SSI - Sketsa Silat Indonesia ::

SketsaMarch 31, 2006 4:05 am

Jakarta (Bali Post) -
Perjuangan organisasi pencak silat dunia (Persilat) tidak pernah mengenal kata akhir dalam memperjuangkan cabang pencak silat dipertandingkan secara resmi di Asian Games. Setelah gagal dimainkan di Asian Games XV/2006, Doha, Qatar, Persilat kini berupaya memasukkan pencak silat pada Asian Games XVI/2010 di Beijing, Cina.

‘’Selagi hayat masih di kandung badan, saya tetap berjuang memperjuangkan pencak silat dipertandingkan di Asian Games. Perjuangan ini memang cukup berat namun saya tak pernah menyerah,’’ kata Presiden Persilat Eddy Marzuki Nalapraya seusai memberikan gelar Pendekar Kehormatan kepada Dubes Jepang untuk Indonesia, Yutaka Iimura, di Padepokan Pencak Silat Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Minggu (19/3) lalu.

Menurut sesepuh pencak silat itu, gelar Pendekar Kehormatan untuk Yutaka Iimura juga bagian dari Persilat mempermulus upaya memasukkan pencak silat ke Asian Games. Sebagai salah satu negara raksasa di bidang olah raga, Jepang tentu diharapkan mampu melobi Cina agar pencak silat dapat dimainkan di Asian Games XVI/2010 di Beijing.

Yutaka Iimura yang kemarin secara resmi mengakhiri tugasnya sebagai Dubes di Indonesia, merupakan sosok yang dedikasinya dan perhatiannya terhadap olah raga pencak silat sangat tinggi. Berkat bantuan Iimura, pencak silat pernah dipertandingkan di Jepang pada 1998 di Universitas Wasido. “Perhatian beliau kepada silat begitu besar dan selalu hadir menyaksikan silat sejak lama. Kami banyak diskusi dengan beliau dalam upaya memajukan silat di Jepang. Kekerabatan kami begitu besar sebagai sesama pembina olah raga bela diri,” ujar Eddy.

Meski sudah tidak menjabat dubes untuk Indonesia, Iimura berjanji akan terus melakukan hubungan dengan Persilat. “Saya tidak menyangka selama tujuh tahun enam bulan berada di Indonesia harus balik ke Jepang. Saya tidak pernah bermimpi akan mendapatkan gelar kehormatan seperti ini. Sungguh hal yang membanggakan dipercaya memiliki gelar tersebut. Niat awal saya adalah ingin menjalin hubungan yang baik dengan sesama ilmu bela diri,” ucap Iimura.

Gelar kehormatan diberikan Persilat kepada individu yang dianggap telah berjasa atau turut membantu pengembangan olah raga silat. Sebelumnya Persilat memberikan gelar kehormatan kepada mantan presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (035)
Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/3/21/or3.htm

Kehadiran di Asian Games Perlu Dukungan Penuh Pemerintah...Kompas – Keikutsertaan pemerintah dalam memasyarakatkan pencak silat ke penjuru dunia merupakan kunci terakhir yang hingga saat ini masih belum juga terlihat peran aktifnya sama sekali.

”Sebab, kalau hanya mengandalkan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat) saja, keadaannya hanya seperti yang sudah-sudah kami peroleh sejauh ini,” kata Eddie Marzuki Nalapraya, Presiden Persilat, Minggu (19/3).

Hal tersebut dikemukakannya seusai acara penyerahan gelar Pendekar Kehormatan kepada Yutaka Iimura Purba Pakpak, mantan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, yang akan meninggalkan Jakarta hari Senin ini. Iimura yang juga pengajar iaido merupakan Duta Besar untuk Indonesia pertama yang menerima gelar dari Persilat.

Sekarang, menurut Eddie, di Eropa juga sudah ada kejuaraan dua tahunan pencak silat. Namun, tetap saja pencak silat belum dapat masuk ke pesta olahraga masyarakat Asia, apalagi pekan olahraga masyarakat dunia. ”Padahal, kalau dilihat, upaya kami yang di Persilat sudah all out. Bahkan, dalam waktu dekat ini kami mengirim tim ke Perancis dan Belanda juga dalam rangka memasyarakatkan silat,” ucap pensiunan jenderal Angkatan Darat bintang dua itu.

Bentuk keterlibatan pemerintah yang paling mudah, mungkin, melalui Departemen Luar Negeri. ”Sebab, mereka kan ada bidang publik diplomasinya. Cobalah dimanfaatkan,” katanya. (NIC)
Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/20/or/2522035.htm

SketsaMarch 30, 2006 5:00 am


Melihat prestasi persilat Indonesia di beberapa kejuaraan ditingkat asean maupun dunia semakin hari semakin menurun, banyak pertanyaan yang timbul melihat kondisi seperti ini, tentunya pertanyaan-pertayaan tersebut terfokus pada masalah pembinaan atlit yang selama ini menjadi tanggungjawab IPSI khususnya dalam prestasi pesilat Indonesia.

Membandingkan prestasi pencak silat Negara lain yang semakin hari semakin berkualitas, contohnya Vietnam sebuah Negara yang baru saja lepas dari keterpurukan di dalam negeri dapat menunjukkan kemampuan dalam prestasinya akhir-akhir ini. Pembinaan seperti apa yang dilakukanmya, tentunya masalah tersebut menjadi perbincangan yang hangat.

Pembinaan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit, oleh sebab itu IPSI telah bekerja keras dalam hal pembinaan atlit-atlitnya dari tingkat daerah hingga Nasional, penyaringan yang ketat untuk menghasilkan atlit yang berkualitas di kancang nasional dan dunia terus menresu dilakukan oleh IPSI, namun ada hal lain yang menjadi catatan, bahwa pembinaan tidaklah cukup melalui teknik-teknik bertanding namun perlu dipikirkan bagaimana pembinaan lebih menghasilkan atlit-atlit yang berkualitas dan bermental.

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang-bincang santai dengan salah satu Pelatih dari KPS Nusantara di Jakarta, perbincangan tersebut mengenai prestasi pesilat Vietnam, bahwa kesimpulan yang bisa saya ambil adalah secara teknik atlit Indonesia maih lebih unggul dibandingkan dengan atlit Vietnam namun semangat juang atlit Vietnam memang perlu diacungkan jempol.

Berbicara mengenai semangat juang penulis jadi teringat dengan salah satu bacaan mengenai olahraga tradional yaitu panjat pinang, secara olahraga panjat pinang adalah olahraga yang beresiko dan melelahkan. Dibutuhkan kerjasama tim untuk mencapai satu tujuan yaitu memanjat setinggi-tingginya untuk mendapatkan hadiah yang digantung di atasnya. Namun ada hal yang cukup menarik dari panjat pinang ini, tentunya kita harus melihat dari sisi filosofinya.

Panjat Pinang dibuat dari sebatang pohon pinang yang diberi oli atau pelican semacam pelumas agar hadiah yang berada dipuncaknya tidak mudah diraih, jadi tidak ada pemenang yang pernah berhasil pasti pernah gagal. Berulang-ulang jatuh ditambah dengan pakaian yang kotor karena Lumpur dan oli, bagi yang berhasil mencapai puncak dialah pemenang sejati.

Secara pendidikan mental olahraga ini memberikan pelajaran yang berharga yaitu bagaimana seseorang harus berjuang untuk menjadi pemenang. Semangat juang menjadi modal yang tenyata cukup penting dalam menumbuhkan daya tahan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Ini tentunya sangat relevan dengan kondisi saat ini dimana kehidupan nyata semakin dinamis penuh tantangan dan juga ketidakpastian.

Era globalisasi berpengaruh kepada seluruh sector kehidupan, kemampuan berfikir kritis dan kreatif ditambah semangat juang yang tinggi tentunya memberikan hal positif dalam berkompetisi yang semakin hari semakin tajam dan perubahan disana sini menjadi konsumsi sehari-hari, maka jika tidak mudah melenturkan diri tentu akan sulit menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ini.

Masa depan inilah kuncinya untuk memacu diri agar tidak menjadi manusia lemah, kalah, dan malas. Daya juang tak cepat menyerah tak rapuh dan persistence, agaknya harus ditanamkan kepada diri kita dan pesilat-pesilat yang siap membawa nama harum bangsa ini dikancah dunia.

Indonesia sebagai Negara perpenduduk terbesar di asia tenggara pasti memiliki sumber daya manusia dengan daya juang yang tinggi, dalam rangka membangun manusia Indonesia menjadi subject bermutu yang mengaktualisasikan potensi kemampuan secara utuh dan optimal , yang terbukti dari kekukuhan imannya, kecanggihan kempentensi iptek, keindahan ekspresi estetisnya, keluhuran budipekertinya, kebugaran fisiknya dan keunggulan mental kepribadiannya, tinggallah kini untuk mengolah sumberdaya ini menjadi kekuatan yang handal berdaya juang tinggi, hanya untuk Indonesia.

