa sekolah tersebut, untuk datang ke Padepokan Nasional Pencak Silat di TMII, jangan kuatir gedungnya megah kok, parkirnya juga luas, fasiltas Ibadahpun sangat mendukung disebelahnya ada Masjid AT-tin.

Nah, Anggap saja siswa-siswa itu main ke museum lah, di ajak keliling, melihat lihat padepokan sambil diberikan gambaran silat itu bukan karate atau kungfu, jadi mereka bisa membedakan terutama disaat nonton film mandarin mereka tidak mengatakan itu film silat. Loh ini kenyataan kok, lihat aja ibu-ibu yang sedang kondangan melihat pak Polisi yang berlatih karate dibilang latihan silat. Begitu pula dengan Pak Guru jangan sampai salah isi form kegiatan ektrakulikuler disekolahnya seharusnya beladiri lain, dia tulis silat. Padahal jurusnya beda.

Nah, selanjutnya, di Pedepokan siswa-siswa juga di ajak diskusi ringan sama bapak-bapak pengelola gedung padepokan, bahwa gedung ini adalah tempat pusat berlatih pesilat nasional maupun International, jadi bukan gedung tempat pernikahan apalagi buat hajatan partai politik.

Juga dijelaskan kepada siswa-siswa di DKI Jakarta agar tidak perlu takut lagi berkunjung ke Padepokan bahwa gedung ini tidak sunyi dan sepi apalagi angker. Nah, setelah makan siang dan sholat, siswa-siswa sekolah bisa melanjutkan liburannya menuju TMII Jakarta. Silat juga salah satu seni dan budaya sekaligus olahraga yang dipelajari loh, di kurikulum Pendidikan, coba aja cek pasti ada satu bab tentang pencak silat di mata pelajaran Olahraga.

Nah itu hanya usulan saja, semoga bermanfaat.

Salam
Yanweka