SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaMarch 27, 2006 12:32 pm


Krisis Keuangan pada tahun 1998 berdampak pula pada pencak silat, satu persatu perguruan silat di tanah air menghilang ada juga yang tetap bertahan dengan kondisi seadanya, cukup beruntung bagi perguruan-perguruan yang bernaung dibawah badan organisasi ataupun lembaga Swadaya Masyarakatan.

Krisis ekonomi memang telah berlalu, meninggalkan kepahitan yang mendalam namun juga meninggalkan pengalaman bermanfaat untuk ketegaran dan kemandirian. Tidak sedikit perguruan pencak silat yang tetap bertahan hingga detik ini, bukan karena ada bantuan dari lembaga lain namun karena ada kemauan yang keras dan kretifitas pengelola perguruan tersebut.

Secara umum saat ini perguruan-perguruan pencak silat dapat dibagi menjadi beberapa golongan, antara lain adalah Pencak silat yang bernaung dibawah bendera organisasi besar, contohnya Pencak silat Pagar Nusa, silat Asad, silat Tapak suci, cukup beruntung perguruan-perguruan ini memiliki induk organisasi yang mewadahinya, sehingga sumber daya manusia cukup tersedia dan memberikan dukungan kepada perguruan yang ada. Perguruan-perguruan tersebut ternyata juga memiliki professional sebagai perguruan yang modern dalam proses pengembangan mengikuti induk organisasinya masing-masing. Disisi lain perguruan dengan induk organisasi yang besar tercatat pula pencak silat modern yang berdiri sendiri contohnya Merpati Putih, Perisai Diri, setia Hati dan lain sebagainya, hingga saat ini perguruan-perguruan tersebut memiliki organisasi yang modern hingga semi modern, tentunya dilihat dari pengelolaan perguran tersebut.

Lalu bagiamana dengan pencak silat Tradisional yang ada saat ini, tidak sedikit perguruan-perguruan dengan pengelolaan yang tradisional ini menghilang ataupun ada namun tiada, istilahnya ada nama tapi tidak ada organisasinya. Perguruan-perguruan seperti ini banyak terdapat di pelosok-pelosok desa. Dengan pengelolaan organisasinya sangat sederhana. Tidak ada organisasi yang memanyungi mereka, mereka hidup mandiri dengan dua pilihan antara, terus berkembang dengan keterbatasan-keterbatasannya atau terkubur dalam ketertinggalannya.

Kita mulai berfikir, siapakah yang bertanggung jawab dengan usaha pelestarian seni beladiri ini terutama silat tradisional, jawabnnya adalah kita bersama, jawaban yangsangat idealis namun tidak terbukti apa-apa. Kita masih sibuk dengan fanatisme terhadap perguruannya masing-masing, padahal pemerataan pengetahuan dan pengalaman berorganisasi perlu dibagikan kepada sesama anak bangsa, terutama melalui pencak silat. Seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan dalam mensinergikan saling berbagi ilmu dalam berorganisasi dan tentunya bukan ingin menjadi pahlawan kesiangan dalam semangat berbagi ini, kita dapat menggunakan jalur-jalur yang sesuai, misalnya saja melalui lembaga IPSI yang saat ini pun masih kekurangan Sumber Daya Manusia.

Berbicara mengenai fanatisme pesilat terhadap perguruannya sudah tidak perlu diragukan lagi, sifat fanatisme ini juga merupakan modal yang sangat baik dalam menumbuhkan rasa percaya diri berlatih dan berprestasi di dalam mempelajari Ilmu beladiri, namun fanatisme yang berlebih juga bisa merugikan, karena akan timbul persaingan yang kurang sehat menyebabkan kepedulian kita terhadap pencak silat pun berubah menjadi kepentingan perguruan semata. Memang tidak mudah melepaskan atribut perguruan dimana kita berada, namun atribut ini cukuplah diletakkan dihati, bukan tertanam di dalam ego, karena pamrih dan keraguan-raguanlah yang akan timbul, dan menghialngkan rasa pengabdian, dan inilah yang pernah terjadi di dalam tubuh IPSI.

Karena kepentingan orang-orang tertentu terhadap perguruan yang telah membesarkannya, hingga dia lupa harus berbuat apa disaat berada di lembaga yang seharusnya mementingkan kepentingan pesilat dan perguruan lain yang seharusnya menjadi tanggungjwabnya. Jadi jangan heran seorang kakek yang telah puluhan tahun berkecimpung didalam seni beladiri ini enggan mendaftarkan perguruan silatnya di dalam IPSI.

Walupun perguruannya kecil namun pengabdiannya tidak perlu diragukan lagi. Memang masih terdapat beberapa permasalahan yang harus dipecahkan oleh IPSI, begitu berat tanggungjawab IPSI membuat lembaga pencak silat satu-satunya di Indonesia ini selalu mendaptkan kritikan dan juga tudingan yang tak manis.

Kerjasama IPSI dengan perguruan-perguruan silat di Tanah Airpun masih harus di asah – asuh agar semakin bergandengan erat dalam bekerjasama membangun pencak silat bersama. Peran pemuda dan mahasiswapun seharunya menjadi pelopor dalam membangun pradigma baru dalam pemikiran yang kritis dan kreatif, jangan sampai peran pesilat mahasiswa hanya berpaku pada penyelenggaraan kegiatan yang monoton.