Penulis : yanweka

SketsaMarch 28, 2006 10:13 am


Pencak Silat adalah salah satu Seni Beladiri yang tumbuh berkembang di Bumi Nusantara, pencak silat dapat ditemui di beberapa Negara asia tenggara khususnya dirumpun melayu, antara lain Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan negera-negara lainnya.

Di Indonesia Pencak Silat mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah khususnya pada massa Pemerintahan Ordebaru, karena begitu pentingnya pelestarian budaya yang memiliki potensi yang cukup besar dan memiliki nilai luhur yang dikandungnya. Di Indonesia Pencak Silat saat ini memiliki Fasiltas yang cukup lengkap, salah satunya adalah Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia ( PNPS) yang terletak di Timur Jakarta. Letaknya saat ini cukuplah strategis berada di kawasan TMII Jakarta.

Kondisi Padepokan saat ini bisa dibilang cukup bersih, lebar, luas, megah, dll. jadi tidak ada alasan bagi anda pesilat untuk mengatakan gedung tersebut tidak layak untuk sarana berlatih dalam meningkatkan prestasi, walaupun prestasi atlet silat indonesia menurun akhir-akhir ini :)

Padepokan yang berdiri di atas tanah seluas 5,5 ha. Tanah seluas 5,5 ha adalah sumbangan Almarhumah Ibu Negara Tien Soeharto dan beberapa perusahaan terkemuka di Indonesiapun ikut memberikan dukungannya. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada 27 November 1994 dan Beliaupun memonitor arsitektur kompleks bangunan yang mayoritas bernafaskan Jawa modern ini.

Para pendukung IPSI ini mengharapkan bahwa padepokan dapat menampung pesilat-pesilat dari mancanegara yang mau mendalami ilmu pencak silat.

Tujuan pembangunan padepokan ini adalah untuk mengangkat martabat seni bela diri nenek moyang kita di mata internasional, dan mengonsolidasi posisi Indonesia sebagai negara pelopor pencak silat. Pencak silat adalah milik bangsa Melayu namun kenyataannya pencak silat yang menyebar ke seluruh mancanegara, kebanyakan adalah aliran yang bersumber dari Indonesia.

Oleh karena itu Indonesialah tempatnya di mana khalayak peminat dapat mengetahui dan meneliti pencak silat sesuai aspek yang dipilihnya.

Bangunan sangat megah yang sudah diangan-angankan oleh para pendekar pencak silat kini menjadi kenyataan. Sebuah harapan bahwa dengan meningkatkan pemahaman mengenai pencak silat serta terus-menurus mencari masukan dan kajian baru, IPSI dapat menjawab masalah-masalah di atas, maupun persoalan-persoalan lainnya.

Sebagai organisasi berskala nasional, IPSI perlu melakukan perencanaan yang terpadu dan mengaktifkan kembali seluruh bagian organisasi dari pusat sampai daerah agar dapat mewakili beraneka ragam aliran yang dibinanya. Mewujudkan semua ini merupakan tantangan bagi para pencinta pencak silat di bawah bimbingan IPSI agar menyumbangkan kegiatan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya

Seiring perjalanan waktu, pedepokan yangberdiri dengan megah belumlah dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat pencak silat maupun IPSI sebagai ujung tombak penggerak pencak silat di Tanah Air.

Gedung tersebut masih sepi oleh kegiatan yang bernuansa silat, jangan heran bila anda berkesempatan berkunjung ke Padepokan gedung ini kerap menjadi pilihan kegiatan atau acara non-silat seperti sepasang pengantin yang melangsungkan pernikahan disana, atau kerap kali gedung ini juga menjadi ajang berkumpulnya sebuah partai politik.

Maklumlah gedung ini memang memiliki fasiltas yang luar biasa lengkap , selain Stadion utama yang dapat menampung ratusan pengunjung, ditambah beberapa ruang yang cukup luas. Sarana parkir tidak perlu diragukan karena luasnya lahan dari gedung ini. Bila butuh penginapan juga disedikan fasiltas yang cukup memadai, oleh sebab itu padepokan menjadi tempat yang layak bagi organisasi non-silat untuk memanfaatkan gedung ini, hitung-hitung memberikan kesempatan kepada masyarakat melihat dan mengenai Padepokan silat Indonesia.

Tentunya tidak salah dalam memanfaatkan gedung ini untuk kegiatan diluar pencak silat, karena untuk merawat gedung ini diperlukan dana yang tidak sedikit, ditambah untuk membayar gaji karyawan pengelola gedung.

Namun memang tidak dipungkiri kalangan pesilatpun masih enggan memanfaatkan sarana miliknya ini seperti dirumahnya sendiri, entah birokrasinya yang sulit atau memang pesilat belum mengetahui bahwa gedung inipun bisa digunakan untuk latihan bagi perguruan yang ada di Jabotabek.

Setiap Hari minggu pagi hingga sore, anda dapat menemui beberapa pesilat dari perguruan di sekitar jakarta yang secara rutin berlatih disana, namun ada juga pesilat yang datang dari jauh sengaja ingin melihat padepokan ini secara dekat. Walaupun sampai disana hanya bisa melihat-lihat saja.

Sebenarnya masalah ini sudah dirasakan oleh masyarakat silat di Indonesia, karena seharunya dengan fasilitas yang lengkap prestasi pesilat seharusnya ikut meningkat, peningkatan prestasi juga akan meningkatkan semangat perguruan – perguruan untuk mensupport pesilatnya lebih berprestasi diajang nasional maupun dunia.

Pembinaan yang dilakukan oleh IPSI seharusnya lebih terkonsentrasi dengan adanya fasiltas ini, karena tidak perlu menyewa semua sudah tersedia, Pedepokan juga dapat dimanfaatkan menjadi sarana pembinaan bagi perguruan-perguruan yang menjadi tanggung jawab IPSI, dimana secara moril IPSI ikut mengembangkan perguruan pencak silat yang ada menjadi perguruan yang dapat berperan dalam pembinaan silat sebagai pencetak Sumber daya Atlit yang memiliki prestasi baik bidang olahraga, seni maupun pencak silat secara umumnya.

Pembinaan yang dilakukan IPSI memang tidak begitu dirasakan oleh perguruan – perguruan silat, dikarenakan masih banyak kendala ditubuh IPSI sendiri, dimana IPSI masih terkonsentrasi pengembangan atlit olahraga prestasi dibandingkan mencari atau menggali potensi pencak silat itu sendiri. Potensi yang terdapat pada pencak silat tidak hanya pada kalah atau menang sang pesilat, namun secara global bahwa Pencak Silat menyimpan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan sebagai olahraga dan juga sebagai seni budaya.

Selain itu perlunya IPSI mengundang perguruan-perguruan yang aktif maupun yang tidak aktif untuk bersama-sama mendiskusikan kegiatan dan visinya masing-masing dalam upaya menjalin kerjasama antara IPSI dan perguruan yang ada.

Dengan melakukan pertemuan secara rutin baik Pengurus IPSI Pusat dan Daerah bersama-sama perguruan yang ada maka banyak masalah yang terpendam selama ini akan tergali dalam semangat memajukkan pencak silat secara umum. Tidak hanya Perguruan yang diuntungkan bila senergi ini bisa terbentuk juga IPSI akan merasakan bagaimana melesatnya SDM Pesilat yang memiliki kwalitas lebih baik hasil gemblengan dan pembinaan IPSI bersama perguruan pencak silat yang ada.

Maka mulailah saat ini ada ajakan kepada seluruh pesilat “ayo berlatih bersama di Padepokan Nasional Pencak Silat” bersama membangun pencak silat dalam mempererat tali persaudaraan yang berbudi luhur seperti apa yang sering didengung-dengungkan oleh kita “bangsa Indonesia”, siapa lagi…, kalau bukan kita yang dapat menghargai Budaya ini.

Catatan : Perlu kejelian dalam mengelola pencak silat di Indonesia, setiap perguruan memiliki karakter yang berbeda, dibutuhkan kecerdasan dalam memberikan inspirasi yang positif. sehingga tidak perlu saling menuding kesalahan, kesalahan yang paling berat adalah “tidak ada kejelian dalam memanfaatkan fasiltas dan sumber daya yang ada” untuk di olah dan di asah menjadi berlian yang berkilau.

Yanweka

SketsaMarch 27, 2006 12:32 pm


Krisis Keuangan pada tahun 1998 berdampak pula pada pencak silat, satu persatu perguruan silat di tanah air menghilang ada juga yang tetap bertahan dengan kondisi seadanya, cukup beruntung bagi perguruan-perguruan yang bernaung dibawah badan organisasi ataupun lembaga Swadaya Masyarakatan.

Krisis ekonomi memang telah berlalu, meninggalkan kepahitan yang mendalam namun juga meninggalkan pengalaman bermanfaat untuk ketegaran dan kemandirian. Tidak sedikit perguruan pencak silat yang tetap bertahan hingga detik ini, bukan karena ada bantuan dari lembaga lain namun karena ada kemauan yang keras dan kretifitas pengelola perguruan tersebut.

Secara umum saat ini perguruan-perguruan pencak silat dapat dibagi menjadi beberapa golongan, antara lain adalah Pencak silat yang bernaung dibawah bendera organisasi besar, contohnya Pencak silat Pagar Nusa, silat Asad, silat Tapak suci, cukup beruntung perguruan-perguruan ini memiliki induk organisasi yang mewadahinya, sehingga sumber daya manusia cukup tersedia dan memberikan dukungan kepada perguruan yang ada. Perguruan-perguruan tersebut ternyata juga memiliki professional sebagai perguruan yang modern dalam proses pengembangan mengikuti induk organisasinya masing-masing. Disisi lain perguruan dengan induk organisasi yang besar tercatat pula pencak silat modern yang berdiri sendiri contohnya Merpati Putih, Perisai Diri, setia Hati dan lain sebagainya, hingga saat ini perguruan-perguruan tersebut memiliki organisasi yang modern hingga semi modern, tentunya dilihat dari pengelolaan perguran tersebut.

Lalu bagiamana dengan pencak silat Tradisional yang ada saat ini, tidak sedikit perguruan-perguruan dengan pengelolaan yang tradisional ini menghilang ataupun ada namun tiada, istilahnya ada nama tapi tidak ada organisasinya. Perguruan-perguruan seperti ini banyak terdapat di pelosok-pelosok desa. Dengan pengelolaan organisasinya sangat sederhana. Tidak ada organisasi yang memanyungi mereka, mereka hidup mandiri dengan dua pilihan antara, terus berkembang dengan keterbatasan-keterbatasannya atau terkubur dalam ketertinggalannya.

Kita mulai berfikir, siapakah yang bertanggung jawab dengan usaha pelestarian seni beladiri ini terutama silat tradisional, jawabnnya adalah kita bersama, jawaban yangsangat idealis namun tidak terbukti apa-apa. Kita masih sibuk dengan fanatisme terhadap perguruannya masing-masing, padahal pemerataan pengetahuan dan pengalaman berorganisasi perlu dibagikan kepada sesama anak bangsa, terutama melalui pencak silat. Seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan dalam mensinergikan saling berbagi ilmu dalam berorganisasi dan tentunya bukan ingin menjadi pahlawan kesiangan dalam semangat berbagi ini, kita dapat menggunakan jalur-jalur yang sesuai, misalnya saja melalui lembaga IPSI yang saat ini pun masih kekurangan Sumber Daya Manusia.

Berbicara mengenai fanatisme pesilat terhadap perguruannya sudah tidak perlu diragukan lagi, sifat fanatisme ini juga merupakan modal yang sangat baik dalam menumbuhkan rasa percaya diri berlatih dan berprestasi di dalam mempelajari Ilmu beladiri, namun fanatisme yang berlebih juga bisa merugikan, karena akan timbul persaingan yang kurang sehat menyebabkan kepedulian kita terhadap pencak silat pun berubah menjadi kepentingan perguruan semata. Memang tidak mudah melepaskan atribut perguruan dimana kita berada, namun atribut ini cukuplah diletakkan dihati, bukan tertanam di dalam ego, karena pamrih dan keraguan-raguanlah yang akan timbul, dan menghialngkan rasa pengabdian, dan inilah yang pernah terjadi di dalam tubuh IPSI.

Karena kepentingan orang-orang tertentu terhadap perguruan yang telah membesarkannya, hingga dia lupa harus berbuat apa disaat berada di lembaga yang seharusnya mementingkan kepentingan pesilat dan perguruan lain yang seharusnya menjadi tanggungjwabnya. Jadi jangan heran seorang kakek yang telah puluhan tahun berkecimpung didalam seni beladiri ini enggan mendaftarkan perguruan silatnya di dalam IPSI.

Walupun perguruannya kecil namun pengabdiannya tidak perlu diragukan lagi. Memang masih terdapat beberapa permasalahan yang harus dipecahkan oleh IPSI, begitu berat tanggungjawab IPSI membuat lembaga pencak silat satu-satunya di Indonesia ini selalu mendaptkan kritikan dan juga tudingan yang tak manis.

Kerjasama IPSI dengan perguruan-perguruan silat di Tanah Airpun masih harus di asah – asuh agar semakin bergandengan erat dalam bekerjasama membangun pencak silat bersama. Peran pemuda dan mahasiswapun seharunya menjadi pelopor dalam membangun pradigma baru dalam pemikiran yang kritis dan kreatif, jangan sampai peran pesilat mahasiswa hanya berpaku pada penyelenggaraan kegiatan yang monoton.

Dan tidak sedikitpula dukungan kepada IPSI mulai membenih di tengah-tengah kerjakerasnya membuktikan lembaga ini sangat berperan dalam mengayomi perguruan silat di Indonesia. Wajah IPSI semakin hari semakin berseri, dalam upayanya memperkenalkan pencak silat sebagai olahraga yang perlu diperhitungkan dalam kegiatan olahraga ditanah air.

Tinggalah saatnya perguruan pencak silat di tanah air bersatu menjebatani kepentingannya dalam satu wadah yang sama, perbedaan yang ada bukanlah kendala, perbedaan logo dan alunan gendang pencak tidak akan memecah persatuan, bila dengan niat yang esa terdapat keutuhan dalam mencapai visi dalam sinergi bersama. Pencak silat dapat tumbuh dimana saja, sebagai salah satu akar budaya bangsa, pencak silatpun semakin hari semakin menjadi olahraga yang diperhitungkan oleh olahraga beladiri lainnya.

Walaupun dalam langkah-langkah kecil namun suatu hari kelak Pedepokan nasional pun akan berwarna-warni dengan berbagai seragam, logo, aliran hingga pemikiran, namun satu tujuan yaitu Pencak Silat. (Yanweka)

Sketsa 12:31 pm


Sebuah situs terkemuka di DKI Jakarta pernah menulisakan tentang “75 persen sekolah di DKI jakarta mengadakan kegiatan ektrakulikuler pencak silat” Tulisan ini sebenarnya cukup menarik sekali ditelaah, dan menjadi diskusi yang cukup penting bagi parapesilat, guru atau lembaga pendidikan untuk membantu memperkenalkan seni budaya bangsa ini kepada siswa didiknya.

Alangkah bahagianya bila memang angka 75 persen itu adalah valid, namun kalo hanya sekedar perkiraan yang datanya tak jelas maka laporan tersebut hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Oke dijakarta saja terdapat 200 lebih SMUN, 100 Lebih SMK, 300 Lebih SLTP, dan ratusan SD, belum lagi sekolah swasta, maka jumlahnya akan bertambah besar.

Sekarang bandingkan dengan kejuraan pencak silat Antar Sekolah yang belum lama ini berlangsung. Berapa sekolah yang ikut kejuraan anggap saja 50% yang ikut, 50% lainnya sedang sibuk belajar di sekolahnya masing-masing.

Nah dari perkiraan kasar tersebut sudah bisa dilihat berapa sesungguhnya silat benar-benar menjadi kegiatan ektrakulikuler di sekolah di DKI Jakarta.

Kejuraan Silat Antar SLTA se-jabotabek saja tidak terlalu banyak di ikuti oleh Sekolah-sekolah yang ada, anggap saja 30% pesertanya, namun kok hanya terdiri dari 20-25 Sekolah saja ya??? Aneh bukan. Setiap sekolah tersebut mengirimkan pesilatnya dari kelas A-E ( 5 orang atau lebih) dan 5 di kali 25. 125 atlit di pertandingkan untuk 3 hari kejuaraan dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam.

Jadi berapa dong persentase yang betul, karena kalau harus Tanya ke Pengda IPSI pasti mereka tidak punya datanya. Atau harus keliling sekolah-sekolah di DKI, wah bisa pegel linu dan buang-buang biaya. Jadi paling gampang begini aja, usul nih.

Sebentar lagi kan liburan sekolah, bagaimana kalo Liburan sekolah di ISI dengan acara Seni dan Budaya. IPSI bisa mengundang Siswa – siswa sekolah tersebut, untuk datang ke Padepokan Nasional Pencak Silat di TMII, jangan kuatir gedungnya megah kok, parkirnya juga luas, fasiltas Ibadahpun sangat mendukung disebelahnya ada Masjid AT-tin.