Dan tidak sedikitpula dukungan kepada IPSI mulai membenih di tengah-tengah kerjakerasnya membuktikan lembaga ini sangat berperan dalam mengayomi perguruan silat di Indonesia. Wajah IPSI semakin hari semakin berseri, dalam upayanya memperkenalkan pencak silat sebagai olahraga yang perlu diperhitungkan dalam kegiatan olahraga ditanah air.

Tinggalah saatnya perguruan pencak silat di tanah air bersatu menjebatani kepentingannya dalam satu wadah yang sama, perbedaan yang ada bukanlah kendala, perbedaan logo dan alunan gendang pencak tidak akan memecah persatuan, bila dengan niat yang esa terdapat keutuhan dalam mencapai visi dalam sinergi bersama. Pencak silat dapat tumbuh dimana saja, sebagai salah satu akar budaya bangsa, pencak silatpun semakin hari semakin menjadi olahraga yang diperhitungkan oleh olahraga beladiri lainnya.

Walaupun dalam langkah-langkah kecil namun suatu hari kelak Pedepokan nasional pun akan berwarna-warni dengan berbagai seragam, logo, aliran hingga pemikiran, namun satu tujuan yaitu Pencak Silat. (Yanweka)

Sketsa 12:31 pm


Sebuah situs terkemuka di DKI Jakarta pernah menulisakan tentang “75 persen sekolah di DKI jakarta mengadakan kegiatan ektrakulikuler pencak silat” Tulisan ini sebenarnya cukup menarik sekali ditelaah, dan menjadi diskusi yang cukup penting bagi parapesilat, guru atau lembaga pendidikan untuk membantu memperkenalkan seni budaya bangsa ini kepada siswa didiknya.

Alangkah bahagianya bila memang angka 75 persen itu adalah valid, namun kalo hanya sekedar perkiraan yang datanya tak jelas maka laporan tersebut hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Oke dijakarta saja terdapat 200 lebih SMUN, 100 Lebih SMK, 300 Lebih SLTP, dan ratusan SD, belum lagi sekolah swasta, maka jumlahnya akan bertambah besar.

Sekarang bandingkan dengan kejuraan pencak silat Antar Sekolah yang belum lama ini berlangsung. Berapa sekolah yang ikut kejuraan anggap saja 50% yang ikut, 50% lainnya sedang sibuk belajar di sekolahnya masing-masing.

Nah dari perkiraan kasar tersebut sudah bisa dilihat berapa sesungguhnya silat benar-benar menjadi kegiatan ektrakulikuler di sekolah di DKI Jakarta.

Kejuraan Silat Antar SLTA se-jabotabek saja tidak terlalu banyak di ikuti oleh Sekolah-sekolah yang ada, anggap saja 30% pesertanya, namun kok hanya terdiri dari 20-25 Sekolah saja ya??? Aneh bukan. Setiap sekolah tersebut mengirimkan pesilatnya dari kelas A-E ( 5 orang atau lebih) dan 5 di kali 25. 125 atlit di pertandingkan untuk 3 hari kejuaraan dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam.

Jadi berapa dong persentase yang betul, karena kalau harus Tanya ke Pengda IPSI pasti mereka tidak punya datanya. Atau harus keliling sekolah-sekolah di DKI, wah bisa pegel linu dan buang-buang biaya. Jadi paling gampang begini aja, usul nih.

Sebentar lagi kan liburan sekolah, bagaimana kalo Liburan sekolah di ISI dengan acara Seni dan Budaya. IPSI bisa mengundang Siswa – siswa sekolah tersebut, untuk datang ke Padepokan Nasional Pencak Silat di TMII, jangan kuatir gedungnya megah kok, parkirnya juga luas, fasiltas Ibadahpun sangat mendukung disebelahnya ada Masjid AT-tin.

Nah, Anggap saja siswa-siswa itu main ke museum lah, di ajak keliling, melihat lihat padepokan sambil diberikan gambaran silat itu bukan karate atau kungfu, jadi mereka bisa membedakan terutama disaat nonton film mandarin mereka tidak mengatakan itu film silat. Loh ini kenyataan kok, lihat aja ibu-ibu yang sedang kondangan melihat pak Polisi yang berlatih karate dibilang latihan silat. Begitu pula dengan Pak Guru jangan sampai salah isi form kegiatan ektrakulikuler disekolahnya seharusnya beladiri lain, dia tulis silat. Padahal jurusnya beda.

Nah, selanjutnya, di Pedepokan siswa-siswa juga di ajak diskusi ringan sama bapak-bapak pengelola gedung padepokan, bahwa gedung ini adalah tempat pusat berlatih pesilat nasional maupun International, jadi bukan gedung tempat pernikahan apalagi buat hajatan partai politik.

Juga dijelaskan kepada siswa-siswa di DKI Jakarta agar tidak perlu takut lagi berkunjung ke Padepokan bahwa gedung ini tidak sunyi dan sepi apalagi angker. Nah, setelah makan siang dan sholat, siswa-siswa sekolah bisa melanjutkan liburannya menuju TMII Jakarta. Silat juga salah satu seni dan budaya sekaligus olahraga yang dipelajari loh, di kurikulum Pendidikan, coba aja cek pasti ada satu bab tentang pencak silat di mata pelajaran Olahraga.

Nah itu hanya usulan saja, semoga bermanfaat.

Salam
Yanweka