Nah, Anggap saja siswa-siswa itu main ke museum lah, di ajak keliling, melihat lihat padepokan sambil diberikan gambaran silat itu bukan karate atau kungfu, jadi mereka bisa membedakan terutama disaat nonton film mandarin mereka tidak mengatakan itu film silat. Loh ini kenyataan kok, lihat aja ibu-ibu yang sedang kondangan melihat pak Polisi yang berlatih karate dibilang latihan silat. Begitu pula dengan Pak Guru jangan sampai salah isi form kegiatan ektrakulikuler disekolahnya seharusnya beladiri lain, dia tulis silat. Padahal jurusnya beda.

Nah, selanjutnya, di Pedepokan siswa-siswa juga di ajak diskusi ringan sama bapak-bapak pengelola gedung padepokan, bahwa gedung ini adalah tempat pusat berlatih pesilat nasional maupun International, jadi bukan gedung tempat pernikahan apalagi buat hajatan partai politik.

Juga dijelaskan kepada siswa-siswa di DKI Jakarta agar tidak perlu takut lagi berkunjung ke Padepokan bahwa gedung ini tidak sunyi dan sepi apalagi angker. Nah, setelah makan siang dan sholat, siswa-siswa sekolah bisa melanjutkan liburannya menuju TMII Jakarta. Silat juga salah satu seni dan budaya sekaligus olahraga yang dipelajari loh, di kurikulum Pendidikan, coba aja cek pasti ada satu bab tentang pencak silat di mata pelajaran Olahraga.

Nah itu hanya usulan saja, semoga bermanfaat.

Salam
Yanweka

SketsaMarch 23, 2006 7:33 am


Rangkaian acara kegiatan Pencak Silat di Pertengahan tahun 2005, yaitu dengan terselenggaranya Jambore Pencak Silat Nasional dan Kejuaraan pencak Silat Antar mahasiswa tingkat Nasional belum lama ini, seolah membangkitkan semangat bagi komunitas pencak silat di Tanar Air, sebagai agenda Tahunan yang akan di selenggarakan oleh PB. IPSI.

Jambore Nasional Pencak Silat 2005
Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 28 Juli hingga 31 Juli 2005, yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta – Timur, merupakan acara yang cukup menarik disamping itu acara tersebut didukung oleh berbagai Pihak antara lain PB. IPSI, Persilat dan Perusahaan Swasta Nasional PANASONIC. Acara ini dibuka secara resmi oleh Bapak Prabowo Subiakto sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia. Di Ikuti setidaknya lebih 30 Lebih Pengda IPSI dari berbagai derah dan juga puluhan perguruan se Indonesia, Diharapkan dengan acara jambore Nasional Pencak Silat ini akan tergali kembali nilai seni dalam pencak silat yang merupakan salah satu Aspek yang terkandung dalam pencak silat.
Melihat acara yang begitu memikat hati para pengemar pencak silat yang hadir tentunya acara ini di harapkan menjadi agenda tahunan IPSI dalam perhatiannya menggali potensi pencak silat seni yang mengakar pada budaya bangsa yang beraneka ragam. Dan harapan kita bersama IPSI dapat membuka keterbukaan dan wawasan pesilat dan perguruan-perguruan pencak silat sebagai ujung tombak dalam mensosialisasikan pencak silat sebagai olahraga yang memiliki nilai hostori dan seni budaya yang digemari oleh masyarakat pada umumnya. Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh bapak Rachmat Gobel sebagai Ketua Harian PB. IPSI, dan sekali lagi kami dari silatindonesia.com dan segenap pecinta silat Indonesia mengharapkan agar acara ini menjadi acara tahunan yang dikemas lebih menarik dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Penganugrahan gelar ”Pendekar Utama” kepada Presiden RI
Berselang satu hari tepatnya pada tanggal 1 agustus acara besar pun diselenggarakan Oleh PB. IPSI di Padepokan Nasional pencak Silat Indonesia TMII Jakarta, Acara penganugrahan gelar ”Pendekar Utama” kepada Presiden RI, Bapak Susulo Bambang Yudhoyono, dihadiri oleh keluarga besar Pencak Silat Indonesia, dan tentunya acara ini memberikan angin segar kepada Dunia pencak Silat agar peran aktif pemerintah mendorong semangat masyarakat pencak silat untuk kembali memperkenalkan silat sebagai salah satu kebanggaan bangsa.

Kejuaraan Pencak Silat Antar mahasiswa tingkat Nasional
Acara yang tak kalah menariknya yaitu digelarnya acara kejuaraan pencak silat olahraga prestasi untuk tingkat nasional yang di ikuti oleh 47 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, acara ini di selenggarakan oleh Universita Trisakti jakarta dan PB. IPSI, berlangsung di Padepokan pencak silat TMII Jakarta, pada tanggal 8 – 13 Agustus 2005. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar dengan wawasan dan pengetahuan yang luas diharapkan kegiatan kejuaraan ini tidak hanya mencetak sang juara namun juga mencetak pesilat yang mampu memberikan wacana bagi perkembangan Pencak silat di Indonesia dan juga dunia, sebagai olahraga yang mampu bersaing dengan olahraga sejenis, peran mahasiswa dalam pencak silat sangat penting karena mahasiswa memiliki pemikiran yang kritis dan berorientasi global sehingga pencak silat menjadi satu kesatuan yang utuh dalam perkembanganya dengan memelihara aneka ragam bentuk dan cirikhas pencak silat yang ada di bumi nusantara ini.

Dalam Cara ini diselenggarakan juga berbagai bentuk kegiatan seperti Lomba Photogarfi dan sarasehan, Walupun belum di Ikuti oleh kalangan pengemar photografi secara umum namun kegiatan ini merupakan ide yang cukup menarik untuk di Publikasi agar pencak silat dapat diterima oleh berbagai komunitas lainnya. selain itu acara diskusi yang diberinama sarasehan ini di upayakan untuk menjebatani ide-ide dari kalangan pesilat maupun masyarakat pada umumnya, acara sarasehan ini menghasilan 3 butir kesepakatan antara lain :

1.Acara Kejuaraan Penca silat Antar mahasiswa tingkat nasional akan diselenggarakan satu tahun sekali yang di dukung langsung oleh PB. IPSI

2.Dibentuknya Paguyuban Pencak Silat Mahasiswa sebagai komunitas pencak silat.

3.Di Pilihnya Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sebagai penyelenggara Kegiatan Kejuaraan Pencak Silat Antar Mahasiswa pada tahun 2006.

Seluruh rangkaian Acara untuk tingkat nasional merupakan bukti keseriusan PB. IPSI terhadap Pencak Silat dilihat dari berbagai aspek yang dinimiliki pencak silat, sehingga potensi yang dimiliki oleh pencak silat sebagai olahraga yang universal dapat tergali lebih dalam sehingga peran mahasiswa sangat diharapkan untuk menggali apresiasi dalam olahraga ini. Dan sebagai juara umum pada kejuaraan ini adalah Universitas Negeri Jakarta, disusul oleh Universitas Trisaksi Jakarta. Kami dari silatindonesia.com mengucapkan selamat atas prestasi dan dedikasi rekan-rekan sekalian, semoga apa yang kalian cita-citakan tercapai.


Team Liputan :
-gappala network
-silatindonesia.com team
-milis silatbogor Indonesia
-gema aktifitas pecinta silat Indonesia

Sketsa 7:30 am

Ignatius Sunito
PENCAK SILAT MERAMBAH DUNIA
SETELAH ITU?

Kamis, 16 Desember 2004 pukul 12:54:2 WIB


   
Kejuaraan Dunia Pencak Silat ke-8 kini tengah berlangsung di Singapura (12-19 Desember) yang tentu
Indonesia juga ikut ambil bagian. Kita tidak menyoroti para pesilat Indonesia yang kini tengah berlaga, meskipun pertandingan baru dimulai sudah ada tiga pesilat kita langsung rontok di ronde pertama. Berarti harapan untuk menjadi juara umum juga kandas.

Berbicara tentang pencak silat, kenangan lama timbul kembali, karena bagaimanapun sebagai seorang wartawan, saya merasa ikut andil mempopulerkan cabang ini yang semula di cap sebagai “ilmu bela diri kampung” menggiring “masuk kota”. Artinya sebagai cabang olahraga yang bisa dipertandingkan setelah ekshibisi di PON
Surabaya 1969. Tentu saja sarana promosinya melalui tulisan di media cetak, yang waktu itu saya masih menjadi wartawan OR KOMPAS, bersama rekan wartawan lain yang tergabung dalam SIWO/PWI Jaya.

Sesudah PON Surabaya usai, PB IPSI bekerja sama dengan STO, Sekolah Tinggi Olahraga (berubah menjadi FPOK, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, bagian dari IKIP. Akhirnya Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta) mengerjakan PR besar secara serentak. Menyusun peraturan pertandingan sebagai syarat bahwa pencak silat itu bisa dipertandingkan, menyatukan dua organisasi pencak silat dalam tubuh IPSI sekaligus mempertemukan perguruan-perguruan silat. Yang intinya agar mereka mempunyai kesadaran, bahwa ilmu bela diri ini sudah masanya untuk membuka diri.

PR besar ini harus sudah selesai sebelum PON 1973/Jakarta, yang mana pencak silat sudah menjadi mata acara resmi sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Jalannya tidak gampang dan mulus, karena setiap pertandingan sebagai arena pemanasan selalu berakhir dengan kericuhan. Maklum setiap pesilat dari masing-masing perguruan mempunyai standar teknik sendiri-sendiri yang dianggap efektif. Maka, tak heran pula banyak perguruan pencak silat yang mengklaim diri sebagai cabang yang tak bisa dipertandingkan. Selain ada persyaratan mempunyai “tenaga dalam” juga katanya jika dipertandingkan bisa mengakibatkan kecelakaan fatal bagi lawannya.

Dengan segala liku likunya, akhirnya pencak silat menemukan orang kuat untuk mempersatukannya. Adalah Eddy Nalapraya di tahun 1978 yang waktu itu sebagai Komandan Skogar Kodam V Jaya, dan karir akhir sebagai wakil gubernur DKI Jaya. Dari tangan dia pencak silat mulai merambah ke wilayah ASEAN dan bahkan dunia. Tak heran Eddy terus menerus terpilih sebagai ketua umum PB IPSI sampai menjelang milenium ketiga, sebelum digantikan Prabowo Subianto.

Jujur saja tokoh pembaharu IPSI, sebenarnya, ya duet Eddy- Oyong Karmayudha(kini masih menjadi ketua I PB IPSI). Dan secara jujur pula, ketika pencak silat berhasil merambah dunia, justru kita sebagai negara asal malahan kehilangan nyali atau tidak mempunyai pesilat tangguh. Dominasi olahraga ini malahan pindah ke
Vietnam, negara di mana memperoleh kemajuannya justru dari para pelatih Indonesia.

Sebagai pembanding olahraga bela diri yang mendunia, dari Jepang seperti judo,karate, dua cabang ini terutama selain aikido, kendo, ju-jutsu, yang begitu meluas ke seluruh penjuru dunia. Dominasi Jepang atau hter fighteryang tetap tak tergoyahkan. Mau bukti? Simak saja di setiap Olimpiade (karate belum masuk Olimpiade) dan kejuaraan dunia, hampir semua medali emas disabet oleh ksatria-ksatria negeri Matahari Terbit itu.

Demikian juga dengan cabang bela diri dari Korea, taekwondo, yang juga sudah masuk Olimpiade, maka setiap kejuaraan internasional, dominasi Korea tetap tak tergoyahkan. Kuncinya? Ternyata ada di SDM, dan ini diakui secara jujur oleh Oyong Karmayudha kepada BOLA.

Saya pernah meliput kejuaraan dunia karate di
Tokyo 1977. Tim Inggeris, Italia, Australia, Brasil, Amerika Serikat, semuanya dilatih oleh anak-anak asuhan Prof. Masatoshi Nakayama. Demikian juga dengan tim Jepang yang nota bene diasuh oleh pelatih-pelatih yang berasal dari satu induk. Hasilnya, karateka Jepang masih tetap unggul. Kuncinya? Kata Nakayama waktu itu, adalah SDM karena semua teknik maupun sistem kepelatihan praktis sama atau sudah standar.

Ya, saya tidak heran waktu itu, kalau melihat reputasi SDM Jepang ini di bidang apa saja. Dan waktu itu pencak silat masih dalam periode untuk mengukukuhkan diri sebagai cabang olahraga yang layak dan pantas untuk dipertandingkan.

Kalau kuncinya sudah ketemu terletak di faktor SDM, maka imbasnya kemana-mana. Artinya yang mengalami bukan hanya di pencak silat saja, tetapi di semua bidang kehidupan di Tanah Air kita. Mau dimulai dari mana? Seperti kata pakar, mulailah terlebih dahulu dari sektor pendidikan sebagai proses humanisasi, manusia berperilaku manusiawi.

Masih ingat ketika enam tahun lalu ketika negara kita terlanda krisis multidemensi? Kata pakar pula, kita juga kehilangan satu generasi akibat kekurangan nutrisi. Padahal menurut penyelidikan generasi yang kekurangan gizi ini bisa berakibat menjadi manusia yang agresif dan bertingkah laku asosial, di awali sejak anak-anak yang sudah susah untuk mengendalikannya. (Pernah di muat di KOMPAS tetapi tanggalnya lupa?).

Nah, kalau pencak silat di tahun 1978 menemukan orang kuat seperti Eddy Nalapraya, yang praktis waktu itu negara kita lagi benci-bencinya dengan apa saja yang berbau Cina. Justru di Cina sendiri pada tahun yang sama terjadi semacam reformasi dan membuka diri, gaige kaifang, yang hasilnya, luar biasa kalau kita lihat kemajuan Cina saat ini. Negara kita mengalami masa reformasi 20 tahun kemudian, namun sampai enam tahun berjalan kita selalu kehilangan momen atau menyia-nyiakan waktu dengan pertikaian intern yang sangat menguras energi.

Perjalanan pencak silat untuk meniru jejak judo, taekwondo, dan karate agaknya masih terlalu panjang. Lagi-lagi kuncinya di SDM!

Ignatius Sunito

Sketsa 7:29 am

Riwayat Singkat Pencak Silat Cikalong

oleh: O’ong Maryono

Bermula dari nama desa Cikalong Kabupaten Cianjur pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya "Maempo Cikalong". Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.
Cikal bakal permainan maempo (maen pohok) ini diajarkan oleh keluarga bangsawan Cikalong yang bernama Rd.H.Ibrahim dilahirkan di Cikalong 1816 dan wafat 1906 dimakamkan didesa Majalaya Cikalong Cianjur.
Sebelum menunaikan ibadah haji beliau bernama Rd. Djajaperbata yang memiliki ciri-ciri, bertubuh pendek, berbadan lebar, kekar, tangannya lancip, keningnya tidak lebar, berwatak keras dan pemberani. Jika berlatih/menghadapi lawan selalu waspada dan lebih suka menggunakan teknik bertahan. Teknik serangan yang digunakan selalu diawali dengan hindaran lalu dilanjutkan serangan beruntun tangan dan kaki. Beliau tidak saja mahir bermain dengan tangan kosong, melainkan juga dengan senjata gobang menjadi favoritnya. Permainan maempo dalam hidupnya sudah menjadi darah daging yang sukar dipisahkan. Kehebatan dan kemahiran bermain maempo Rd.H.Ibrahim banyak diceriterakan oleh penduduk tempatan secara ketuktular, salah satu diantaranya:
Konon ketika Rd.H.Ibrahim mengikuti Dalem Prawiradiredja yang lebih dikenal sebagai Dalem Marhum (wafat 1912) pergi berburu menjangan di Kecamatan Palumbon, sekarang daerah Kecamatan Mande.
Tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan penduduk, memberitahukan ada seekor harimau besar di pinggir kali kecil yang sedang meraung.
Dalem Marhum bercanda sembari ngeledek; ucapnya dia bukan pendekar jikalau belum bisa mengalahkan harimau.
Mendengar ejekan Dalem Marhum, Rd.H.Ibrahim telinganya terasa terbakar, diambilnya gobang kesayangan "Salam Nunggal" yang gagangnya terbuat dari gading gajah.
Sembari berteriak aku buktikan ucapnya, beliau melangkah tenang dan meyakinkan pergi diantar penduduk ke lokasi harimau. Disaksikan banyak mata pertarungan dengan harimau ditepi kali berjalan dengan seru. Rd.H.Ibrahim mendekati, harimau merasa terdesak dan menerkam dengan buasnya. Sekali hindar dilanjutkan babatan gobang, mengenai pelipis harimau jatuh tersungkur mati ditempat. Beliau mengatakan ini pengalaman pertama dalam hidupnya, perkelaian yang mempertaruhkan hidup mati. Ucapan selamat sebagai pendekar dari Dalem Marhum penuh kekaguman, sedangkan masyarakat menceriterakan sebagai kejadian yang menakjubkan.
Keperkasaan, kesaktian sebagi pendekar Cikalong Rd.H.Ibrahim yang sampai kini melekat dihati masyarakat pencak silat di Jawa Barat. Keberhasilan diri menjadi pendekar besar yang tersohor berkat dorongan dan tempaan dari beberapa pendekar di Batavia.
Guru pertama adalah Rd.Ateng Alimudin (kakak misan) yang memperistri kakak perempuannya yaitu Nji Rd.Siti Hadijah.
Rd.Ateng Alimudin pendekar besar dari Kampung Baru Djatinegara Di Kampung Baru Rd.H.Ibrahim berlatih dasar-dasar pencak silat hingga menguasai seluruh jurus permainan Rd.Ateng Alimudin. Kecuali berlatih pencak silat beliau diajar berdagang kuda bekas milik kompeni untuk diperjualbelikan di Cianjur.
Dorongan hati untuk menguasai dan mau lebih tahu tentang pencak silat di sokong oleh kakak misannya.
Rd.Ateng Alimudin membawanya ke Kampung Karet, Tanah Abang dan memperkenalkan ke Abang Ma’rup. Permintaanya untuk mempelajari pencak silat di kabulkan, beliau dengan semangat dan tekun mempelajari permaian Abang Ma’rup. Dasar yang kuat memperpendek masa berguru untuk menguasai jurus-jurus yang diajarkan.
Kecerdasan dan ketangkasan menguasai berbagai jurus pencak silat yang baru diajarkan sangat menajubkan.(beliau mengangkat sebagai guru kedua)
Menurut keterangan ayahnya Rd.Radjadidiredja, Abang Ma’rup adalah pendekar tersohor di Batavia karena namanya yang tersohor banyak orang berdatangan dari udik ingin belajar pencak silat.
Ciri-cirinya berbadan pendek bulat kekar, permainan sangat licin sulit disentuh lawannya, jurus serangannya sering membuat lawan terpedaya.
Rd.H.Ibrahim yang bekerja sebagai pedagang kuda suatu hari membeli kuda Europa yang binal di Batavia, kuda yang baru dibeli harus diganti tapal baru, namun pande kuda tidak ada yang berani memasangnya. Menurut petunjuk beberapa orang, yang berani hanya Bang Madi di Kampung Gang Tengah.
Kuda binal itu dibawanya, Bang Madi menerima dengan senang hati atas bekerjaan yang diberikan. Dengan seribu pengalaman Abang Madi dengan tenang membuka tapal yang sudah usang dan menggantinya dengan yang baru. Ketika hendak memaku tapal tiba-tiba kuda binal itu menendang, dengan gerakan secepat kilat tendangan kaki kuda ditangkis lalu patah kaki kuda itu.
Kejadian itu terjadi didepan mata Rd.H.Ibrahim, beliau memandang peristiwa ini sangat menakjubkan.
Rd.H.Ibrahim memandangi posteur tubuh pendek dan lebar dengan perawakan muka yang sabar dan selalu merendahkan diri tak nampak sebagai pendekar pencak silat. Usut ke usut Bang Madi adalah pendekar pencak silat yang tangguh, atas seizinnya Rd.H.Ibrahim mengangkat Abang Madi sebagai gurunya yang ketiga.
Tawaran Rd.H.Ibrahim untuk memboyong Abang Madi ke Cikalong diterima, beliau mempelajari jurus-jurus permainan Abang Madi sampai mahir.
Mengikuti anjuran guru pertama dan ketiga agar Rd.H.Ibrahim menemuhi Abang Kari, pendekar tersohor yang tinggal di desa Benteng Tangerang.
Pertemuan Rd.H.Ibrahim dengan Abang Kari di Benteng diterima dengan tangan terbuka, saat itu diungkapkan niatnya untuk berguru pencak silat. Setelah tahu kedatangan Rd.H.Ibrahim untuk menuntut ilmu, Abang Kari memberi nasehat dan penjelasan tentang ilmu pencak silat bukan untuk ria, takabur atau menyakiti dan mencelakakan orang lain.
Pernyataan kesanggupan dan setia mengikuti aturan yang diberikan, Abang Kari menerima Rd.h.Ibrahim sebagai muridnya.
Diawali melakukan puasa di hari Kemis selama sehari suntuk, yang ditutup pada malam harinya. .
Bentuk upacara yang dilakukan, sesudah mandi bersih duduk bersila di atas kain kafan menghadap ke kiblat, satu sama lain saling berjabatan tangan berjanji. Rd.H.Ibrahim bersumpah setia siap menjalankan perintah dan menghindari larangan yang diajarkan oleh ajaran agama Islam dan gurunya.
Setelah usai upacara ritual, beliau mendapat pelajaran jurus permainan Abang Kari. Tepat usia 40 tahun Rd.H.Ibrahim dapat menyelesaikan ajaran pencak silat Abang Kari, namun yang dirasakan dirinya belum cukup sebagai pendekar. Keinginnya untuk menuntut ilmu kepada pendekar-pendekar besar tak pernah kunjung padam. Rasa hormat kepada gurunya tetap menjadi sandaran hidupnya dan menyatakan Abang Kari yang berpawakan tinggi besar dan dikeningnya terdapat urat yang besar, memiliki permainan serangan kaki dan tangan yang keras serta beruntun sebagai gurunya yang ke empat. Usai pengembaran menuntut ilmu pencak silat di Batavia, beliau kembali ke Cikalong.
Disela-sela waktu luangnya Rd.H. Ibrahim memadukan seluruh permainan yang dikuasai dan mengajarkan kepandaiannya kepada keluarga terdekat, murid pertama yaitu Rd. Sirot Pasar Baru Cianjur dan Rd.H. Enoh De Hoofd Pengulu Cianjur. Pada saat itu ilmu pencak silat di Jawa Barat merupakan ilmu beladiri yang dirahasiakan dan tidak mudah didapat oleh kalangan masyarakat awam. Tidak aneh rasanya jika pencak silat Cikalong hanya berkembang dikalangan keluarga bangsawan di Cikalong.
Murid-murid Rd.H.Ibrahim semakin hari semakin banyak dan mahir memainkannya. Pencak silat tumbuh terus berkembang bagaikan barang hidup seperti bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan tempat dan waktu sesuai tuntutan zamannya. Pencak silat yang dipelajari dari keempat gurunya di Batavia dan Tangerang pada dasarnya tidak mengenal musik pengiring. Didaerah Cianjur yang terkenal sebagai pusat kebudayaan Sunda, beralkuturasi dengan kebudayaan setempat.
Bentuk olahan baru pencak silat Cikalong disajikan sebagai ibing penca yang diiringi musik khusus gendang penca. Ibing penca Cikalong semakin hari banyak digemari dan terus meningkat peminatnya. Dihari perayaan hitanan atau pesta tertentu ibing penca diperagakan sebagai tontonan untuk umum. Semakin banyak penduduk mengenal keindahan gerakan permainan ibing penca yang berasal dari Cikalong dan penduduk daerah lain memberikan sebutan " Penca Cikalong". Berkat pengembangan dan perluasan perkebunan di zaman kolonial Belanda ke Jawa Timur, aliran pencak silat Cikalong terbawa oleh pekerja perkebunan yang kebayakan berasal dari daerah Jawa Barat .
Sumber:
- Aliran-aliran pokok Pencak silat Jawa Barat
Dept.P&K Jakarta 1877-1978
- Sadjarah Kaboedajan Pentja
Pengharepan Bandoeng 1938
- Holidin sesepuh Panglipur
Bandung 16 Februari 1994
- Gending Raspuzi pengamat pencak silat
Bandung 12 Februari 1995
- Rd.Adang Djohar sesepuk pencak silat Cikalong
Sukabumi 7 Februari 1994

Sketsa 7:28 am

Sejarah Perkembangan Pencak Silat

(Versi PB IPSI, diambil dari www.persilat.net)

Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur. Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas. Sejarah perkembangan Pencak Silat secara selintas dapat dibagi dalam kurun waktu :

a. Perkembangan sebelum zaman penjajahan Belanda
b. Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda
c. Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang
d. Perkembangan pada zaman kemerdekaan

a. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda

Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur. Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.

Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia.

 

b. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda

Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belandan tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.

c. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang

Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda. Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.

Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.

d. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan

Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.

Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.

Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.

Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.

Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut :

"Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian

Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya. Sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa. Sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan/ keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais.

Pencak Silat sebagai seni

Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.

Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi.

Pencak Silat sebagai olahraga umum

Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok.

Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi

a. Olahraga rekreasi
b. Olahraga prestasi
c. Olahraga massal

Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah :

1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat
2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan
3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah
4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah
5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah
6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa.

Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).

Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)

Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga & pertandingan (Championships) telah dirintis sejak tahun 1969, dengan melalui percobaan-percobaan pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta telah dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus merupakan Kejuaraan tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan kesadaran para pendekar dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus menerus maka sekarang ini program pertandingan olahraga merupakan bagian yang penting dalam pembinaan Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru.

Program pembinaan Pencak Silat

Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran.

Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan.

Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi :

1. Jalur pembinaan seni
2. Jalur pembinaan olahraga
3. Jalur pembinaan bela diri
4. Jalur pembinaan kebatinan

Keempat jalur ini diolah, dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila.

Makna Lambang IPSI

Warna Dasar Putih : berarti suci dalam amal perbuatan

Warna Merah : berarti berani dalam kebenaran

Warna Hijau : berarti ketenangan dalam menghadapi segala sesuatu yang menuju kemantapan
jiwa, karena selalu beriman dan bertauhid kepada Tuhan Yang Maha Esar
secara hikmat dan syahdu

Warna Kuning : berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin
dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa

Bentuk Perisai Segi Lima : berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan
membentuk manusia Pancasila sejati

Sayap Garuda berwarna

Kuning berototkan merah : berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan
dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal
berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti
IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan berssatu membangun negara

Untaian lima lingkaran : melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri
kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan,
persaudaraan dan kegotong royongan

Ikatan pita berwarna merah

Putih : bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak
Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa
berbangsa, berbahasa dan bertanah air
Indonesia.

Gambar tangan putih

di dalam Dasar hijau : menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang ketahanan
nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian
nasional serta berbadan sehat, kuat dan tegap

 

Sketsa 7:26 am

Seni Silat

 


UNTUK apa belajar silat? Pertanyaan ini sering diajukan, dan jawabannya ternyata bisa banyak. Sekarang ini, dunia persilatan adalah bagian dari olahraga. Pencak silat pun, sebagai olahraga, dipertandingkan di berbagai kejuaraan, termasuk di arena PON yang kini digelar di Surabaya. Penonton bisa berjubel, silat dilihat sebagai adu ketangkasan.

 

Dalam hal ketangkasan itu, silat digolongkan sebagai ilmu bela diri, seperting kungfu, taekondow dan semacamnya. Namun, ada pula silat yang tujuan utamanya bukan bela diri, tetapi semata-mata untuk kesehatan. Biasanya silat jenis ini lebih mengacu kepada ilmu pernapasan dan membangkitkan tenaga dalam yang memang sudah ada di tubuh setiap manusia. Kelompok-kelompok seperti Satria Nusantara, Merpati Putih, bisa digolongkan dalam jenis ini. Tentu juga termasuk yang lebih "halus" seperti Wai Thang Kung, Tai Chi dan sebagainya.

 

Silat sebagai seni, mulai surut, tapi tetap dipelihara di berbagai daerah. Di Jawa Barat dan Sumatera Barat, seni persilatan ini tetap berkembang yang merupakan perpaduan antara ketangkasan dan gerak-gerak yang estetik. Juga diiringi tetabuhan atau seruling tergantung ciri khas daerah masing-masing. Bahkan seni silat Minang, Sumatra Barat, sering sekali menjadi jiwa dari pementasan kesenian. Teater Populer pimpinan Teguh Karya berkali-kali menyuguhkan lakon yang gerak dan jiwanya mengambil dari silat Minang.

 

Di kalangan artis, belajar silat juga berkaitan dengan kesenian. Bintang film atau sinetron belajar silat karena tuntutan cerita. Bahkan dalam teater rakyat Jawa, para pemain wajib belajar silat, karena banyak sekali ada adegan perkelahian. Di kalangan seniman tradisional ini malah sering muncul ejekan, yang menguasai ilmu silat paling bagus selalu mendapat peran yang kalah. Ya, karena dia memerankan tokoh yang jungkir balik, jatuh bangun, pontang-panting, sementara yang ilmu silatnya kurang malah mendapatkan peran "sakti" karena hanya mengangkat tangan seolah-olah mengeluarkan jurus maut. Teater rakyat Bali seperti drama gong memang belum memanfaatkan teknik-teknik silat ini untuk adegan perkelahian, karena perkelahian tokoh-tokohnya menggunakan keris dan lebih menekankan pada cerita dibandingkan visualisasi perkelahian.

 

***

DI masa kanak-kanak saya, silat sebagai sebuah seni pertunjukan, amat digemari. Kalau ada upacara, orang menanggap grup silat. Saya masih bisa mengenangnya, bagaimana pesilat itu memperagakan jurus-jurus yang diiringi pukulan kendang. Kalau pemain dalam grup (sekehe) semua sudah tampil, penonton yang ingin menunjukkan kebolehannya dipersilakan tampil. Maka, banyak sekali pesilat amatir yang masih mengenakan kain sarung tampil ke pentas, dengan melipatkan kain sarungnya di pinggang. Sorak-sorai penonton menyambutnya tergantung seberapa piawai pesilat amatir itu. Saya suka memainkan kendang untuk silat itu: plak dung dung, plak dung dung, plak dung deng… nadanya begitu-begitu saja, tetapi iramanya bisa naik turun.

 

Menjelang dan sesudah peristiwa G 30 S/PKI, saya ikut bergabung dalam kelompok Gastam (Gabungan Seni Silat Tameng Marhaenis). Keikut-sertaan saya ini lebih sebagai aksi-aksian saja, merasa gagah karena memakai baret di kepala. Di situ, tabuh yang mengiringi silat sudah lebih banyak, sudah memakai kempur, cenceng dan sebagainya. Iringan tabuh pun merespon setiap gerak, misalnya, kalau memukul atau menendang suara cenceng dikeraskan. Jadi, semacam ada angsel kalau di dunia tari. Silat di masa itu masih didominasi seni, belum berupa ketangkasan sebagaimana sekarang ini. Karena itu silat sering diselipkan di antara kesenian janger yang sarat berbau politik. (Kalau saya pikirkan sekarang, sebenarnya bukan politik, tetapi maki-makian.)

 

Saya tidak tahu perkembangan seni silat setelah itu. Wabah drama gong yang menggantikan wabah janger, tidak menyertakan seni silat, baik sebagai selingan maupun sebagai bagian dari cerita. Seperti yang sudah saya katakan tadi, perkelahian di dalam adegan drama gong lebih banyak menampilkan simbolisasi.

 

Jika kini silat sebagai sebuah seni kembali dimunculkan di Bali, bahkan dipentaskan di Pesta Kesenian Bali, saya sebenarnya ingin tahu: apakah silat itu menjadi bentuk pemanggungan atau jiwa sebuah cerita yang dimainkan, atau silat semata-mata sebagai suguhan gerak seni tanpa ada repertoar apapun? Jika silat ini menjadi jiwa pementasan, sebagaimana yang dilakukan Teater Populer dalam beberapa drama-dramanya, maka ini jelas langkah bagus. Masalahnya adalah apakah para seniman di Bali sudah menginventarisasi gerak-gerak silat khas Bali yang bisa diolah untuk seni pentas? Kalau gerakan itu sifatnya umum dan hanya berupa ketangkasan belaka, maka silat sebagai seni itu tak akan ada artinya. Sama saja dengan melihat perlombaan pencak silat yang diiringi tabuh. Atau kalau jurus-jurus silat sebagai gerakan seni itu dicontek dari daerah lain, maka pementasan itu hanya bisa disebut sebagai selingan saja. Seniman topeng Wayan Diya kalau mementaskan topeng bondres, pasti menyelipkan adegan silat Minang yang tabuhnya sudah diciptakan khusus oleh Kompyang Raka. Dari sini saja sebenarnya saya khawatir, jangan-jangan silat sebagai seni tidak mengakar di Bali dan tidak ada kekhasannya. Karena yang saya saksikan di masa kanak-kanak dan saat jaya-jayanya Gastam itu, iringan tabuh hanya tempelan saja. Jurus-jurus silat rasanya sangat umum. Tapi mungkin saya salah dan tidak mengamati secara rinci.

 

Putu Setia
24 Juni 2000

Sketsa 7:08 am

Tari & Ibing Pencak Silat
Salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam pencak silat adalah aspek seni pencak silat, yang lebih populer di Jawa Barat dengan sebutan ibing namun tidak sedikit orang menyebut aspek seni pencak silat ini dengan istilah tari pencak silat padahal dalam kenyataan yang sebenarnya bahwa istilah ibing pencak silat dengan istilah tari pencak silat mempunyai pengertian yang berbeda. Ibing Pencak Silat mempunyai pengertian yang lebih mendalam dibanding tari pencak silat, karena dalam ibing pencak silat selain ada unsur keindahan gerak di dalamnya, mempunyai tujuan akhir menjatuhkan lawan, sehingga dalam ibing pencak silat unsur beladirinya lebih menonjol. Sedangkan istilah tari lebih ditekankan pada unsur keindahannya saja tidak ada unsur beladirinya, seperti tari-tarian yang sering kita lihat. Oleh karena itu rasanya kurang tepat apabila pencak silat disebut sebagai tari pencak silat, sebab pada umumnya para ahli pencak silat di Jawa Barat menyebut seni pencak silat dengan sebutan ibing pencak silat bukan tari pencak silat.

Pada mulanya pencak silat lahir karena kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan diri, dapat dipahami kalau aspek yang menonjol adalah aspek beladiri. Namun pada kurun waktu tertentu, disebabkan situasi politik pada saat itu (zaman penjajahan Belanda) yang tidak begitu respek terhadap beladiri pencak silat, maka pengembangan pencak silat beralih dari aspek beladiri ke aspek seni. Hal ini merupakan salah satu taktik dari para pendekar pencak silat untuk tetap melestarikan pencak silat. Padahal jika diperhatikan lebih seksama, justru dalam seni pencak silat tersembunyi kaidah beladiri pencak silat.

Di Jawa Barat, di samping dikenal dengan aspek beladirinya, yang lebih dikenal dengan sebutan buah atau eusi, dikenal pula aspek pencak silat seni yang disebut kembang atau ibing pencak silat, sehingga apabila mendengar kata “pencak” yang terbayang oleh masyarakat Jawa Barat bukanlah suatu sistem pembelaan diri, melainkan suatu seni ibing pencak silat yang diambil dari gerak serangan dan belaan.

Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam ibing pencak silat, antara lain:

Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas (terutama dalam pertandingan seni pencak silat), tetapi apabila dalam kaulan (spontanitas) pada acara hajatan unsur kekayaan geraknya tidak begitu diperhatikan pesilat yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Gendang Pencak adalah merupakan sejenis alat musik tradisional yang biasa dipakai mengiringi pesilat yang tampil di atas panggung atau pentas dan alat tradisional ini sering digunakan dalam pertandingan pencak silat seni dan acara khitanan atau acara kesenian daerah lainnya, daerah – daerah yang masih mempergunakan peralatan tradisional ini di antaranya, daerah Bogor, Sukabumi, Bandung, Cianjur, Garut, dan banyak lagi daerah lainnya di Jawa Barat.

Seperangkat peralatan pengiring seni pencak silat atau lebih dikenal dengan nama kendang pencak silat adalah:

  1. Gendang induk, (Kendang indung)


  2. Gendang anak, (kendang anak)


  3. Kulanter (kendang kecil)


  4. Terompet (tarompet)


  5. Goong (Gong)


Gendang pencak dimainkan oleh 4 (empat) orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya sehingga gendang pencak silat mempunyai nilai seni kedaerahan yang khas dan selain itu mempunyai nilai keindahan, etika, dan estetika. Adanya keserasian dari irama gendang, terompet, dan gong yang mengeluarkan bunyi tersendiri membuat orang yang mendengarnya menjadi kagum apalagi apabila irama ini sambil dihayati, dinikmati, dan dirasakan akan memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Ada beberapa kelebihan dari penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia mampu mengiringi gerakan-gerakan lain yang tidak dirancang sebelumnya atau gerakan beladiri lain diluar pencak silat yang ingin mencoba diiringi oleh tabuhan kendang pencak silat, biasanya penabuh mempergunakan irama padungdung karena irama ini dianggapnya lebih mudah bila dibandingkan dengan irama paleredan atau tepak dua. Apabila pesilat yang sedang tampil di atas pentas tiba-tiba melakukan kesalahan maka iramanya tidak akan cocok dengan gerakan yang ditampilkan, dan yang melihat akan menilai bahwa penampilan pesilat tadi belum paham dengan irama gendang pencak yang mengiringinya. Oleh karena itu, seorang pesilat seni sebelum tampil di atas pentas perlu latihan lebih dahulu dengan tekun dan serius serta harus peka terhadap gerakan – gerakan yang akan ditampilkannya di atas pentas serta diwajibkan memperhatikan patokan-patokan irama ibing pencak silat yang sudah ada, misalnya ibing paleredan, tepak dua, tepak tiga, padungdung, dan lain sebagainya.

Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang sangat penting dimiliki oleh seorang pesilat karena penjiwaan gerak ini sulit dipelajari dan dipahami pesilat di samping memerlukan waktu yang cukup lama. Penjiwaan gerak merupakan salah satu unsur yang mempunyai nilai seni beladiri tinggi dalam aspek pencak silat seni. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

Di samping unsur-unsur tersebut di atas, ada faktor pendukung lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari aspek seni pencak silat, antara lain pakaian pencak silat, pakaian pencak silat di Jawa Barat umumnya disebut pangsi, pangsi dipakai oleh seorang pesilat pada waktu pentas (tampil) dalam pertandingan, latihan, ujian kenaikan tingkat, dan pada upacara-upacara tertentu. Tokoh-tokoh pencak silat biasanya memakai pangsi warna hitam dengan ikat kepala barangbang semplak atau peci, ikat pinggang kulit atau kain sarung, namun sekarang pakaian pencak silat sudah dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk warna pakaian tidak selalu hitam-hitam, begitupun dalam sabuk (ikat pinggang) disesuaikan dengan tingkatan masing-masing, terutama dalam pertandingan pencak silat seni.

Peraga: Agus Irwan Suherman S.H (HPS. Panglipur)

Sketsa 7:06 am


Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.

Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang selalu melaksanakan tatacara dengan membaca do’a – do’a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan. Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.

Dari pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan, perkawinan, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk dipertontonkan yang disebut “DOGONG”.

Dogong adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding.

Permainan benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit lawan (piting). Sedangkan pada adu munding tidak menyerat – menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang. Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja (bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal mempunyai keberanian dan hobi.

Apabila kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang (semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya diberhentikan karena lawannya sudah menyerah. Namun, karena tidak ada yang memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang). Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi, sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang).

Sedangkan mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh tukang benjang, antara lain :

  1. Nyentok (hentak) kepala


  2. Ngabeulit


a. Beulit Gigir,

b. Beulit Hareup,

c. Beulit Bakung,

  1. Dobelson


  2. Engkel Mati


  3. Angkat


  4. Dengkekan


  5. Hapsay(ngagebot), dan lain-lain


Dalam pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.

Walaupun benjang dikatakan sepi tetapi ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya:

  1. Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk


  2. Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat


  3. Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk


  4. Ii, tahun 1978 – 1979 asal Desa Cinunuk


  5. Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk


  6. Asep Burhanudin tahun 2000 asal Desa Cinunuk


  7. Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak


Ada pengalaman menarik dari Adang Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan, Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu “jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami kekalahan”.

Benjang dan Gulat

Penulis sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu pertandingan dibatas hanya 6 menit, diperbolehkan mengambil kaki lawan seperti gulat gaya bebas, dalam gulat sebelum bertanding diadakan penimbangan badan lebih dahulu, dipertandingkan dengan berat badan yang sama, dan lain sebagainya, gulat sudah mempunyai induk organisasi PGSI, dan dilaksanakan di atas matras.

Sedangkan dalam pertandingan benjang pelaksanaannya masih bebas, tidak ada penimbangan badan lebih dahulu asal pemain benjang (Tukang Benjang) berani menghadapi lawan yang masuk ke arena pertandingan tidak dihiraukan apakah ia badannya besar, tinggi, pendek, gemuk, dan sebagainya harus dihadapi, bahkan sebaliknya apabila ia tidak berani menghadapi lawan yang lebih besar, silakan keluar dari arena pertandingan atau mengundurkan diri (kalau zaman dahulu arena pertandingannya di atas tanah yang kering dan keras), dalam benjang tidak diperbolehkan mengambil kaki lawan tetapi boleh kaki main sama kaki dan tidak ada batas waktu sepanjang pemain benjang itu fisiknya masih kuat dan mampu mengalahkan lawan ia akan tetap berdiri di dalam arena pertandingan.

Persamaannya baik dalam benjang maupun gulat dilarang atau tidak diperbolehkan, mencolok mata, mencekik, menggigit, dan lain sebagainya yang dianggap membahayakan salah seorang pemain benjang atau gulat.

Seni beladiri tradisional Indonesia yang satu ini ternyata sampai sekarang masih ada dan tetap eksis, hanya gaungnya tidak seperti seni beladiri lain misalnya pencak silat atau beladiri asing yang saat ini semakin menjamur di mana-mana. Walaupun seni beladiri benjang belum mempunyai induk organisasi yang menjadi wadah penampungan para tokoh-tokoh benjang, tetapi ternyata sampai saat ini benjang masih hidup dan disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat yang mencintai jenis kesenian tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini di samping kesenian lain di Indonesia. (AIS)

Sumber : Padepokan Benjang Makalangan

Sekretariat : Cibolerang, Cinunuk

                        Kabupaten Bandung - Jawa Barat